50 Outlet di Surabaya yang Masih Pakai Kantong Plastik Dapat Teguran

Esti Widiyana - detikJatim
Kamis, 07 Jul 2022 15:44 WIB
Kepala DLH Surabaya Agus Hebi Djuniantoro
Kepala DLH Surabaya Agus Hebi Djuniantoro. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Kebijakan pengurangan penggunaan kantong plastik di Surabaya sudah berlaku selama sebulan. Tapi masih banyak yang menggunakan kantong plastik atau kresek. Bahkan, sudah 50 outlet yang ditegur Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya karena melanggar Perwali 16/2022.

"Saya bersama jajaran terus melakukan penindakan ke pasar, mal, PKL hingga kelontong. Sejak April hingga Juni 2022 kurang lebih ada 50 outlet yang ditegur karena tidak mengikuti aturan Perwali Nomor 16 tahun 2022," kata Kepala DLH Surabaya Agus Hebi Djuniantoro, Kamis (7/7/2022).

Selain penggunaan kantong plastik DLH juga menyampaikan imbauan tentang sampah plastik. DLH terus berkeliling dan memberikan teguran secara lisan maupun tertulis. Temuan di lapangan, kata Hebi, ada beberapa yang masih belum menerapkan kantong ramah lingkungan.

"Jadi pas kami datang, ada temuan sampah plastik di sana," ujarnya.

Pengurangan penggunaan sampah plastik diakui oleh Hebi masih sulit dilakukan. Sebabnya, masyarakat dan pemilik usaha masih belum terbiasa dan beradaptasi dengan baik.

"Tempat yang paling sulit mengurangi penggunaan kantong plastik itu di pasar tradisional dan beberapa PKL. Memang susah, makanya saya berpikir, misal masuk ke mall itu wajib bawa kantong. Itu jalan satu-satunya. Tulis di mal atau pasar kalau mereka mau masuk harus bawa kantong sendiri," katanya.

Menurutnya, pengurangan pemakaian kantong plastik ini juga harus dilakukan secara bertahap agar masyarakat terbiasa. "Ini harus ditekan, gimana caranya harus nol. Kami juga enggak bisa langsung nabrak. Kami beri pengertian sedikit demi sedikit dan yustisi tetap jalan," ujarnya.

Hebi menambahkan dalam mengurangi penggunaan kantong plastik di Surabaya DLH tidak bekerja sendiri. Sudah ada sejumlah komunitas peduli lingkungan yang digandeng untuk melakukan sosialisasi dan survei penerapan perwali itu selama tiga bulan terakhir.

Ia berharap, pengurangan penggunaan kantong plastik di Kota Surabaya bisa terus ditekan dan berdampak baik pada lingkungan. Saat ditanya soal pengadaan kantong ramah lingkungan di pasar tradisional, Hebi mengakui bahwa DLH Surabaya memiliki keterbatasan anggaran.

"Nah itu anggarannya. Dari Komunitas Nol Sampah juga sudah mengusahakan. Seberapa jauh efektivitas perwali ini, kami bersama-sama melakukan sosialisasi dan sanksi apabila melanggar," katanya.



Simak Video "Perusahaan Kenya Daur Ulang Plastik Jadi Perabotan Cantik"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/iwd)