Ngalam Mbois: Asa Solichin Gagas Pemuda Tani di Malang

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Senin, 02 Okt 2023 13:35 WIB
Solichin menggagas Petani Muda di Malang (Foto: Dokumen Pribadi Solichin)
Malang -

Di era modern saat ini, profesi petani sudah mulai ditinggalkan anak muda. Terlihat dari minimnya minat anak muda untuk bertani. Kebanyakan mereka lebih memilih menjadi pekerja kantoran maupun pegawai negeri.

Muhammad Solichin, warga Dusun Tlogorejo, Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, tergugah untuk memperjuangkan hal ini. Ia bertekad agar dunia pertanian tidak hilang karena ditinggalkan anak muda.

Menurut pria 38 tahun ini, seharusnya sektor pertanian di Indonesia bisa lebih maju dibanding negara-negara lain. Sebab, memiliki keunggulan tanah yang subur dan berada pada iklim tropis.

"Cukup sayang jika 5 atau 10 tahun ke depan tidak ada lagi yang mau bertani. Kita kan memiliki tanah subur dan pertanian ini merupakan warisan dari kakek maupun buyut kita," ujar Solichin pada detikJatim, Senin (2/10/2023).

Upaya yang dilakukan Solichin untuk mempertahankan pertanian adalah dengan menggagas Pemuda Tani Kabupaten Malang. Ini merupakan organisasi yang menaungi para petani muda di wilayah Malang.

Pria lulusan SMK swasta di Surabaya ini mengaku masuk ke dunia pertanian sejak tahun 2013. Jatuh bangun hingga bangkrut dan bangkit kembali usai gagal panen telah dia rasakan selama menekuni dunia pertanian.

Namun, pengalaman itu bukan membuatnya menyerah. Dia terus belajar untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya hingga pada akhirnya berhasil mengembangkan tanaman alpukat pameling.

"Memang proses yang dijalani tidak mengkhianati hasil, saya pada tahun 2015 itu berhasil mengembangkan alpukat pameling yang dinobatkan sebagai buah unggulan Kabupaten Malang," kata Solichin.

"Alpukat pameling ini juga yang membuat relasi saya bertambah. Permintaan bibit alpukat pameling pada tahun 2017 itu mulai banyak, tapi saya tidak bisa menerima permintaan itu karena barangnya tidak ada," sambungnya.

Dari situ, dia mulai mengajak teman-temannya yang putus sekolah atau bekerja serabutan di desa untuk bertani. Program ketahanan pangan yang mengakumulasi petani dan kebutuhan untuk dipenuhi secara kolektif terus dilakukannya.

Ketelatenan Solichin dalam memberikan arahan dan pemahaman cara bertani kepada teman-temannya mampu membuahkan hasil. Banyak teman-teman di desanya mulai bisa bertani secara mandiri.

Bahkan, ia bersama teman-temannya juga mengembangkan edukasi pertanian. Lahan di desanya dikembangkan dan ditanami sebagai perkebunan edukasi. Ia juga bekerja sama dengan pemerintah desa setempat.

Berita selengkapnya di halaman selanjutnya!




(hil/dte)

Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork