Blak-blakan LPAI Sebut Aksi Kriss Hatta Nikahi Anak 14 Tahun Suatu Kejahatan

Blak-blakan LPAI Sebut Aksi Kriss Hatta Nikahi Anak 14 Tahun Suatu Kejahatan

Tim detikJatim - detikJatim
Sabtu, 01 Okt 2022 09:52 WIB
Kriss Hatta saat dijumpai di Polres Jakarta Selatan.
Kriss Hatta saat masuk penjara beberapa waktu lalu (Foto: Lamhot Aritonang/detikFoto)
Surabaya -

Kabar kontroversial datang dari dunia hiburan Tanah Air. Artis Kriss Hatta dikabarkan hendak menikahi kekasihnya yang masih di bawah umur dan beda agama. Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Jatim dengan tegas menyebut, aksi Kriss Hatta ini merupakan suatu kejahatan dan dilarang dalam undang-undang.

Ketua Bidang Data, Informasi, dan Litbang Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Jawa Timur, Isa Anshori menyebut, ada undang-undang yang mengatur soal larangan anak di bawah umur. Larangan tersebut dengan jelas melarang seseorang menikahi perempuan berusia di bawah 19 tahun yang telah diatur UU Perkawinan.

Hal ini sesuai dengan Pasal 7 ayat (1) UU 16/2019 tentang Perubahan atas UU 1/1974 tentang Perkawinan yang mengatur usia pernikahan bagi perempuan minimal 19 tahun. Ada alasan mengapa batas minimal usia pernikahan perempuan di dalam UU Perkawinan yang sebelumnya 17 tahun dinaikkan menjadi 19 tahun.

"Batas minimal usia menikah bagi perempuan ditinggikan itu berkaitan kesiapan. Bukan hanya kesiapan mental, tapi juga kesiapan organ reproduksi anak," ujar Isa, Jumat (30/9/2022).

Tak hanya itu, UU Perlindungan Anak sendiri juga mengacu pada undang-undang perkawinan tentang batas usia pernikahan dengan pertimbangan faktor kesiapan anak.

"Apakah usia 14 tahun sudah siap melakukan apa yang disebut pernikahan tadi? Bukan hanya secara psikis, ya, tapi juga secara fisik. Sehingga bagi saya, dalam konteks perlindungan anak, dan kemudian untuk menjaga perkawinan itu sebagai sesuatu yang suci tidak hanya sekadar semangat, tentu pengadilan harus punya alasan bagaimana kemudian memberikan semacam masukan dan tidak mengabulkan permohonannya," ujarnya.

Isa mengakui, apa yang disampaikan Kriss Hatta sebagai tokoh publik ke khalayak umum tentang niatnya menikahi anak di bawah umur bisa menjadi preseden buruk. Sayangnya, kata dia, dari sudut pandang penegakan hukum, apa yang disampaikan Kriss Hatta belum bisa dianggap pelanggaran.

"Problemnya, hukum kita ini kan apa yang sudah terjadi. Jadi kalau saya menyatakan mau menikahi anak ya belum bisa disebut 'sudah menikahi anak'. Harapan saya tadi, permohonan dispensasi nikah di bawah umur ini tidak dikabulkan oleh Pengadilan Agama karena ini menurut saya kejahatan terselubung atas nama pernikahan," ujarnya.

Dengan tegas, Isa menyebut, fenomena Kriss Hatta yang hendak menikahi anak di bawah umur itu merupakan kejahatan terselubung bila dipandang dari sudut pandang perlindungan terhadap anak.

"Menurut saya ini kejahatan terselubung, atas nama nikah. Karena yang dinikahi anak dan kemudian dalam pernikahan itu terjadi apa yang disebut hubungan seksual," ujarnya.

Isa mendasarkan pernyataannya pada UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak bahwa apapun alasannya, hubungan seksual dengan anak merupakan suatu kejahatan. "Di dalam Undang-undang perlindungan anak itu, apapun alasannya, melakukan hubungan seksual dengan anak itu kan, kejahatan," tegasnya.

Dia mengakui, dalam prosesnya Pengadilan Agama menerima permohonan dispensasi pernikahan dengan anak. Tidak jarang permohonan dispensasi menikah itu juga dikabulkan.

"Iya, biasanya kalau hamil kan? Ada Dispensasi. Tapi kalau hanya karena senang? Ini kan persoalan sekarang. Padahal pernikahan itu bukan persoalan untuk 1 atau 2 hari saja. Apalagi beda usia cukup jauh," pungkasnya.

(hil/iwd)