Bernostalgia Naik Kereta Api Livery Era 80-an di Semarang

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Jumat, 25 Sep 2026 16:43 WIB
Penampakan KLB Vintage edisi HUT KAI ke-81, Jumat (25/9/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Semarang -

Ada penampakan kereta yang tidak biasa di Stasiun Semarang Tawang. Adalah Kereta Luar Biasa (KLB) Vintage edisi HUT KAI ke-81 sekaligus 159 Tahun Perkeretaapian Indonesia.

Keberadaan KLB vintage ini menarik perhatian publik saat melintas dari Stasiun Semarang Tawang-Kedungjati. Perjalanan KLB ini dimulai dari Stasiun Semarang Tawang pada Jumat (25/9/2026) pukul 09.47 WIB. Sinyal hijau dari petugas di stasiun yang disambut oleh tiupan peluit kondektur KA, lalu disahut dengan klakson lokomotif dari masinis menandai awal perjalanan pagi ini.

Tampilan vintage dari rangkaian KA ini menarik sorot mata para pengendara yang terhenti sejumlah palang pintu jalur perlintasan langsung (JPL). Penggemar KA di sepanjang lintasan yang mengetahui adanya perjalanan ini juga tampak mengabadikan momen menggunakan kameranya dari tepi rel KA.

detikJateng yang turut dalam perjalanan KLB ini berkesempatan duduk di kursi nomor 8B kelas eksekutif edisi khusus 159 tahun perkeretaapian Indonesia dengan nomor K1 0 16 14. Gerbong ini berada pada urutan ke empat dari lokomotif arah ke timur.

Interior gerbong ini sama seperti kelas eksekutif pada umumnya. Ruang kakinya lega serta dilengkapi foot rest, ditambah dengan meja lipat dan kursi yang bisa diatur tingkat kemiringannya.

Susunan KLB Vintage ini terdiri dari satu lokomotif, satu gerbong pembangkit, satu gerbong makan, tiga gerbong eksekutif, satu gerbong panoramic, satu gerbong kereta wisata jenis Retro, dan satu set kereta wisata Jaka Lelana yang terdiri dari dua gerbong kelas vintage.

Livery atau corak KLB ini hampir seluruhnya diduplikasi seperti rangkaian KA zaman dulu. Mulai dari lokomotif, gerbong pembangkit, gerbong makan, hingga tiga gerbong penumpang berkapasitas 50 penumpang duduk berwarna krem hijau berlogo roda sayap dan lambang Wahana Daya Pertiwi khas zaman DKA/DJKA.

Penampakan KLB Vintage edisi HUT KAI ke-81, Jumat (25/9/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

Sementara gerbong panoramic sendiri memiliki eksterior khas berwarna hijau tosca dengan aksen kuning. Ciri khas dari gerbong ini yaitu jendela samping yang lebar serta tambahan jendela pada bagian atap untuk melihat pemandangan.

Interiornya sendiri terasa lebih lega dibandingkan gerbong eksekutif biasa karena gerbong panoramic hanya berkapasitas 38 penumpang duduk. Atapnya yang berbentuk segitiga juga menambah kesan luas pada gerbong ini.

Sedangkan gerbong kereta wisata Retro memiliki eksterior warna cokelat tua dengan aksen dan tulisan emas. Pada perjalanan ini gerbong tersebut difungsikan sebagai gerbong makan dengan total 16 tempat duduk.

Terakhir, dua gerbong vintage Jaka Lelana yang terletak pada bagian ujung rangkaian KLB memiliki kapasitas tempat duduk sekitar 20-an per gerbongnya. Pada ujung depan dan belakang gerbong ini juga dilengkapi ruang tamu dan toilet.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, mengatakan livery khas tahun 80-an ini dikembalikan untuk mengenang kembali suasana pada zaman itu. Namun, layanan yang diberikan disesuaikan dengan zaman sekarang.

"Kami mengembalikan suasana tahun 80-an dengan livery-livery vintage tapi dengan konsep dan kualitas layanan yang kekinian ini. Ya mungkin dengan mengembalikan suasana tadi untuk menumbuhkan kembali minat masyarakat pelanggan kereta api dan menumbuhkan kenang-kenangan zaman dulu," kata Luqman kepada detikJateng.

Luqman menjelaskan rangkaian bertuliskan Memperingati 159 Tahun Perkeretaapian Indonesia 10 Agustus 1867 -10 Agustus 2026 ini nantinya akan dioperasionalkan sebagai kereta api jarak jauh. Sementara sejumlah gerbong lain bakal dikembalikan untuk wisata.

"Untuk lokomotif, kereta makan, kereta pembangkit, dan tiga kereta eksekutif ini akan difungsikan dalam rangkaian KA jarak jauh. Sedangkan untuk yang lain seperti panoramic dan satu set Jaka Lelana ini akan difungsikan untuk melayani wisata seperti sebelumnya," ungkap Luqman.

Pemberhentian pertama perjalanan KA ini ada di Stasiun Tanggung, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, pukul 10.15 WIB. Di stasiun ini, KLB Vintage bersilang dengan KA Banyubiru.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, sempat turun untuk menyerahkan secara simbolis sejumlah bantuan seperti sumur bor, sembako, hingga tandon air bagi warga Demak dan Grobogan. Dia juga tampak menandatangani prasasti.

Bobby menjelaskan prasasti yang ditandatangani itu merupakan penanda bahwa Stasiun Tanggung adalah stasiun pertama di Indonesia. Stasiun ini diketahui mulai beroperasi lebih dari 150 tahun lalu.

"Kita penandatanganan prasasti untuk Stasiun Tanggung yang dioperasikan tahun 1867 yang merupakan stasiun pertamanya kita," kata Bobby kepada wartawan di lokasi.

Perjalanan kembali dilanjutkan pukul 10.24 WIB. KLB Vintage bertolak menuju Stasiun Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, Grobogan dan tiba pukul 10.46 WIB. Pemberhentian di stasiun ini berlangsung cukup lama karena lokomotif dan dua gerbong vintage harus bertukar posisi untuk kembali ke Stasiun Semarang.

"Ini adalah stasiun terakhir yang yang kita kunjungi. Setelah ini kita balik ke Stasiun Semarang Tawang," ujar Bobby.

Pada dua stasiun pemberhentian ini, para peserta acara dapat melihat langsung arsitektur lawas stasiun yang merupakan cagar budaya. Selain itu, mereka juga diperkenalkan tentang sejarah KA zaman dulu serta rute-rutenya.

Selain sebagai peringatan 159 tahun perkeretaapian di Indonesia, Bobby menuturkan perjalanan ini juga sebagai bagian dari perayaan HUT PT KAI. Tema besarnya adalah mengenang sejarah perkeretaapian.

"Kita melakukan yang namanya joy ride atau heritage ride. Ini bagian dari perayaan eh ulang tahunnya KAI yang ke-81. Di mana tema dari ulang tahun ini itu adalah Wonderful Journey. Jadi, semua temanya itu adalah tema sejarah, tema heritage, tema kebudayaan dan tema kebangsaan Indonesia," ucap Bobby.

Bobby menjelaskan ada sejumlah evaluasi yang dilakukan pihaknya di usia ke-81 ini. Salah satu yang dia tekankan yakni soal keselamatan perjalanan.

"Sesuai dengan semangat kita semakin melayani tentunya pertama adalah faktor keselamatan yang tidak bisa kita toleransi sama sekali. Termasuk itu adalah pemasangan palang pintu yang sedang kita gencarkan pada saat ini," terang Bobby.

"Kemudian kita selalu menyosialisasikan agar pengendara-pengendara tidak melakukan penyerobotan di palang pintu yang tentunya ini akan bisa menyebabkan ketidakselamatan perjalanan kereta yang kita jalankan," imbuhnya.




(apl/ams)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork