Warga Eks Dolly Tagih Janji Soal Pendampingan dan Pemberdayaan

Warga Eks Dolly Tagih Janji Soal Pendampingan dan Pemberdayaan

Aprilia Devi - detikJatim
Rabu, 26 Nov 2025 15:45 WIB
Warga Eks Dolly Tagih Janji Soal Pendampingan dan Pemberdayaan
Kawasan Dolly Surabaya (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Surabaya -

Lebih dari satu dekade setelah penutupan Lokalisasi Dolly, masih ada warga yang menagih janji pemerintah. Praktik prostitusi terselubung disebut masih terus beroperasi, sementara janji pendampingan dan pemberdayaan pascapenutupan mulai diabaikan.

Ketua RT 5 RW 12 Kelurahan Putat Jaya M Ridwan Tanro (44) mengatakan, sejak Dolly resmi ditutup pada 2014, perhatian pemerintah justru perlahan menghilang.

Ia bercerita, saat itu dirinya hanya meminta satu hal untuk warga, terutama anak-anak yang putus sekolah karena dulu fokus mengejar uang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kebanyakan anak-anak sini kan gak sekolah dulu. Orang sini kebanyakan melek moto itu mesti oleh duit. Waktu itu, jadi dia tuh ngabaikan pendidikan," kata Ridwan, Rabu (26/11/2025).

Melihat kondisi itu, Ridwan sempat mengusulkan agar warga dikumpulkan untuk mengikuti pendidikan kejar paket.

ADVERTISEMENT

"Saya kumpulkan ijazah terakhir semuanya supaya dibuatkan kejar paket A, B, C. Tapi belum terlaksana, sampai sekarang anak-anaknya sudah besar. Bahkan sudah pada menikah," tuturnya.

Ridwan menyebut warga merasa dibiarkan menghadapi persoalan baru tanpa pendampingan berkelanjutan. Termasuk soal pemberdayaan UMKM. Menurutnya saat ini banyak UMKM yang tak mampu bertahan di kawasan eks lokalisasi Dolly.

Pasar Burung misalnya, sudah lama mangkrak sebab tak semua warga memahami alur bisnis di bidang tersebut.

"Dulu warga semangat untuk bisnis, tapi ternyata karena bukan bidangnya jadi susah, sekarang ya mangkrak ini tutup semua," tuturnya.

Kini, ada wacana bahwa bangunan eks pasar burung akan digunakan untuk gedung serbaguna.

Sementara salah satu sentra UMKM pembuatan sandal di sana, kini produksinya tak hanya digarap oleh warga eks lokalisasi Dolly. Namun banyak warga dari luar wilayah.

"UMKM sandal itu sekarang bukan warga Dolly lagi yang mengerjakan, banyak yang dari luar. Warga sekitar kadang-kadang aja diminta bantu, kalau ada kunjungan-kunjungan misalnya," tuturnya.

Paket wisata kunjungan kawasan eks lokalisasi Dolly juga sudah tak berjalan. Menurutnya, permasalahan itu sebab minimnya pendampingan.

Kini, dengan masih maraknya prostitusi terselubung, Ridwan pun mengaku akan terus bersuara. Ia memprotes lewat spanduk dengan tulisan 'Dolly riwayatmu kini, 2014 hilangnya lokalisasi yang ditutup dengan paksa. 2025 tumbuhnya hotel melati yang dikembangbiakkan'.

Harapannya, ada tindakan tegas yang dilakukan pemerintah untuk melakukan penertiban terhadap dugaan prostitusi terselubung.

"Makanya di sini saya kejar terus dan sampaikan bahwa di sini itu lho masih ada (prostitusinya), itu sik onok (masih ada)," tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, praktik prostitusi terselubung diduga masih terjadi di kawasan eks Lokalisasi Dolly, Surabaya. Modusnya tak lagi memakai wisma seperti masa lalu, melainkan rumah-rumah kos di sekitar Putat Jaya.

"Kalau praktik secara terbuka, kayaknya nggak ada lah. Jadi dia itu terselubung, dia memakai label kos-kosan," ujar Ridwan.

Ia memetakan ada sekitar 25-30 rumah kos yang diduga menjadi tempat prostitusi, masing-masing berisi 10-15 kamar di kawasannya. Mayoritas penghuninya bukan warga lokal, melainkan pendatang dari luar Surabaya.

Aktivitas mencurigakan terlihat dari keluar-masuknya tamu di jam-jam tak lazim, bahkan pada pagi atau siang hari. Fenomena ini disebut mulai muncul lagi sejak 2018 dan semakin marak pada 2021 ketika para muncikari merasa situasi kembali aman.

Halaman 2 dari 2
(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads