Demo mahasiswa di Polrestabes Surabaya yang menuntut rekannya dibebaskan berakhir dengan bentrokan. Polisi menghujani mahasiswa dengan meriam air atau water cannon dan gas air mata.
Pantauan detikJatim di lokasi bentrokan bermula saat massa mahasiswa mengamankan seseorang yang diduga melakukan pencurian. Dari sini, mereka mahasiswa kemudian saling lempar dengan massa berkaus hitam.
Aksi ini kemudian memicu bentrokan lebih dengan aparat yang telah siaga. Ini karena tuntutan mahasiswa untuk membebaskan rekannya tak kunjung dipenuhi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas kemudian melepaskan tembakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan. Massa mahasiswa tampak kocar-kacir.Sejumlah petugas banyak yang menangkap mahasiswa dan dari massa berkaus hitam.
Sejumlah massa yang mengetahui temannya ditangkapi polisi berpakaian sipil atau intel kemudian mengejar untuk mencegah penangkapan. Aksi pun semakin tak terkendali keos pun pecah.
Meski demikian, massa mahasiswa tampak masih bertahan. Dari atas mobil komando, koordinator aksi tampak menyerukan massa mahasiswa untuk tetap tenang.
"Satu komando satu tujuan kawan-kawan," ujar koordinator aksi melalui pengeras suara, Sabtu (30/8/2025).
![]() |
Akibat bentrok ini, massa mahasiswa tercerai-berai dipukul mundur hingga Kota Lama. Sementara petugas berpakaian sipil tampak terus menangkapi mahasiswa maupun massa lain.
Sebelumnya, ratusan mahasiswa dari berbagai kampus menggeruduk Mapolrestabes Surabaya. Mereka hendak menjemput rekan mereka dibebaskan yang ditangkap saat demo 29 Agustus di Gedung Grahadi yang berakhir ricuh hingga tengah malam.
Pantauan di lokasi, mereka yang mendatangi kantor polisi di Jalan Sikatan itu terdiri dari mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Sekretaris Jenderal BEM ITS, Marcel Pasaribu mengatakan ada sebanyak 40 orang lebih yang ditangkap polisi saat demo 29 Agustus. Mereka tak hanya dari mahasiswa namun juga warga biasa.
Menurut Marcel, dari kampusnya ada dua mahasiswa yang turut ditangkap, namun keduanya sudah dibebaskan. Meski demikian, pihaknya tetap meminta polisi membebaskan sekitar 40 orang lainnya yang kini masih ditahan.
"Masih ada massa lainnya di Unair dan lainnya, beberapa kampus masih ada di dalam. Sementara kami bersama," kata Marcel, Sabtu (30/8/2025).
(abq/abq)