Pakar Geologi ITS Ingatkan 7 Sesar Aktif Pemicu Gempa di Jatim

Denza Perdana - detikJatim
Kamis, 24 Nov 2022 20:15 WIB
Pakar ITS Amien Widodo
Pakar Geologi ITS Prof Amien Widodo. (Foto: Istimewa/dok ITS)
Surabaya -

Profesor Dr Ir Amien Widodo MSi Pakar Geologi ITS mengingatkan lagi tentang sejumlah sesar aktif di Jawa Timur yang bisa memicu gempa bumi. Tidak hanya Sesar Probolinggo maupun Sesar Wongsorejo.

"Ya, selain dua itu ada Sesar Suroboyo, Sesar Pasuruan, juga Sesar Waru. Sesar Waru ini panjang dia. Sampai di Saradan, Madiun. Dia melewati Mojokerto juga di sebelah utaranya. Makanya di Saradan Madiun itu, kan, juga sering gempa," ujarnya kepada detikJatim, Kamis (24/11/2022).

Sejumlah sesar aktif di Jawa Timur itu menurutnya sudah termuat dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2017 yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen).

Tidak hanya 5 sesar yang telah disebutkan di atas, Jawa Timur juga dilintasi Sesar Kendeng, serta sesar lain yang ada di kawasan Madura dan Bawean. Karena itu, Amien mengatakan seharusnya sudah ada penelitian lebih lanjut soal mitigasi gempa.

"Mestinya itu bukan hanya istilahe waspada gitu. Mestinya ya pemerintah daerah itu segera menindaklanjuti. Kan di situ sudah diketahui, ada sesar probolinggo. Mestinya yang di jawa timur lah, pemerintah provinsi mestinya memetakan itu," katanya.

Dia mengingatkan lagi tentang Gempa Cianjur yang terjadi beberapa waktu lalu. Menurutnya, sesar yang menyebabkan gempa di Cianjur belum terpetakan. Karena itu dampaknya cukup besar.

"Ingat di Cianjur itu belum terpetakan sebegitu parah. Ini yang sudah terpetakan dibiarin aja. Semestinya ada pemetaan 'oh jarak dari sekian meter dari sesar itu tidak boleh ada rumah'. Atau 'sekian meter dari sesar rumahnya harus tahan gempa,' kan begitu. Jangan dibiarkan," ujarnya.

Amien mengklaim bahwa selama ini Pemprov Jatim belum melakukan pemetaan demikian. Seharusnya, kata dia, tugas pemetaan tersebut ada di tangan BPBD Provinsi Jatim.

"BPBD mestinya itu. BPBD itu tupoksinya melakukan pemetaan itu. Saya nggak tahu, mungkin peta sesar itu dianggap hoaks kali, ya. Dibiarin aja soalnya. Peta Sesar itu kan dikeluarkan Pusgen tahun 2017. Sampai sekarang belum ada penelitian tentang itu. Kalau ITS, sih, melakukan penelitian. Cuman, kan terbatas. Dananya juga terbatas, jadi hanya sedikit-sedikit begitu saja," ujarnya.

ITS selama ini telah memetakan beberapa sesar yang ada. Di antaranya Sesar Probolinggo, Sesar Pasuruan, dan juga Sesar Waru. Meski penelitian itu belum sampai mencakup seluruhnya.

"(Sesar) Probolinggo sedikit sudah terpetakan. Kan tugas mahasiswa jarak sekian sampai sekian. (Sesar) Pasuruan itu sebagian juga sudah. Waru sampai Sidoarjo juga sudah," katanya.

Berdasarkan pemetaan Pusgen pada 2017 ada sejumlah sesar di Jawa Timur yang berpotensi menyebabkan gempa tektonik dengan kekuatan mencapai magnitudo 6,5. Kekuatan maksimal gempa itu sama dengan Sesar Cimandiri yang diduga menyebabkan terjadinya gempa di Cianjur.

"Jadi makanya, di situ sudah disebutkan di Pusgen itu, kalau potensinya M 6,5 dan segala macam. Nah mestinya segera ditindaklanjuti dengan asesmen. Jadi bisa kita lihat, rumah itu hancur kan pertama karena gempanya sendiri. Gempanya lebih besar kekuatannya daripada (daya tahan) rumah itu sendiri," ujarnya.

Selain karena getaran gempa, faktor lain yang menyebabkan kerusakan akibat gempa adalah faktor tanah tempat berdirinya rumah. Selain itu juga dari kualitas bangunannya sendiri.

"Jadi asesmennya itu harus tanahnya diperiksa, rumahnya dilihat. Kalau rumahnya kualitasnya tidak standar semua ya harus ada rekomendasi bagaimana perbaikannya. Atau dibuatkan rumah atau bangunan tahan gempa contoh di situ, misalnya. Sehingga warga nanti tinggal mencontoh," pungkasnya.



Simak Video "Gempa M 6,8 Guncang Enggano Bengkulu!"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/fat)