Banjir Kecaman Bikin Gus Elham Minta Maaf gegara Video Cium Anak

Round Up

Banjir Kecaman Bikin Gus Elham Minta Maaf gegara Video Cium Anak

Tim detikJatim - detikJatim
Kamis, 13 Nov 2025 08:03 WIB
Banjir Kecaman Bikin Gus Elham Minta Maaf gegara Video Cium Anak
Foto: Tangkapan Layar
Kediri -

Pendakwah asal Kediri, Gus Elham Yahya Al-Maliki, akhirnya buka suara buntut video dirinya mencium anak-anak di atas panggung saat pengajian. Ia pun menyampaikan permohonan maaf karena telah membuat kegaduhan

Dalam pernyataannya yang dilihat detikJatim di akun Instagram @fuadbakh, Gus Elham menyebut insiden tersebut sebagai kekhilafan pribadi dan menegaskan komitmennya untuk memperbaiki diri.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kediri, 11 November 2025 jam 14.00 WIB. Dengan penuh kerendahan hati, saya Muhammad Elham Yahya Al-Maliki saya pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas beredarnya video yang menimbulkan kegaduhan. Saya mengakui bahwa hal tersebut merupakan kekhilafan dan kesalahan saya pribadi," ujar Gus Elham dalam video permintaan maaf yang dilihat detikJatim, Rabu (12/11/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia berjanji menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran berharga agar tidak terulang kembali di masa depan.

"Saya berkomitmen untuk memperbaiki dan menjadikan peristiwa ini menjadi pelajaran berharga agar tidak mengulangi hal serupa di masa mendatang dan saya juga bertekad untuk menyampaikan dakwah dengan cara yang lebih bijak sesuai dengan norma agama, etika dan budaya bangsa, serta menjunjung akhlakul karimah," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Gus Elham juga menjelaskan bahwa video yang kini viral merupakan video lama yang telah dihapus dari seluruh media resminya. "Perlu saya sampaikan bahwa video yang beredar merupakan video lama dan telah kami hapus dari seluruh media resmi kami," katanya.

Terkait anak-anak dalam video tersebut, Gus Elham menegaskan mereka berada di bawah pengawasan orang tua masing-masing dan rutin mengikuti pengajiannya.

"Dan perlu saya sampaikan bahwa anak dalam video viral tersebut adalah mereka yang dalam pengawasan orang tuanya yang mengikuti rutinan pengajian saya," ujar dia.

Meski begitu, Gus Elham tetap menyampaikan penyesalan atas kegaduhan yang terjadi.

"Namun demikian, saya tetap memohon maaf atas hal tersebut. Demikian permohonan maaf dan klarifikasi ini saya sampaikan. Semoga Allah Taala mengampuni kekhilafan kita semua dan senantiasa membimbing langkah kita di jalan kebaikan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," tutupnya.

Banjir Kecaman

Ulah Gus Elham yang mencium anak di panggung saat berdakwah ini diketahui mengundang banyak kecaman, tak hanya dari masyarakat, tetapi juga Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Nasaruddin bahkan terang-terangan menyebut tindakan itu bertentangan dengan moralitas dan harus menjadi musuh bersama.

"Bukan hanya saya sebagai Menteri Agama, saya person juga ya. Semua tindakan-tindakan yang bertentangan moralitas itu adalah harus menjadi musuh bersama," ujar Nasaruddin Umar dilansir dari detikNews.

Nasaruddin mengatakan setiap orang harus menghindari tindakan yang tidak dibenarkan. Namun dia berharap masyarakat tidak menyamakan perbuatan Gus Elham itu juga terjadi di lembaga atau institusi keagamaan lain.

"Jadi saya kira berpikir secara matang adalah segala sesuatu yang kasus itu diselesaikan secara kasuistik, ya kan," kata dia.

Dia mengatakan Kementerian Agama berupaya menciptakan ruang aman dan nyaman bagi siapa pun. Kemenag juga telah membentuk tim pembinaan pondok pesantren untuk mencegah segala bentuk penyimpangan di lembaga pendidikan agama tersebut.

"Pondok Pesantren ke depan itu harus menjadi contoh untuk sebuah masyarakat yang ideal, ya kan," kata dia.

Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii menyatakan perilaku Gus Elham yang mencium anak-anak perempuan merupakan tindakan yang tidak pantas. Apalagi, katanya, hal itu dilakukan oleh seseorang yang dianggap pemuka agama.

"Kita sepakat dengan publik, bahwa itu tidak pantas!" kata Romo Syafii.

Romo Syafii menjelaskan Kemenag telah memiliki pedoman tegas mengenai lingkungan ramah anak di madrasah dan pesantren melalui surat keputusan Dirjen Pendidikan Islam. Dia mengatakan hak anak harus dilindungi.

"Ada surat keputusan dari Dirjen Pendis tentang madrasah dan pesantren ramah anak yang intinya agar anak-anak madrasah, anak-anak pesantren mendapatkan pemenuhan haknya sebagai peserta didik dan jauh dari tindak kekerasan yang tidak seharusnya mereka terima," ujarnya.

Kecaman keras juga datang dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ketua PBNU Alissa Wahid mengatakan perilaku Gus Elham bersifat merendahkan martabat manusia, terlebih terhadap anak-anak, merupakan pelanggaran serius terhadap nilai kemanusiaan dan prinsip dakwah bil hikmah yang menjadi ciri dakwah Islam rahmatan lil 'alamin.

"Itu menodai nilai-nilai dakwah sendiri yang seharusnya memberikan teladan melalui sikap dan lakunya kepada umat," kata Alissa seperti dilansir dari detikNews.

Alissa menegaskan Nahdlatul Ulama mewarisi amanah besar untuk membangun kemaslahatan umat dengan berpegang pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah. Oleh karena itu, NU menolak keras segala praktik yang mencederai Maqashid Syariah (tujuan penerapan syariat), terutama perlindungan terhadap kehormatan manusia (hifdz al-'irdh), tanpa memandang usia, status, maupun kedudukan sosial.

"Prinsip maqashid syariah inilah yang harus dipegang dan menjadi pertimbangan utama para pendakwah," ujarnya.

PBNU, menurut Alissa, juga menekankan penghormatan tinggi kepada para kiai-nyai didasarkan pada keulamaan, kearifan sebagai sosok pengasuh, serta peranannya sebagai pengayom jamaah. Penghormatan ini adalah amanah dan seyogianya setiap tokoh agama wajib menjaga diri dan berperilaku sebagai uswatun hasanah bagi umat.

"Sebab, sejatinya kiai-nyai, pendakwah secara umum juga merupakan guru yang sudah sepantasnya digugu dan ditiru," katanya.

Ia mengatakan PBNU mengajak seluruh elemen jamaah dan jam'iyah Nahdlatul Ulama untuk menciptakan ruang yang aman dan bermartabat bagi semua insan, terutama bagi mereka yang lemah seperti anak-anak, santri, dan perempuan.

Sebagai bentuk tanggung jawab kelembagaan, PBNU telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan di Pesantren (SAKA). Tim ini dibentuk secara aktif bekerja menanggulangi praktik kekerasan, pelecehan, dan bentuk penyimpangan lainnya di lingkungan pesantren NU.

"Pembentukan SAKA merupakan wujud nyata komitmen PBNU dalam menjaga marwah pesantren serta memastikan lingkungan dakwah dan pendidikan Islam tetap berlandaskan kasih sayang, akhlak mulia, dan perlindungan terhadap kemanusiaan, serta maqashid syariah," kata dia.

Alissa menegaskan kembali tidak ada ruang bagi kekerasan, pelecehan, dan penyalahgunaan otoritas dalam dakwah Islam. "Dakwah harus menumbuhkan kemuliaan, bukan menistakan martabat manusia," katanya.




(dpe/abq)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads