Operasi Pasar Minyak Goreng Rp 12.500 di 7 Pasar Mojokerto Diserbu Warga

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Jumat, 28 Jan 2022 15:35 WIB
operasi pasar minyak goreng di mojokerto
Operasi pasar minyak goreng di Mojokerto diserbu warga (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Pemkab Mojokerto menggelar operasi pasar minyak goreng kemasan di 7 pasar tradisional. Sedikitnya 10.000 liter minyak goreng kemasan dijual seharga Rp 12.500 per liter.

Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati memantau langsung operasi pasar tersebut. Salah satunya di Pasar Kedungmaling, Kecamatan Sooko. Di halaman pasar tradisional ini, warga sudah mengantre untuk mendapatkan minyak goreng murah sejak pukul 07.00 WIB.

"Hari ini operasi pasar ada tujuh titik, kami siapkan 10.000 liter. 60 persen kami khususkan IKM penjual gorengan, lainnya kami sebar sesuai komposisi pembeli di tujuh pasar tersebut," kata Ikfina kepada wartawan di lokasi, Jumat (28/1/2022).

Selain Pasar Kedungmaling, operasi pasar minyak goreng kemasan juga digelar di Pasar Raya Mojosari, Pasar Niaga Mojosari, Pasar Dinoyo Jatirejo, Pasar Trowulan, Pasar Lespadangan Gedeg, serta Pasar Jetis.

Pembelian minyak goreng kemasan di operasi pasar tersebut memang dibatasi. Pembeli hanya boleh membeli 2 liter saja dengan menyerahkan foto kopi KTP.

Ikfina menjelaskan pada operasi pasar di 7 titik tersebut, minyak goreng kemasan dijual Rp 12.500 per liter. Harga tersebut lebih murah dibandingkan harga ketentuan dari Kementerian Perdagangan Rp 14.000 per liter.

"Kalau kebijakan pemerintah harga Rp 14.000, di sini kami turunkan dengan subsidi dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto," terangnya.

Bupati perempuan pertama di Mojokerto ini mengimbau masyarakat tidak panic buying dengan melakukan aksi borong. Karena menurutnya, stok minyak goreng kemasan saat ini masih aman.

"Sebenarnya minyak goreng tidak ada keterbatasan barang. Justru ke depan pemerintah akan memberikan subsidi sehingga harganya disesuaikan dengan daya beli masyarakat," tegasnya.

Operasi pasar di Pasar Kedungmaling diserbu warga sejak pukul 07.00 WIB. Mereka rela mengantre berjam-jam untuk membeli minyak goreng kemasan seharga Rp 12.500 per liter. Betapa tidak, harga salah satu sembako itu di toko-toko masih Rp 20-21 ribu per liter.

Seperti yang dialami Mujiati (40), warga Desa Kedungmaling, Sooko. Ia rela mengantre pukul 07.00-08.00 WIB untuk mendapatkan 2 liter minyak goreng seharga Rp 12.500 per liter.

"Alhamdulillah dapat rezeki gini. Harapannya kalau ada gini terus (operasi pasar) bisa meringankan warga yang tidak mampu," ungkapnya.

Mahalnya harga minyak goreng kemasan, lanjut Mujiati, terjadi sejak sekitar 3 bulan lalu. Kondisi ini diperparah dengan habisnya stok minyak goreng kemasan harga Rp 14.000 per liter di minimarket dalam tiga hari terakhir.

Ia berharap pemerintah segera bisa menekan harga minyak goreng di pasaran agar kembali normal. Yakni di harga Rp 12.000 per liter. Karena ia membutuhkan 6 liter minyak goreng setiap bulan.

"Harapan kami supaya diturunkan harganya sehingga normal seperti dulu Rp 12 ribu per liter," cetusnya.

Hal senada disampaikan Nur Laili (39), warga Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Jatah minyak goreng dari operasi pasar belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Karena ia membutuhkan setidaknya 5 liter per bulan. Sementara harganya di toko-toko masih Rp 20.000 per liter.

"Dari operasi pasar saja tidak cukup harapannya harganya bisa normal seperti dulu Rp 12.000 per liter," tandasnya.



Simak Video "Tim Gabungan Polri-Kemenperin Sidak Pabrik Minyak Goreng di Semarang"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/iwd)