Kisah Mbah Mamik Bikin Kerajinan Garuda Karena Sudah Jarang yang Jual

Purwo Sumodiharjo - detikJatim
Kamis, 18 Agu 2022 15:20 WIB
kerajinan burung garuda pacitan
Mbah Mamik sedang membuat kerajinan burung garuda (Foto: Purwo Sumodiharjo)
Pacitan -

Momen Agustusan selalu lekat dengan nilai perjuangan. Makna kemerdekaan di era kekinian tak mesti identik dengan pegang senjata. Seluruh warga bangsa dapat mengisinya dengan karya nyata.

Adalah Bambang Sutejo (72) warga Pacitan yang menekuni semangat itu. Meski usianya tak lagi muda, Mamik, sapaan akrab Bambang Sutejo pantang berpangku tangan. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membuat hasta karya.

Karya yang dibuatnya pun bukan asal-asalan. Melainkan bernuansa nasionalisme dan patriotisme. Yaitu hiasan dinding berupa lambang negara Burung Garuda. Sempat gelisah sulit mencari perajin serupa, Mamik memutuskan memulai kreasi.

"Sempat prihatin karena saat sekarang ini cukup jarang dijual hiasan berupa Burung Garuda," ujar pria sepuh itu kepada wartawan di rumahnya, Kamis (18/8/2022).

Rupanya, bakat Mamik telah muncul sejak dirinya muda. Bahkan selama dirinya menjabat Kepala Desa Tanjungsari, aktivitas membuat kriya tetap dilakukan. Purna menjadi pimpinan desa, kini Mamik lebih fokus pada pekerjaan itu.

kerajinan burung garuda pacitanBurung Garuda buatan Mbah Mamik (Foto: Purwo Sumodiharjo)

Untuk membuat bentuk Burung Garuda, Mamik memilih bahan dasar kayu lapis dan styrofoam. Mula-mula kayu lapis dipotong sesuai dengan pola yang telah dibuat sebelumnya. Pada lapis kedua lalu ditempel styrofoam yang dipotong menyerupai potongan tripleks.

"Adapun styrofoam saya memungut bekas pakai nelayan maupun dari pedagang buah," katanya.

"Jadi sekalian ikut menjaga kelestarian lingkungan. Karena yang saya pernah dengar bahwa styrofoam itu ndak bisa terurai," ungkapnya terkait alasan memilih benda sintetis sebagai bahan.

Sabar dan telaten menjadi kunci pembuatan karya ala Mamik. Betapa tidak, untuk menyelesaikan sebuah bentuk Burung Garuda berukuran 50 cm dirinya butuh waktu hingga 4 hari.

Proses terlama adalah pemampatan. Yakni menekan lapisan tripleks dan styrofoam dengan pembeban. Yaitu berupa 10 botol air mineral kapasitas 1,5 liter yang diisi pasir. Setelah dibiarkan selama 3 hari, barulah bidang styrofoam diukir dengan ujung solder.

"Untuk membuat titik-titik pakai solder. Sedangkan untuk mengukir garis saya pakai pisau cutter," paparnya.

Sembari menunggu proses awal rampung, Mamik membuat pernak-pernik yang dibutuhkan. Seperti halnya bagian kepala, sayap, kaki, maupun perisai lengkap dengan simbolnya. Tahapan berikutnya adalah pengecatan serta merangkai seluruh bagian.

Untuk tiap karyanya Mamik tak mematok harga tinggi. Untuk ukuran 50 cm hanya dibanderol Rp 150 ribu. Sedangkan ukuran 1 meter harga jualnya hanya Rp 350 ribu. Terkadang nilai jual tak terbatas nominal tertentu melainkan kesepakatan dengan pembeli.

"Terjual sampai beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Juga pernah saya berikan kepada sejumah pejabat negara," imbuhnya seraya menyebut nama Menparekraf Sandiaga Uno.

Di momen HUT RI kali ini Mamik berharap rasa cinta bangsa tetap terpelihara di kalangan generasi penerus. Meski hanya sebatas membuat kerajinan, namun dirinya ingin menjadi bagian dari upaya merawat semangat patriotisme.

"Kalau bukan kita yang merawat siapa lagi," pungkas kakek dari 12 cucu dan 4 cicit.



Simak Video "Penampakan Mobil Terbakar Hebat di Tanjakan Sedeng Pacitan"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/iwd)