- Apa Itu HIV/AIDS?
- Gejala HIV/AIDS Berdasarkan Stadium Infeksi Stadium 1: Fase Awal atau Fase Akut (Acute HIV Infection) Stadium 2: Fase Laten atau Fase Tanpa Gejala Stadium 3: Gejala Sedang (Symptomatic HIV) Stadium 4: AIDS (Stadium Lanjut Infeksi HIV)
- Penanganan HIV/AIDS Penanganan Medis 1. Terapi Antiretroviral (ARV) 2. Pengobatan Infeksi Oportunistik 3. Pemeriksaan Kesehatan Rutin 4. Pola hidup sehat 5. Dukungan Psikososial 6. Pencegahan Penularan
HIV/AIDS masih menjadi isu kesehatan global yang kerap diselimuti stigma dan kesalahpahaman. Banyak orang belum benar-benar memahami perbedaan antara HIV dan AIDS, bagaimana virus ini menyebar, serta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penularannya.
Kurangnya pengetahuan inilah yang sering memicu ketakutan, diskriminasi, bahkan keterlambatan deteksi dan pengobatan. Padahal, dengan informasi yang tepat, HIV dapat dicegah dan dikendalikan, sementara orang dengan HIV bisa menjalani hidup yang sehat dan produktif melalui pengobatan antiretroviral (ARV).
Memahami fakta dasar seputar HIV/AIDS menjadi kunci penting untuk melindungi diri sendiri, orang terdekat, serta membangun lingkungan yang lebih inklusif dan bebas stigma. Berikut hal-hal yang harus diketahui tentang HIV/AIDS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu HIV/AIDS?
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) pada Buku Saku Kesehatan Tahun 2024-2025, HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Virus ini menyerang sistem imunitas atau kekebalan tubuh sehingga tubuh rentan terserang berbagai penyakit. AIDS atau singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrom merupakan sekumpulan gejala yang menyerang tubuh hingga melemahkan dan menghancurkan sistem sel tubuh.
Pada kasusnya, seseorang yang terserang HIV tidak langsung menderita AIDS. Butuh waktu sekitar 5-10 tahun sebelum virus HIV merusak seluruh sel darah putih (leukosit) imunitas hingga menyebabkan AIDS.
Dilansir dari laman resmi World Health Organization (WHO), pada akhir tahun 2024, diperkirakan terdapat sekitar 40,8 juta orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,4 juta merupakan anak-anak usia 0-14 tahun, sementara 39,4 juta lainnya adalah orang dewasa berusia 15 tahun ke atas.
Mengutip penjelasan UNICEF, berbagai survei biologis dan perilaku menunjukkan bahwa kelompok remaja memiliki risiko lebih tinggi terpapar HIV, terutama yang berkaitan dengan penggunaan jarum suntik tidak steril, perempuan pekerja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, serta individu transgender.
Mirisnya, hingga kini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV sepenuhnya. Namun, tersedia pengobatan antiretroviral (ARV) yang dapat menekan jumlah virus dalam tubuh hingga tidak terdeteksi, sehingga orang dengan HIV tetap dapat hidup sehat, produktif, dan menurunkan risiko penularan.
Selain itu, berbagai upaya pencegahan seperti edukasi, penggunaan kondom, program jarum suntik steril, tes rutin, serta terapi pencegahan (PrEP dan PEP) menjadi kunci penting dalam memutus rantai penularan HIV.
Gejala HIV/AIDS Berdasarkan Stadium Infeksi
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4 yang berperan penting dalam melawan infeksi. Jika tidak ditangani dengan pengobatan yang tepat, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS.
AIDS merupakan tahap paling lanjut ketika daya tahan tubuh sudah sangat lemah dan tidak mampu lagi melawan penyakit dengan efektif. Banyak orang masih keliru mengira bahwa HIV selalu menimbulkan gejala yang parah sejak awal.
Padahal, pada fase-fase tertentu, penderita bisa terlihat sehat dan tidak merasakan keluhan apapun, meski virus tetap aktif berkembang di dalam tubuh dan berpotensi menular ke orang lain. Karena itu, memahami gejala HIV/AIDS berdasarkan stadium infeksinya menjadi langkah penting dalam upaya deteksi dini.
Stadium 1: Fase Awal atau Fase Akut (Acute HIV Infection)
Stadium ini biasanya terjadi dalam waktu 2-4 minggu setelah seseorang terinfeksi HIV. Pada fase ini, virus berkembang sangat cepat dalam tubuh dan sistem imun mulai merespons kehadiran virus tersebut. Gejalanya sering kali mirip flu biasa, sehingga kerap tidak disadari sebagai tanda infeksi HIV. Beberapa gejalanya berikut.
- Demam
- Sakit tenggorokan
- Sakit kepala
- Nyeri otot dan sendi
- Ruam pada kulit
- Pembengkakan kelenjar getah bening
- Lemas atau mudah lelah
- Diare ringan
Karena gejalanya tidak spesifik, sebagian besar penderita tidak menyadari bahwa dirinya telah tertular HIV pada fase ini. Padahal, justru di tahap inilah tingkat penularan HIV tergolong sangat tinggi.
Stadium 2: Fase Laten atau Fase Tanpa Gejala
Setelah melewati fase awal, penderita HIV memasuki fase laten (asimtomatik). Pada tahap ini, penderita bisa tidak mengalami gejala apapun selama bertahun-tahun, meskipun virus tetap ada dan perlahan merusak sistem kekebalan tubuh. Sebagian orang mungkin mengalami gejala berikut.
- Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap
- Infeksi ringan berulang seperti sariawan atau flu
- Kelelahan yang tidak wajar
- Penurunan berat badan perlahan
Fase ini dapat berlangsung cukup lama, berkisar antara 5 hingga 10 tahun atau lebih, tergantung pada kondisi tubuh, dan apakah penderita menjalani terapi antiretroviral (ARV) atau tidak.
Stadium 3: Gejala Sedang (Symptomatic HIV)
Pada stadium ini, kerusakan sistem imun semakin nyata. Tubuh mulai kesulitan melawan infeksi yang seharusnya ringan. Kualitas hidup penderita mulai menurun karena sering sakit dan tubuh mudah lelah. Penderita mulai mengalami gejala yang lebih berat dan berlangsung lama, seperti berikut.
- Penurunan berat badan signifikan (lebih dari 10%)
- Diare kronis atau berlangsung lebih dari satu bulan
- Demam berkepanjangan
- Keringat malam berlebihan
- Infeksi jamur di mulut (kandidiasis oral)
- Batuk kronis
- Tuberkulosis (TBC) paru
Stadium 4: AIDS (Stadium Lanjut Infeksi HIV)
Stadium 4 merupakan fase paling berat. Pada tahap ini, jumlah sel CD4 biasanya sudah sangat rendah (kurang dari 200/Β΅L), menandakan sistem kekebalan tubuh hampir tidak mampu lagi melawan penyakit. Penderita AIDS sangat rentan infeksi oportunistik dan beberapa jenis kanker.
Pada tahap ini, kondisi penderita bisa mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan penanganan medis yang intensif. Gejala yang muncul sangat berat di antaranya sebagai berikut.
- Penurunan berat badan ekstrem
- Demam tinggi dan berkepanjangan
- Diare kronis
- Batuk parah dan sesak napas
- Infeksi jamur parah di mulut, tenggorokan, atau organ lain
- Muncul bercak ungu atau cokelat di kulit (Sarkoma Kaposi)
- Gangguan saraf, seperti kebingungan, sulit konsentrasi, dan gangguan koordinasi
- Infeksi berat seperti meningitis, pneumonia, dan toksoplasmosis
Penanganan HIV/AIDS
Peringatan Hari HIV/AIDS sedunia menjadi salah satu langkah dalam menumbuhkan kesadaran kesehatan pada virus yang menyerang imunitas tubuh. Pencegahan sederhana bisa dilakukan detikers sebagai individu dan kelompok. Berikut langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk penanganan HIV/AIDS.
- Setia kepada pasangan dan hindari kontak seksual dengan lawan jenis jika bukan suami istri.
- Hindari penggunaan narkoba jarum suntik dan berbagai jenis lain sebagainya.
- Edukasi HIV kepada sesama dan sedini mungkin mulai dari penularan, pencegahan, dan pengobatan.
- Melakukan vaksin HPV sedini mungkin di klinik atau fasilitas kesehatan yang menyediakan. Vaksin bisa didapatkan gratis apabila belum berumur 17 tahun dengan menyerahkan data data pada fasilitas kesehatan.
Penanganan Medis
Hingga saat ini, HIV memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, dengan penanganan medis yang tepat, orang dengan HIV (ODHIV) dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang hampir sama seperti orang tanpa HIV. Penanganan utama HIV/AIDS terdiri dari beberapa langkah penting berikut.
1. Terapi Antiretroviral (ARV)
Penanganan utama HIV adalah melalui terapi antiretroviral (ARV). Obat ini bekerja dengan cara menekan jumlah virus (viral load) di dalam darah, memperlambat kerusakan sistem imun, mencegah perkembangan HIV menjadi AIDS, dan menurunkan risiko penularan ke orang lain.
ARV harus diminum setiap hari, seumur hidup, dan tidak boleh terputus. Jika diminum teratur, jumlah virus bisa turun hingga tidak terdeteksi (undetectable). Dalam kondisi ini, risiko penularan HIV dapat ditekan hingga hampir nol.
2. Pengobatan Infeksi Oportunistik
Pada penderita yang sudah masuk stadium lanjut (AIDS), penanganan juga difokuskan pada pengobatan berbagai infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis (TBC), pneumonia, infeksi jamur berat, meningitis, dan toksoplasmosis. Pengobatan infeksi ini dilakukan bersamaan dengan pemberian ARV, disesuaikan kondisi pasien.
3. Pemeriksaan Kesehatan Rutin
Orang dengan HIV dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin, antara lain pemeriksaan jumlah CD4, pemeriksaan viral load, tes fungsi hati dan ginjal, serta deteksi dini infeksi lain (TBC, hepatitis, sifilis). Tujuannya adalah memantau perkembangan penyakit dan menyesuaikan pengobatan bila diperlukan.
4. Pola hidup sehat
Selain obat-obatan, pola hidup sehat berperan besar dalam menjaga daya tahan tubuh penderita HIV. Beberapa hal yang dianjurkan antara lain mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan istirahat yang cukup.
Kemudian olahraga ringan secara rutin, menghindari rokok, alkohol, dan NAPZA, mengelola stres dengan baik, serta pola hidup sehat membantu memperkuat sistem imun dan meningkatkan kualitas hidup.
5. Dukungan Psikososial
Penanganan HIV/AIDS tidak hanya soal fisik, tetapi mental dan sosial. Banyak penderita mengalami stres, depresi, dan stigma dari sekitar. Dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, komunitas pendamping ODHIV, konselor atau psikolog, sangat membantu penderita agar patuh berobat dan memiliki semangat hidup.
6. Pencegahan Penularan
Bagi pengidap HIV, pencegahan penularan menjadi bagian penting dari penanganan, antara lain menggunakan kondom saat berhubungan seks, tidak berbagi jarum suntik, rutin minum ARV, program pencegahan penularan ibu ke anak (PMTCT) bagi ibu hamil. Dengan langkah tepat, risiko penularan dapat ditekan secara signifikan.
Nah, itulah informasi lengkap tentang HIV/AIDS, detikers! Yuk saling menjaga, baik untuk diri sendiri dan sesama.
Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(auh/irb)











































