Aksi massa yang berujung anarkis pada Sabtu (30/8) malam dibayar mahal oleh Kota Surabaya. Dua cagar budaya luluh lantak dilahap api. Awalnya massa merangsek masuk dan membakar gedung negara Grahadi. Dengan cepat api menghanguskan Gedung pemerintah yang telah dibangun sejak 1700an itu.
Bangunan cagar budaya lainnya yang juga hancur adalah Polsek Tegalsari. Bangunan kantor polsis itu telah eksis sejak zaman Hindia Belanda, dan menjadi saksi perkembangan Kota Surabaya dengan segala dinamikanya.
Simak rekam jejak polsek Tegalsari, cagar budaya yang tinggal kenangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Awal Pembentukan Kepolisian di Surabaya
Pegiat sejarah Begandring Surabaya Achmad Zaki Yamani menjelaskan, sejarah Polsek Tegalsari tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1914. Pada masa itu, dikeluarkan sebuah keputusan negara yang menetapkan dasar-dasar reorganisasi kepolisian umum. Kebijakan ini menjadi fondasi bagi sistem kepolisian di Hindia Belanda, termasuk di tiga kota utama kala itu, salah satunya Surabaya.
"Pada awal penerapannya, wilayah Surabaya hanya memiliki tiga Seksi Polisi. Namun, seiring perkembangan kota, jumlahnya bertambah menjadi lima dan akhirnya menjadi enam Seksi," Jelasnya pada detikjatim Minggu (30/8).
Enam seksi itu mencakup Darmo, Kaliasin, Bubutan, Sidodadi, Rajawali dan Tanjung Perak .
Polsek Tegalsari di Era Kolonial
Polsek Tegalsari sejak awal difungsikan sebagai kantor polisi yang berada di bawah Hoofdbureau van Politie Soerabaia atau Biro Besar Kepolisian Surabaya. Gedung yang dibangun pada tahun 1920-an ini dikenal sebagai Politie Bureau 2e Sectie Kaliasin Soerabaja atau Seksi 2 Kaliasin.
Pada masa itu, Seksi 2 Kaliasin membawahi beberapa pos polisi, antara lain di Kayoon, Keputran, Kedunganyar, dan Sawahan.
"Seksi 2 Kaliasin berasrama di daerah Kepanjen Surabaya, melihat letaknya maka dapat disimpulkan bahwa memiliki fungsi sebagai pengawas keamanan di wilayah pusat kota Surabaya hingga saat ini," Ungkapnya.
Polsek Tegalsari sebagai Cagar Budaya
Nilai sejarah yang kuat membuat Pemerintah Kota Surabaya menetapkan Polsek Tegalsari sebagai bangunan Cagar Budaya. Penetapan ini tertuang dalam surat keputusan bernomor 188.45/501/436.1.2/2013 tertanggal 11 Desember 2013.
Penetapan tersebut menjadi bentuk penghargaan atas peran penting Polsek Tegalsari dalam perjalanan kota. Sebagai salah satu ikon pusat Surabaya, gedung ini tidak hanya memiliki nilai arsitektur kolonial, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang sejarah keamanan dan ketertiban di kota pelabuhan terbesar di Jawa Timur.
Respon Pegiat Sejarah
Namun, sejarah panjang Polsek Tegalsari harus ternoda. Pada dini hari Sabtu, 24 Agustus 2025, bangunan bersejarah ini mengalami kebakaran hebat akibat aksi massa. Peristiwa tersebut menyebabkan kerusakan parah pada gedung, sehingga nilai cagar budaya yang melekat padanya melemah, bahkan nyaris hilang.
Kebakaran ini menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Surabaya. Sebuah bangunan bersejarah yang selama ratusan tahun menjadi saksi perkembangan kota, kini tinggal kenangan.
"Kembali kita saksikan bersama-sama satu bangunan Cagar Budaya yang menjadi salah satu icon Kota Surabaya telah pupus," imbuhnya.
(ihc/ihc)