- Jadwal Gerhana Bulan Total September 2025
- Apa Itu Blood Moon?
- Proses Terjadinya Gerhana Bulan Total 1. Fase Penumbra Dimulai 2. Awal Gerhana Sebagian 3. Puncak Gerhana Bulan Total 4. Akhir Gerhana Total 5. Akhir Gerhana Sebagian 6. Akhir Fase Penumbra
- Jenis-jenis Gerhana Bulan 1. Gerhana Bulan Total 2. Gerhana Bulan Sebagian (Parsial) 3. Gerhana Bulan Penumbra
Langit Indonesia akan dihiasi fenomena langka pada September 2025, ketika Gerhana Bulan total atau Blood Moon dapat disaksikan dari seluruh wilayah tanah air. Peristiwa ini akan berlangsung mulai malam hingga dini hari.
Tentu fenomena alam ini menjadi kesempatan istimewa bagi masyarakat untuk menyaksikan Bulan berubah warna menjadi merah tembaga tanpa bantuan alat khusus. Simak jadwal hingga proses terjadinya Gerhana Bulan Total September 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadwal Gerhana Bulan Total September 2025
Tahun 2025 menjadi istimewa bagi pencinta langit malam. Pertunjukan alam yang lebih spesial akan terjadi pada 7 September 2025. Gerhana Bulan Total bisa diamati dari seluruh wilayah Indonesia mulai pukul 22.28 WIB hingga 03.55 WIB keesokan harinya.
Menurut Pusat Riset Antariksa BRIN, fenomena ini akan menampilkan Bulan yang tampak merah gelap saat totalitas berlangsung, sehingga menjadi momen langka yang sayang untuk dilewatkan. Adapun rincian waktu Gerhana Bulan total 7-8 September 2025 adalah sebagai berikut.
- 22.28 WIB: Gerhana penumbra mulai terlihat
- 23.35 WIB: Gerhana sebagian mulai terjadi
- 01.11 WIB: Gerhana total dimulai, Bulan tampak merah gelap
- 02.33 WIB: Gerhana total berakhir
- 03.39 WIB: Gerhana sebagian berakhir
- 03.55 WIB: Gerhana penumbra selesai
Sebelumnya, Gerhana Bulan total sudah terjadi pada 14 Maret 2025, dan dapat diamati dari wilayah Pasifik, Amerika, Eropa Barat, hingga Afrika Barat. Saat itu, Bulan tampak kemerahan ketika memasuki bayangan Bumi, memberikan pemandangan langit yang memukau.
Dengan kehadiran dua Gerhana Bulan total, langit malam 2025 benar-benar menghadirkan atraksi alam yang jarang terjadi. Pastikan menyiapkan waktu, lokasi pandang yang cerah, dan mungkin kamera, agar fenomena langit yang memukau ini dapat dinikmati secara maksimal.
Apa Itu Blood Moon?
Dilansir Space, Blood Moon adalah sebutan populer untuk Gerhana Bulan total. Fenomena ini terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga sinar Matahari tidak bisa langsung mencapai permukaan Bulan.
Meski begitu, Bulan tidak menjadi gelap total. Cahaya Matahari tetap "menyelinap" melewati atmosfer Bumi, lalu dibelokkan dan sampai ke Bulan dalam bentuk cahaya merah-oranye. Warna kemerahan ini muncul karena atmosfer Bumi bertindak seperti penyaring alami.
Cahaya biru dan hijau tersebar ke segala arah, sedangkan cahaya merah justru menembus dan diteruskan ke permukaan Bulan. Proses inilah yang disebut Rayleigh scattering - fenomena yang sama yang membuat langit tampak biru di siang hari dan matahari tampak jingga saat terbit atau terbenam.
Menariknya, warna Blood Moon bisa berbeda-beda setiap kali terjadi. Jika atmosfer penuh debu vulkanik, asap, atau polusi, Bulan akan tampak merah tua atau bahkan gelap. Sebaliknya, jika atmosfer bersih, warna merahnya akan tampak lebih terang dan lembut.
Gerhana Bulan sebenarnya bukan peristiwa langka, karena dalam setahun rata-rata terjadi dua hingga empat kali. Namun, tidak semuanya berupa gerhana total. Hanya sekitar seperempat dari seluruh Gerhana Bulan yang benar-benar menampilkan fase total, atau yang dikenal dengan sebutan Blood Moon.
Fenomena ini hanya muncul ketika Bumi, Bulan, dan Matahari berada dalam posisi sejajar sempurna, ditambah dengan kondisi orbit Bulan yang mendukung. Itulah sebabnya tidak setiap Bulan purnama akan berubah menjadi Blood Moon.
Menariknya, Gerhana Bulan Total dapat disaksikan dari mana saja di permukaan Bumi yang sedang berada di sisi malam, asalkan cuaca cerah dan tidak terhalang awan maupun polusi cahaya.
Proses Terjadinya Gerhana Bulan Total
Gerhana Bulan Total merupakan peristiwa alam yang terjadi saat Bulan melewati bayangan inti (umbra) Bumi secara penuh. Selama fenomena ini berlangsung, Bulan tampak meredup bahkan berubah warna menjadi merah tembaga, sehingga disebut Blood Moon. Untuk mencapai puncak gerhana total, ada enam fase yang dilalui.
1. Fase Penumbra Dimulai
Proses ini dimulai saat Bulan memasuki penumbra, yaitu bayangan luar Bumi. Pada tahap ini, permukaan Bulan mulai terlihat lebih suram dari biasanya. Namun, perubahan ini sangat halus, sehingga sering luput dari pengamatan mata telanjang. Menurut BMKG dan BRIN, fase ini menandai dimulainya proses Gerhana Bulan.
2. Awal Gerhana Sebagian
Selanjutnya, Bulan mulai memasuki umbra, yaitu bayangan inti Bumi yang lebih gelap. Pada fase ini, gerhana mulai tampak jelas karena sebagian Bulan terlihat seperti "digigit" bayangan hitam. Fenomena ini bisa dilihat langsung tanpa alat bantu dan merupakan awal dari Gerhana Bulan sebagian (parsial).
3. Puncak Gerhana Bulan Total
Saat seluruh permukaan Bulan tertutup umbra, Gerhana Bulan total mencapai puncaknya. Bulan akan tampak merah gelap atau kemerahan, karena cahaya Matahari dibelokkan atmosfer Bumi dan hanya cahaya merah yang sampai ke permukaan Bulan. Warna ini menciptakan efek visual yang sering disebut sebagai blood moon.
4. Akhir Gerhana Total
Setelah puncaknya, Bulan mulai keluar dari bayangan umbra. Warna merah perlahan menghilang, dan tampak kembali seperti "digigit" dari sisi sebaliknya. Fase ini menandai akhir dari gerhana total, namun proses gerhana sebagian masih berlangsung.
5. Akhir Gerhana Sebagian
Ketika Bulan sudah keluar sepenuhnya dari umbra, tetapi masih berada dalam penumbra, fase gerhana sebagian berakhir. Cahaya Bulan mulai terlihat normal kembali, meskipun mungkin masih tampak agak suram bagi pengamat yang teliti.
6. Akhir Fase Penumbra
Akhirnya, Bulan benar-benar keluar dari bayangan penumbra Bumi. Pada titik ini, seluruh permukaan Bulan kembali terang seperti biasa dan seluruh proses Gerhana Bulan pun selesai.
Saat gerhana berlangsung, konstelasi bintang di sekitarnya menjadi lebih mudah dikenali karena langit cenderung lebih gelap. Dalam beberapa kasus, planet seperti Jupiter dan Mars juga tampak bersinar terang di langit malam, menambah keindahan fenomena gerhana.
Jenis-jenis Gerhana Bulan
Gerhana Bulan adalah salah satu peristiwa alam yang sangat menarik untuk diamati. Fenomena ini terjadi ketika Bulan, Bumi, dan Matahari berada dalam satu garis lurus. Pada saat itu, Bumi berada di tengah-tengah dan bayangannya jatuh ke permukaan Bulan.
Akibatnya, Bulan menjadi redup, sebagian tertutup bayangan, atau bahkan tampak berwarna merah tua. Tapi, tidak semua Gerhana Bulan terlihat sama. Ada tiga jenis Gerhana Bulan, dan masing-masing punya ciri khasnya sendiri. Berikut jenis-jenis Gerhana Bulan dirangkum dari Kemdikbud.
1. Gerhana Bulan Total
Ini adalah jenis Gerhana Bulan yang paling dramatis dan paling mudah dilihat dengan mata telanjang. Gerhana Bulan total terjadi ketika seluruh bagian Bulan masuk ke bayangan inti Bumi, yang disebut umbra. Pada saat ini, Bulan akan tampak gelap, dan sering kali berubah warna menjadi merah tua.
Warna ini muncul karena cahaya matahari yang masih menembus atmosfer Bumi dan dibiaskan ke arah Bulan, mirip seperti saat kita melihat langit berwarna jingga saat matahari terbenam. Gerhana Bulan total hanya bisa terjadi jika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sempurna.
2. Gerhana Bulan Sebagian (Parsial)
Gerhana Bulan sebagian terjadi ketika hanya sebagian permukaan Bulan yang tertutup bayangan inti Bumi, yang disebut umbra. Sementara itu, bagian lainnya masih berada di area penumbra, yaitu bayangan luar Bumi yang masih menerima sebagian cahaya Matahari.
Karena itulah, saat gerhana ini terjadi, bisa melihat Bulan seolah-olah "tergigit" di satu sisi-sebagian terang, sebagian gelap. Berbeda dengan gerhana total yang membuat Bulan tampak merah menyala, gerhana sebagian tidak selalu menampilkan warna merah.
Namun, bayangan Bumi yang menutupi sebagian Bulan tetap terlihat kontras dan jelas dengan mata telanjang. Inilah yang membuat Gerhana Bulan sebagian tetap menarik untuk diamati, terutama jika cuaca malam cerah dan tidak berawan.
3. Gerhana Bulan Penumbra
Ini adalah jenis gerhana yang paling lembut dan sulit diamati, terutama tanpa alat bantu. Gerhana Bulan penumbra terjadi ketika Bulan hanya melewati bayangan luar Bumi, yaitu penumbra, bukan bayangan gelapnya (umbra). Karena hanya bagian luar bayangan, cahaya Matahari masih mengenai permukaan Bulan.
Namun cahaya itu tidak seterang biasanya, sehingga Bulan tampak sedikit suram atau keabu-abuan. Banyak orang bahkan tidak menyadari sedang terjadi gerhana penumbra karena perubahan warnanya sangat tipis.
(auh/irb)