Kasus DBD di Tulungagung Melandai, Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Adhar Muttaqin - detikJatim
Sabtu, 21 Mei 2022 20:30 WIB
demam berdarah-Aedes aegypti
Ilustrasi Nyamuk Aedes Aegypti. (Foto: shutterstock)
Tulungagung -

Selama 5 bulan terakhir jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Tulungagung menduduki peringkat kelima di Jawa Timur dengan 2 pasien meninggal. Saat ini kasusnya mulai melandai. Meski begitu, DBD masih menjadi ancaman bagi masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung Didik Eka mengatakan, selama periode Januari-pertengahan Mei 2022 jumlah serangan DBD di wilayahnya mencapai 208 kasus dengan dua pasien meninggal.

"Kalau dilihat dari grafiknya, mulai Januari hingga saat ini terus turun. Januari itu ada 57 kasus dengan satu kematian, kemudian Februari 59 kasus dengan satu kematian, Maret 32 kasus nol kematian," kata Didik Eka, Sabtu (21/5/2022).

Sedangkan pada April ada sedikit peningkatan menjadi 45 kasus dan pada Mei turun menjadi 15 kasus. Selama rentang Januari-Mei itu, kasus kematian akibat Demam Berdarah Dengue hanya terjadi dua kali, yakni pada Januari dan Februari.

Turunnya angka serangan DBD salah satunya dipengaruhi faktor cuaca yang jarang hujan. Sehingga kantong air jernih yang menjadi tempat berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti berkurang. Namun, pihaknya tetap mengimbau masyarakat agar tidak lengah. Jika kebersihan lingkungan tidak terjaga dengan baik, DBD masih menjadi ancaman.

"Tetap lakukan gerakan 3M plus, karena itu adalah kunci untuk pencegahan munculnya DBD," jelasnya.

Didik menjelaskan, dilihat dari jumlah kasus DBD yang terjadi di Tulungagung selama lima bulan terakhir cenderung banyak. Bahkan dari data kasus di seluruh Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung menduduki peringkat lima terbanyak.

"Kalau melihat jumlahnya, memang masuk lima besar tapi Tulungagung masih dibawah IR (Incidance Rate), karena dalam kasus DBD itu patokannya tidak boleh melebihi 50 per 100 ribu penduduk," jelasnya.

Artinya, jika penduduk Tulungagung sekitar 1 juta orang, maka kasus DBD tidak boleh melebihi 500 kasus. Di sisi lain Didik mengaku kejadian DBD masih cukup terkendali, dengan angka kematian yang tergolong rendah.

Pihaknya mengeklaim terus berupaya mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, sehingga dapat meminimalisir terjadinya serangan demam berdarah.

Didik membeberkan, merujuk data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, selama periode Januari-Mei 2022, terdapat lima daerah dengan kasus DBD tertinggi. Ini daftarnya.

1. Ngawi 294 dengan 1 kematian
2. Kota Malang 265 dengan 7 kasus kematian
3. Nganjuk 243 dengan 7 kematian
4. Sidoarjo 234 dengan 2 kematian
5. Tulungagung 208 dengan 2 kematian

Sedangkan dari jumlah angka kematian akibat DBD, ada lima daerah teratas di Jawa Timur. Berikut detailnya.

1. Kota Malang 7 kematian
2. Nganjuk 7 kematian
3. Banyuwangi 7 kematian
4. Pamekasan 5 kematian
5. Kabupaten Pasuruan 5 kematian.

Dalam data tersebut juga menyebutkan jumlah total kasus DBD di Jawa Timur hingga saat ini mencapai 5.185, dengan 73 kematian.



Simak Video "Kasus DBD di Tasikmalaya Meningkat, Data Kematian Bertambah"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/dte)