Kronologi Mahasiswa Ubaya Meninggal di Gunung Penanggungan

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Minggu, 23 Jan 2022 17:30 WIB
RSUD dr Soekandar, Mojosari
RSUD dr Soekandar Mojosari (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Mojokerto -

Erfando Ilham (19) mengikuti kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Ubaya (Mapaus) Adventure Training selama 3 hari di Gunung Penanggungan. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) itu meninggal dunia dalam perjalanan turun melalui jalur Tamiajeng, Trawas. Seperti apa ceritanya?

Panitia Mapaus Adventure Training, Yoga Murdana (22) mengatakan, pelatihan dimulai Rabu (19/1). Pelatihan ini diikuti 12 peserta. Salah seorang peserta adalah Erfando Ilham (19), mahasiswa Fakultas Psikologi Ubaya.

"Peserta 12 orang, panitia 6 orang. Hari Rabu kami sampai di Pos Kedungudi (Kecamatan Trawas, Mojokerto) menginap satu malam," kata Yoga kepada detikjatim, Minggu (23/1/2022).

Keesokan harinya, Kamis (20/1) sekitar pukul 09.00/10.00 WIB, para peserta memulai pendakian ke Gunung Penanggungan. Mereka menuju ke Lembah Kemuncak untuk kegiatan bivak alam dan kompas malam. Rombongan tiba di Lembah Kemuncak sekitar pukul 16.00 WIB.

"Kegiatan di Lembah Kemuncak bivak alam dan kompas malam. Karena cuaca berkabut membahayakan para peserta, kompas malam kami tiadakan, diganti peserta istirahat," terang Yoga.

Setelah istirahat cukup, lanjut Yoga, para peserta diminta bangun untuk ibadah dan sarapan pada Jumat (21/1) sekitar pukul 04.00 WIB. Rombongan lantas naik ke Lembah Mayit dengan waktu tempuh tidak sampai satu jam dari Lembah Kemuncak.

Menurutnya, para peserta menjalani latihan panjat tebing dan repling di Lembah Mayit hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Setelahnya, rombongan kembali ke tempat berkemah di Lembah Kemuncak.

"Kemudian isoma. Jumat malam itu ada gim, yel yel, menghafal kode etik pecinta alam sampai sekitar jam 9 malam. Setelah itu semua peserta istirahat," jelasnya.

Keesokan harinya, Sabtu (22/1) sekitar pukul 09.00 WIB, kata Yoga, para peserta melanjutkan perjalanan ke Puncak Sara Klopo. Tempat ini masih jauh dari Puncak Gunung Penanggungan. Rombongan sampai di lokasi sekitar pukul 13.00 WIB.

"Di lokasi ini kegiatannya navigasi darat, kompas siang, ada materi SAR mencari korban. Sekitar jam 4 sore kami sudahi. Lanjut upacara, kesan dan pesan peserta, nyanyi lagu syukur," ungkapnya.

Sebelum melanjutkan perjalanan, menurut Yoga, panitia sempat menanyakan kondisi para peserta. Saat itu, para peserta mengeluh capek. Perjalanan pun dilanjutkan sekitar pukul 17.30 WIB karena dinilai tidak ada keluhan yang krusial dari para peserta.

"Kami perjalanan turun ke basecamp melalui jalur Tamiajeng sekitar jam setengah 6 sore. Dari Puncak Sara Klopo melipir kanan tembus di atas puncak bayangan, sekitar 10 menit dari puncak bayangan. Kemudian menuju puncak bayangan, langsung turun," cetusnya.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo menjelaskan insiden yang dialami Erfando terjadi di bawah puncak bayangan Gunung Penanggungan pada Sabtu (22/1) sekitar pukul 22.00 WIB. Puncak bayangan pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl.

Saat itu, korban dan teman-temannya dalam perjalanan turun menuju pos 4 di jalur pendakian Desa Tamiajeng, Trawas. Di tengah perjalanan, Erfando tiga kali terjungkal.

"Menurut keterangan para saksi, sebelum meninggal, korban sempat terpleset dan jatuh sebanyak tiga kali," ungkapnya.

Meski begitu, lanjut Andaru, korban masih bisa berjalan sendiri untuk melanjutkan perjalanan turun gunung setelah terungkal yang pertama dan kedua. Erfando baru tidak sadarkan diri setelah terjatuh untuk ketiga kalinya sekitar pukul 23.00 WIB.

"Pertama terpleset terbentur batu dan luka lecet di jari dan tangan sebelah kiri, terpleset kedua terkena kayu dan mengalami goresan di perut sebelah kiri, yang ketiga kalinya korban sudah mengalami kondisi kurang sadar," terangnya.

Melihat Erfando tidak sadarkan diri, sejumlah temannya berupaya memberi pertolongan pertama. Mereka juga meminta bantuan Tim SAR dari jalur pendakian Tamiajeng. Namun, nyawa mahasiswa asal Kelurahan Sidotopo Wetan, Kenjeran, Surabaya tidak bisa diselamatkan.

"Sekira pukul 00.00 WIB korban meninggal dunia di jalur pendakian di atas pos 4 di bawah puncak bayangan Gunung Penanggungan," ungkap Andaru.

Evakuasi jenazah Erfando dibantu Tim SAR jalur pendakian Tamiajeng. Jenazah mahasiswa Fakultas Psikologi Ubaya ini tiba di Puskesmas Trawas pada Minggu (23/1) sekitar pukul 04.00 WIB. Polisi telah melakukan visum luar terhadap jasad korban.

Jenazah mahasiswa Ubaya asal Kelurahan Sidotopo Wetan, Kenjeran, Surabaya ini dipindahkan ke RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, Mojokerto sekitar pukul 10.00 WIB. Untuk mengungkap penyebab kematian Erfando, jenazahnya akan diautopsi di RS Bhayangkara Pusdik Sabhara, Porong, Sidoarjo.



Simak Video "Jalur Pendakian Kuno di Puncak Gunung Penanggungan Peninggalan Kerajaan Airlangga, Mojokerto"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)