Kebakaran di Surabaya Meningkat saat Kemarau, Kebanyakan Lahan Terbuka

Kebakaran di Surabaya Meningkat saat Kemarau, Kebanyakan Lahan Terbuka

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 30 Sep 2022 07:53 WIB
Kepala Dinas PMK Surabaya Dedi Irianto
Kepala Dinas PMK Surabaya Dedi Irianto (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

Kepala Dinas PMK Surabaya Dedi Irianto menyebut tahun ini kebakaran di Kota Pahlawan meningkat, khususnya saat musim kemarau. Kebakaran banyak terjadi di lahan terbuka, bahkan sampai menelan korban jiwa.

"Untuk lingkungan saat ini, memang siklus kejadian kebakaran setiap musim kemarau pasti ada kenaikan. Tapi untuk tahun ini luar biasa, kejadian di musim kemarau tahun ini peningkatannya cukup signifikan, terutama non bangunan. Jadi memang lahan-lahan terbuka, ada sampah dan sebagainya ini ada kenaikan signifikan bahkan sampai menelan korban jiwa," ujar Dedi, Jumat (29/9/2022).

Untuk jumlah sementara hingga bulan September ini, sudah ada 549 kasus kebakaran di Surabaya. Jumlah ini menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2019 terdapat 944 kejadian kebakaran, tahun 2020 turun menjadi 684 kejadian dan tahun 2021 terdapat 644 kejadian.

"Tinggal sisa 3 bulan ini yang harus kita jaga bener. Musim kemaraunya masih panjang," ujar Dedi.

Menurut Dedi, kelalaian masyarakat menjadi salah satu penyebab kebakaran. Kemungkinan orang tersebut tidak menyadari apa yang dilakukan. Seperti tidak tahu jika membakar sampah itu tidak boleh. Karena masih banyak asumsi masyarakat yang menganggap bahwa sampah dikumpulkan di satu titik, kemudian dibakar.

Padahal efeknya, lanjut Dedi, jika membakar sampah, selain melanggar UU juga berbahaya jika tidak ditunggu atau langsung ditinggal begitu saja setelah membakar. Kemudian, orang tersebut tidak mengetahui arah angin dan angin kencang. Seperti kejadian beberapa hari lalu, seorang laki-laki di Medokan Semampir tewas terbakar usai membakar alang-alang.

"Jadi saat dia bakar, nggak tahu kalau angin larinya ke dia, itu kan di tanggul mau naik susah. Ada kejadian seperti itu pada pensiunan PNS, mungkin karena larinya kalah cepat sama rambatan apinya, sehingga meninggal. Artinya itu yang tidak dipahami masyarakat. Kadang dikira bakar-bakar biasa aja ditungguin nanti tambah besar dimatikan gak papa. Kadang kalau sudah besar, anginnya besar, ditinggal," jelasnya.

Sementara pada kejadian kebakaran sejak tahun 2019 hingga saat ini, angka kebakaran yang berhasil dipadamkan oleh warga ada peningkatan sekitar 50 persen. Artinya, saat petugas PMK datang, api sudah dipadamkan warga. Ada yang menggunakan apar, ada yang disiram sendiri.

"Kita di lokasi cuman pengecekan, kita punya thermal untuk mengecek suhunya di balik tembok. Angka meningkat, karena kita rajin sosialisasi dan warga sudah mulai aware dan tahu cara memadamkan dan sebagainya. Jadi tahun kemarin itu, awalnya yang dipadamkan warga itu sekitar 20 sekian persen. Kemudian naik menjadi 40 sekian persen, sekarang sudah hampir 50 persen yang berhasil dipadamkan warga," urainya.

Untuk alat tempur petugas PMK Surabaya, terdapat 78 kendaraan, mulai roda dua sampai roda enam belas. Roda dua ada walang kadung dan walang kekek, mobil tempur ada SCBA khusus untuk isi ulang oksigen, ada skylift, mobil tangga dan phyton yang membawa selang dan bisa mengambil sumber air.



Simak Video "Pemandangan Pilu Kekeringan di Kenya, Sudah Ratusan Gajah Mati"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/fat)