Menanti Pisang Raksasa di Ponorogo Berbuah

Tim detikJatim - detikJatim
Sabtu, 19 Mar 2022 07:22 WIB
Pohon pisang raksasa di Ponorogo
Pohon pisang raksasa yang tumbuh di Ponorogo/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo -

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Ponorogo telah meninjau pohon pisang raksasa 'Aladin'. Pohon yang tumbuh di Dusun Setumbal, Desa Jurug, Kecamatan Sooko ini disebut banyak tumbuh di Papua.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Dipertahankan Ponorogo Medi Susanto menerangkan, pisang raksasa tersebut memiliki nama latin Musa ingens.

"Yang dikenal pisang Papua. Pisang seperti itu banyak tumbuh di daerah Papua, di daerah Fakfak. Mirip seperti itu," tutur Medi kepada detikJatim, Selasa (15/3/2022).

Medi menambahkan manusia memang jarang mengkonsumsi pisang tersebut. Sebab, di dalam buah pisang banyak bijinya.

"Sehingga kenapa kok itu tumbuh di lahan porang, karena porang itu pengembangannya dengan katak, nah biji pisang itu juga sebesar katak cuma warnanya lebih hitam," imbuh Medi.

Menurut Medi, sumber katak Porang di Ponorogo dari berbagai pulau di Indonesia. Kemungkinan ada salah satu biji pisang raksasa itu terbawa ke dalam katak Porang.

Pohon pisang raksasa di PonorogoPohon pisang raksasa di Ponorogo/ Foto: Charolin Pebrianti

"Analisa saya seperti itu, karena di daerah Jateng juga muncul seperti itu, di tengah-tengah porang," kata Medi.

Medi melanjutkan, Pemdes Jurug sudah berkoordinasi untuk pengembangbiakan. Namun, pihaknya tak mengembangbiakkan pohon pisang raksasa ini.

"Kalau dari dinas sendiri tidak ada pengembangbiakan, karena kita lihat kan nilai estetika aja dari pisang, cuman dari Pemdes ngomong ke saya mau dikembangkan, untuk daerah wisata di air terjun Pletuk itu, nilainya lebih ada," ungkap Medi.

Medi menambahkan, untuk menunggu buah pisang muncul, setidaknya menunggu waktu 2 tahun. Saat ini pisang Aladin masih berusia 1,5 tahun.

"Dari Pemdes, untuk tetap akan membudidayakan seperti itu, cuma saya sampaikan jenengan nunggu woh e (buah) dulu, karena nunggu 2 tahun baru metu woh e (keluar buahnya), nunggu setelah biji keluar baru bisa dibudidayakan," ujar Medi.

Menurutnya, pengembangbiakan nantinya bisa lewat biji. Jika Pemdes Jurug menghendaki, maka bisa ditanam di sepanjang jalan desa menuju Air Terjun Pletuk, wisata air terjun di Desa Jurug.

Pohon pisang raksasa di PonorogoPohon pisang raksasa di Ponorogo/ Foto: Charolin Pebrianti

"Kalau dari nilai ekonomi, yang bisa dimanfaatkan hanya daun dan pelepah pisang. Kalau buah tidak. Tapi untuk estetika dan keunikan, ini kan luar biasa, belum ada pisang raksasa di Ponorogo, baru kali ini," terang Medi.

Menurut Medi, saat ini pisang raksasa bisa menarik minat wisatawan meski berusia tahunan. Pohon ini bisa menjadi nilai lebih dari pisang pada umumnya.

"Cuma karena itu. Memang satu-satunya makanya viral seperti itu, sehingga pisang itu berbuahnya juga cukup lama tapi tidak bisa dikonsumsi. Untuk estetika dan keunikan ini luar biasa untuk daya tarik wisata," pungkas Medi.

Sebelumnya, pohon pisang dengan tinggi mencapai 4 meter dan diameter 1,8 meter ini sempat menghebohkan masyarakat. Selain memiliki ukuran besar, bagian batang pisang ini berbentuk seperti daun sawi. Ada batang dengan ujung daun, batangnya pun tipis dan lebar. Saat tidak ditali bagian batang, batangnya bakal melebar layaknya sawi.

Meski sudah berumur 1,5 tahun, pohon pisang ini belum muncul tanda-tanda berbuah. Menariknya, daun pisang ini tampak utuh dan tidak sobek. Sedangkan batangnya tinggi besar.

Pohon pisang raksasa di Ponorogo ini juga punya keunikan sendiri. Sang pemilik, Ladi menyebut pohon pisang raksasa miliknya memiliki getah berwarna kuning serta tak memiliki bau pisang.



Simak Video "Melihat Pohon Pisang Raksasa 'Aladin' di Ponorogo"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/sun)