Round-Up

Tragedi Meninggalnya Mahasiswa Ubaya Saat Mapaus Adventure di Penanggungan

Tim Detikcom - detikJatim
Senin, 24 Jan 2022 09:23 WIB
Gunung Penanggungan di Mojokerto
Gunung Penanggungan (Foto file: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Surabaya -

Seorang mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) meninggal dunia saat mendaki Gunung Penanggungan Mojokerto. Korban bernama Erfando Ilham Nainggolan, warga Kelurahan Sidotopo Wetan, Kenjeran, Surabaya. Erfando merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi Ubaya.

Kisah ini berawal dari 12 mahasiswa yang mengikuti Mahasiswa Pecinta Alam Ubaya (Mapaus) Adventure Training di Gunung Penanggungan pada 19-23 Januari 2022. Mapaus adalah unit kegiatan mahasiswa Ubaya.

Panitia Mapaus Adventure Training, Yoga Murdana (22) mengatakan, pelatihan ini dimulai Rabu (19/1).

"Peserta 12 orang, panitia 6 orang. Hari Rabu kami sampai di Pos Kedungudi (Kecamatan Trawas, Mojokerto) menginap satu malam," kata Yoga kepada detikjatim, Minggu (23/1/2022).

Keesokan harinya, Kamis (20/1) sekitar pukul 09.00/10.00 WIB, para peserta memulai pendakian ke Gunung Penanggungan. Mereka menuju ke Lembah Kemuncak untuk kegiatan bivak alam dan kompas malam. Rombongan tiba di Lembah Kemuncak sekitar pukul 16.00 WIB.

"Kegiatan di Lembah Kemuncak bivak alam dan kompas malam. Karena cuaca berkabut membahayakan para peserta, kompas malam kami tiadakan, diganti peserta istirahat," terang Yoga.

Setelah istirahat cukup, lanjut Yoga, para peserta diminta bangun untuk ibadah dan sarapan pada Jumat (21/1) sekitar pukul 04.00 WIB. Rombongan lantas naik ke Lembah Mayit dengan waktu tempuh tidak sampai satu jam dari Lembah Kemuncak.

Menurutnya, para peserta menjalani latihan panjat tebing dan repling di Lembah Mayit hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Setelahnya, rombongan kembali ke tempat berkemah di Lembah Kemuncak.

"Kemudian isoma. Jumat malam itu ada gim, yel yel, menghafal kode etik pecinta alam sampai sekitar jam 9 malam. Setelah itu semua peserta istirahat," jelasnya.

Keesokan harinya, Sabtu (22/1) sekitar pukul 09.00 WIB, kata Yoga, para peserta melanjutkan perjalanan ke Puncak Sara Klopo. Tempat ini masih jauh dari Puncak Gunung Penanggungan. Rombongan sampai di lokasi sekitar pukul 13.00 WIB.

mahasiswa ubaya meninggal saat mendaki Gunung Penanggungan MojokertoMahasiswa Ubaya meninggal saat mendaki Gunung Penanggungan/ Foto: Enggran Eko Budianto

"Di lokasi ini kegiatannya navigasi darat, kompas siang, ada materi SAR mencari korban. Sekitar jam 4 sore kami sudahi. Lanjut upacara, kesan dan pesan peserta, nyanyi lagu syukur," ungkapnya.

Sebelum melanjutkan perjalanan, menurut Yoga, panitia sempat menanyakan kondisi para peserta. Saat itu, para peserta mengeluh capek. Perjalanan pun dilanjutkan sekitar pukul 17.30 WIB karena dinilai tidak ada keluhan yang krusial dari para peserta.

"Kami perjalanan turun ke basecamp melalui jalur Tamiajeng sekitar jam setengah 6 sore. Dari Puncak Sara Klopo melipir kanan tembus di atas puncak bayangan, sekitar 10 menit dari puncak bayangan. Kemudian menuju puncak bayangan, langsung turun," papar Yoga.

Sedangkan, Panitia Mapaus Adventure Training, Jefri mengatakan, insiden yang dialami Erfando terjadi di bawah puncak bayangan sebelum pos pendakian 4 jika dari puncak Gunung Penanggungan. Puncak Gunung Penanggungan mempunyai ketinggian 1.653 mdpl. Sedangkan puncak bayangan sekitar 1.200 mdpl.

"Saya tahunya dari panitia yang ada di lapangan. Jadi, (Erfando) turun dari puncak bayangan, itu mau ke pos 4, turun mau selesai acara, si almarhum ini terpeleset, entah dia terbentur apa, tapi saat itu sudah mulai tidak sadar," kata Jefri kepada wartawan di Puskesmas Trawas, Mojokerto, Minggu (23/1/2022).

Jefri menjelaskan, Erfando lantas dibopong turun oleh temannya. Mahasiswa asal Kelurahan Sidotopo Wetan, Kenjeran, Surabaya itu diajak istirahat di jalur pendakian sebelum pos 4.

"Saat istirahat itu dia (Erfando) mulai hilang kesadaran. Sampai panitia itu kewalahan menghadapi. Jadi, (panitia) dari basecamp di UTC (Ubaya Training Center di Desa Tamiajeng, Trawas, Mojokerto) beberapa orang disuruh membantu panitia di lapangan untuk evakuasi menangani almarhum," jelasnya.

Menurut Jefri, saat itu, panitia Marpaus Adventure Training masih kewalahan mengevakuasi Erfando. Sehingga panitia meminta bantuan Tim SAR dari pos pendakian Tamiajeng.

"Petugas Tamiajengnya sampai di lokasi, (Erfando) sudah meninggal. (Lokasinya) Di bawahnya pos bayangan, antara puncak bayangan dengan pos 4," tandasnya.

Sementara itu, Humas Ubaya Hayuning Purnama menyebut korban dinyatakan meninggal dunia di Puskesmas Trawas sekitar pukul 04.00 WIB.K ondisi korban, jelas dia, kelelahan saat di jalur pendakian Tamiajeng dan langsung dibawa ke puskesmas.

RSUD dr Soekandar, MojosariRSUD dr Soekandar, Mojosari/ Foto: Enggran Eko Budianto

"Meninggal dunia di Puskesmas Trawas sekitar pukul 04.00 WIB. Kondisi korban di jalur pendakian Tamiajeng kelelahan, kemudian kami bantu turun ke bawah, masih bernyawa. Dinyatakan meninggalnya di puskesmas," jelasnya.

Hayuning menyampaikan duka cita kepada keluarga Erfando mewakili Kampus Ubaya.

"Yang bersangkutan (Erfando) berangkat dalam kondisi sehat, persetujuan dari orang tua juga sudah kami dapatkan. Saya mewakili Ubaya menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya almarhum. Kami dalam perjalanan ke rumah duka," tandasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo menjelaskan insiden yang dialami Erfando terjadi di bawah puncak bayangan Gunung Penanggungan pada Sabtu (22/1) sekitar pukul 22.00 WIB. Puncak bayangan pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl.

Saat itu, korban dan teman-temannya dalam perjalanan turun menuju pos 4 di jalur pendakian Desa Tamiajeng, Trawas. Di tengah perjalanan, Erfando tiga kali terjungkal.

"Menurut keterangan para saksi, sebelum meninggal, korban sempat terpleset dan jatuh sebanyak tiga kali," ungkapnya.

Meski begitu, lanjut Andaru, korban masih bisa berjalan sendiri untuk melanjutkan perjalanan turun gunung setelah terungkal yang pertama dan kedua. Erfando baru tidak sadarkan diri setelah terjatuh untuk ketiga kalinya sekitar pukul 23.00 WIB.

"Pertama terpleset terbentur batu dan luka lecet di jari dan tangan sebelah kiri, terpleset kedua terkena kayu dan mengalami goresan di perut sebelah kiri, yang ketiga kalinya korban sudah mengalami kondisi kurang sadar," terangnya.

Melihat Erfando tidak sadarkan diri, sejumlah temannya berupaya memberi pertolongan pertama. Mereka juga meminta bantuan Tim SAR dari jalur pendakian Tamiajeng. Namun, nyawa mahasiswa asal Kelurahan Sidotopo Wetan, Kenjeran, Surabaya tidak bisa diselamatkan.

"Sekira pukul 00.00 WIB korban meninggal dunia di jalur pendakian di atas pos 4 di bawah puncak bayangan Gunung Penanggungan," ungkap Andaru.

Evakuasi jenazah Erfando dibantu Tim SAR jalur pendakian Tamiajeng. Jenazah mahasiswa Fakultas Psikologi Ubaya ini tiba di Puskesmas Trawas pada Minggu (23/1) sekitar pukul 04.00 WIB. Polisi telah melakukan visum luar terhadap jasad korban.

Jenazah mahasiswa Ubaya asal Kelurahan Sidotopo Wetan, Kenjeran, Surabaya ini dipindahkan ke RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, Mojokerto sekitar pukul 10.00 WIB. Untuk mengungkap penyebab kematian Erfando, jenazahnya akan diautopsi di RS Bhayangkara Pusdik Sabhara, Porong, Sidoarjo.



Simak Video "Jalur Pendakian Kuno di Puncak Gunung Penanggungan Peninggalan Kerajaan Airlangga, Mojokerto"
[Gambas:Video 20detik]
(hil/fat)