Derita Warga yang Masih Tinggal di Tengah Pembongkaran Kampung Jalan A Yani

Derita Warga yang Masih Tinggal di Tengah Pembongkaran Kampung Jalan A Yani

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 29 Agu 2025 18:15 WIB
Warga yang masih tinggal di tengah pembongkaran kampung Jalan Ahmad Yani.
Warga yang masih tinggal di tengah pembongkaran kampung Jalan Ahmad Yani. Foto: Esti Widiyana/detikJatim
Surabaya -

Sebagian rumah di kampung tengah Jalan Ahmad Yani telah dibongkar. Bangunan yang telah dirobohkan meninggalkan debu dan mengganggu lima warga di 11 rumah tersisa.

Ketika detikJatim kembali mendatangi kampung tengah Jalan Ahmad Yani, debu bertebaran, sepi, suara klakson, dan kendaraan terdengar riuh. Namun, tidak ada aktivitas bego atau pekerja yang membongkar bangunan rumah.

Terlihat bakul melijo atau pedagang sayur dan sembako keliling berhenti di salah satu rumah yang juga berjualan kebutuhan rumah. Hanya ada empat orang di sana, satu orang belanja, dua sedang nongkrong, dan satu lagi menjaga toko.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu warga kampung tengah Jalan Ahmad Yani, Tuminah (57) masih tinggal di sana. Ia berharap kasasi segera selesai dan ia mendapat uang ganti rugi.

Tuminah merasa kampungnya sudah sangat sepi, hanya dia, empat warga, dan beberapa penghuni kos yang tinggal. Ia merasa tak nyaman karena debu pembongkaran kampung beterbangan dan sudah mengganggu.

ADVERTISEMENT

"Belum ganti rugi, tinggal 11 rumah sama lapangan, nunggu kasasi. Maunya orang-orang cepat pindah, lihat di sini sudah bledug (debu). Bukan keganggu lagi, wong debu, apalagi ada bego kemarin," kata Tuminah kepada detikJatim, Jumat (29/8/2025).

Rumah yang dia tinggali mendapatkan ganti rugi hampir Rp 2 miliar. Tuminah ingin segera selesai dan pindah, karena sudah banyak yang meninggalkan rumahnya.

Ia mengatakan, saat ini masih tersisa 11 rumah. Dari 11 rumah, lima orang masih aktif tinggal dan empat rumah dihuni warga kos.

Warga asli Kanjuruhan, Malang ini tak tahu sampai kapan dia tinggal dan akan meninggalkan rumahnya. Pastinya, ia ingin kasasi segera selesai dan uang ganti rugi turun, sehingga bisa mencari tempat tinggal baru.

"Sekarang nggak ada (rumah baru), nyari kontrakan nggak punya uang, cari rumah belum dapat, uangnya juga belum keluar. Barang-barang sebagian tak bawa ke desa belum punya uang buat ongkos. Mudah-mudahan cepat selesai, cepat dapat rumah. Sekecil apapun kalau dapat rumah disyukuri," jelasnya.

Selama 25 tahun tinggal di kampung tengah Jalan Ahmad Yani, ia merasa betah. Meski hidup berdampingan dengan kebisingan kota dan polusi.

Biasanya, jika di kampung banyak dilewati pedagang makanan atau lainnya, yang berkeliling. Tapi, kini, kampung tersebut sepi, hanya ada bakul melijo di siang hari.

"Cuma nggak ada yang masuk (penjual), orang jualan nggak berani nyeberang. Susah kalau anak sekolah nyeberang. Bising wes pasti, apalagi Sabtu dan Minggu," ceritanya.




(irb/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads