Penerapan Harga Minyak Goreng Rp 14.000 di Mojokerto Terbentur Stok Lama

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Jumat, 28 Jan 2022 14:37 WIB
minyak goreng di mojokerto
Bupati Mojokerto di Pasar Kedungmaling (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Pengaplikasian harga minyak goreng kemasan Rp 14.000 di pasar tradisional Mojokerto terbentur persoalan stok lama di tingkat pedagang. Mereka belum bisa menerapkan harga ketetapan pemerintah pusat lantaran masih berkutat denga stok lama seharga Rp 18.500.

Persoalan tersebut ditemukan saat Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati mengecek harga minyak goreng kemasan di Pasar Kedungmaling, Kecamatan Sooko pagi tadi. Ternyata, para pedagang keberatan menjual minyak goreng kemasan seharga Rp 14.000. Pasalnya, mereka membeli dari agen akhir 2021 lalu seharga Rp 18.500 per liter.

"Kendala di pedagang eceran, mereka masih membeli saat harganya masih mahal. Kalau belinya dalam partai besar, ini yang menjadi masalah. Akan kami komunikasikan untuk mencari solusinya karena kasihan, barang mereka tidak bisa terjual dan rugi," kata Ikfina kepada wartawan di lokasi, Jumat (28/1/2022).

Ikfina menjelaskan saat ini para pengecer minyak goreng kemasan menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka ingin mematuhi ketentuan Kementerian Perdagangan terkait penyeragaman harga minyak goreng kemasan Rp 14.000 per liter. Namun, mereka harus menanggung rugi Rp 4.500 per liter jika menerapkan harga jual tersebut.

Di sisi lain, mereka kesulitan menghabiskan stok lama minyak goreng kemasan jika tetap menjual dengan harga Rp 19.000-20.000 per liter. Karena para konsumen memilih berburu minyak goreng kemasan dengan harga sesuai ketentuan Kementerian Perdagangan, Rp 14.000 per liter.

Sebagai tahap awal untuk mengatasi persoalan ini, Ikfina meminta Satgas Pangan Kabupaten Mojokerto mendata para pedagang yang masih mempunyai stok lama minyak goreng kemasan. Selanjutnya, ia berjanji akan mencarikan solusi untuk persoalan tersebut.

"Kalau memang harus menyesuaikan harga pemerintah, kami tidak bisa melangkah sendiri. Yang jelas, kami komunikasikan supaya pemprov dan kementerian mengetahui kondisi di lapangan," jelasnya.

Meski begitu, Bupati perempuan pertama di Mojokerto ini mengimbau masyarakat tidak panic buying. Karena menurutnya, tidak ada keterbatasan stok minyak goreng kemasan.

"Masyarakat kami imbau tidak panik, sebenarnya minyak goreng tidak ada keterbatasan barang. Justru ke depan pemerintah akan memberikan subsidi sehingga harganya disesuaikan dengan daya beli masyarakat," ujarnya.

Masih mahalnya harga minyak goreng kemasan dikeluhkan para konsumen. Seperti yang dikatakan Nur Laili (39), warga Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Menurutnya, harga minyak goreng kemasan di toko-toko saat ini masih Rp 20.000 per liter.

"Harapan kami harganya bisa kembali normal, paling tidak 12.000 per liter," cetusnya.

Keluhan yang sama disampaikan Mujiati (40), warga Kedungmaling, Kecamatan Sooko. Menurutnya, harga minyak goreng kemasan di toko-toko saat ini masih Rp 20-21 ribu per liter. Sedangkan stok minyak goreng dengan harga Rp 14.000 per liter di minimarket kosong tiga hari terakhir.

"Masih mahal sekarang. Yang harga 14.000 di minimarket sudah tiga hari tidak ada. Katanya stok habis. Semoga pemerintah bisa menurunkan harganya supaya normal seperti dulu, Rp 12 ribu per liter," tandasnya.



Simak Video "Curhat Pedagang Minyak Goreng: Pembeli Lari ke Minimarket"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/iwd)