Wisata Pasar Gede Solo, Spot Estetik dan Bersejarah Milik The Spirit of Java

Wisata Pasar Gede Solo, Spot Estetik dan Bersejarah Milik The Spirit of Java

Nur Umar Akashi - detikJateng
Selasa, 30 Des 2025 18:55 WIB
Wisata Pasar Gede Solo
Pasar Gede Solo. (Foto: Bennylin/Wikimedia Commons/CC BY-SA 3.0)
Solo -

Berbicara tentang wisata ikonik Solo, selain Pura Mangkunegaran dan Kampung Batik Kauman, ada pula Pasar Gede Solo alias Pasar Gede Hardjonagoro. Pasar megah yang dibalur warna putih ini menjadi tujuan wajib wisatawan kala melawat ke The Spirit of Java.

Menurut informasi dari Instagram resminya, @pasargedeofficial, Pasar Gede Solo beralamat di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Jebres, Solo. Jaraknya dari Balai Kota Surakarta hanya terpaut kurang lebih 180 meter saja.

Pasar tertua di Solo ini masih menjadi pusat perekonomian warga di tengah era modernisasi. Di sana, detikers dapat menemukan sederet kuliner legendaris, benda-benda kebutuhan harian, hingga aneka oleh-oleh yang lezat. Spot-spot foto yang estetik menambah daya tariknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tahukah kamu, di balik segudang kemilaunya yang mengundang pengunjung, Pasar Gede Solo juga punya sejarah panjang? Yuk, baca sejarah pendirian dan serba-serbi wisata Pasar Gede Solo melalui uraian di bawah ini!

Poin Utamanya:

ADVERTISEMENT
  • Pasar Gede Solo dibangun pada 1927 dan rampung tahun 1930. Pasar ini diresmikan oleh Paku Buwono X pada 12 Januari 1930.
  • Untuk berwisata ke Pasar Gede Solo, wisatawan bisa mengunjunginya kapan saja. Tidak ada tiket masuk yang diwajibkan.
  • Di antara daya tarik Pasar Gede Solo adalah pilihan kuliner dan jajanan pasar yang tersaji. Sudut-sudutnya juga cantik untuk diabadikan dengan kamera.

Sejarah Pasar Gede Solo

Diringkas dari tulisan Rudy W Herlambang dkk berjudul 'Pengenalan Cagar Budaya Pasar Gede Harjonagoro Surakarta bagi Generasi Muda Melalui Video Time Lapes' yang masuk Jurnal Ilmiah Seni Budaya, Pasar Gede Solo tidak bisa dilepaskan dari pendirian Keraton Solo oleh Paku Buwono II pada 1745.

Pada masa itu, orang-orang Tionghoa tidak diperkenankan tinggal di dalam tembok Keraton Surakarta. Alhasil, mereka bergeser menempati wilayah sebelah timur Sungai Pepe. Seiring berjalannya waktu, di tengah pemukiman, muncul sebuah pasar. Pasar inilah yang menjadi cikal bakal Pasar Gede Solo.

Dalam perkembangan selanjutnya, Pasar Gede Solo dibangun mulai 1927 pada masa kekuasaan Paku Buwono X. Pasar ini didirikan dengan total biaya sekitar 650.000 gulden, kira-kira setara 2,47 miliar rupiah. Usai 3 tahun pembangunan, Paku Buwono X meresmikannya pada 12 Januari 1930.

Menurut keterangan dalam buku Pasar Tradisional yang ditulis D. Indriati SCP dan Arif Widiyatmoko, arsitek Pasar Gede Solo adalah orang Belanda bernama Ir Thomas Karsten. Nama 'Gede' dipilih karena atapnya yang besar. Adapun 'Hardjonagoro' diambil dari nama seorang keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonagoro dari Kasunanan Surakarta.

Pasar Gede Solo tersusun atas 2 bangunan terpisah, yakni gedung timur dan barat. Masing-masing dibuat dengan 2 lantai. Apabila detikers perhatikan, gaya arsitekturnya kental perpaduan Belanda dan Jawa. Jendela-jendela besar dan ruangan berlangit-langit tinggi khas kolonial masih bisa disaksikan di pasar legendaris satu ini.

Jam Buka dan Harga Tiket Pasar Gede Solo

Sebagai sebuah tempat jujukan liburan, wisatawan tentu harus mengetahui jam buka dan harga tiket masuknya. Mengenai jam buka, pasar ini sejatinya bebas dikunjungi selama 24 jam. Meski begitu, beberapa pedagang tentu punya waktu operasional tersendiri.

Siapa saja bebas masuk pasar ini tanpa perlu membayar tiket. Paling-paling, detikers butuh merogoh kocek sebanyak 2000 rupiah untuk biaya parkir motor. Tenang saja, petugas parkir akan menatanya dengan rapi dan menjaga kendaraan tersebut sampai kamu kembali.

Daya Tarik Pasar Gede Solo

Apa sih daya tarik Pasar Gede Solo? Berikut poin-poin pentingnya:

1. Tempat Kulineran yang Asyik

Meski fungsi utamanya sebagai pasar, Pasar Gede Solo juga menyediakan segudang kuliner menarik, lho! Letaknya di lantai 2 gedung sebelah barat. Jadi, berbeda bagian dengan gedung yang berisi para penjual sayur, daging, hingga bumbu-bumbu rempah.

Di lantai 2 ini, ada beragam kuliner yang wajib detikers cicipi. Sebut saja selat solo, nasi liwet, tengkleng, dan timlo. Namun, ada juga kedai yang menyajikan menu-menu barat di sini. Tak terlewat, warung dimsum dan bakpao mini pun hadir.

Suasana makan di lantai 2 Pasar Gede Solo terasa asyik. Pengunjung berada di sebuah ruangan besar berlangit-langit tinggi. Di sepanjang pinggir ruangan itu, berdiri warung-warung makan dengan spesialisasinya masing-masing.

Usai memesan, kamu tinggal duduk santai sembari meresapi suasana tenteram yang menenangkan. Setelah siap, makananmu bakal langsung diantar. Tenang saja, harga kulinernya tidak membuat dompet kering kerontang, kok!

2. Surga Jajanan Pasar

Keluar dari bagian dalam gedung, detikers justru akan menemukan surganya jajanan pasar. Di antara jajanan yang bisa dicicipi adalah bolang-baling, cabuk rambak, lenjongan, kue pukis, dan intip.

Tak berhenti sampai di sana, di gedung timur Pasar Gede Solo, detikers bakal mudah menjumpai deretan penjual dawet khas Solo. Dawetnya terasa ringan dan adem berkat komponen es dan selasih. Es dawet ini juga diperkaya dengan bubur sumsum, tape ketan, dan potongan nangka.

3. Event Solo di Waktu Malam

Berdasar penjelasan dari akun Instagram resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, @pariwisatasolo, setiap Sabtu Malam, ada acara bernama Solo di Waktu Malam. Acara ini digelar di Koridor Ketandan Pasar Gede Solo.

Ada apa aja di acara ini? Kamu dapat berburu jajanan pasar dan menikmatinya ditemani suasana malam yang syahdu. Keuntungan lain mencari jajan di event ini adalah detikers tidak perlu terlalu lama antri menunggu!

Selain mencicipi aneka jajanan jadul, ada juga penampilan band yang membuat kondisi semakin semarak. Melalui acara ini pula, para wisatawan dapat bercampur-baur dengan warga Solo yang datang dari segala penjuru. Menambah relasi pastinya!

4. Spot Foto Estetik di Berbagai Sudut

Arsitektur Pasar Gede Solo yang punya karakter kuat sangat cocok dijadikan latar belakang foto. Karenanya, tidak mengherankan banyak orang datang ke pasar ini sekadar untuk mengabadikan momen.

Bayangkan, pasar tertua Solo ini memiliki atap tinggi, jendela besar, hingga pilar-pilar kokoh, memberikan komposisi visual yang dramatis. Lebih-lebih saat tersorot sinar Matahari yang membuat warna putihnya seakan berpendar.

Bukan hanya itu, Pasar Gede Solo sampai sekarang masih tampak 'hidup'. Artinya, ada aktivitas riil kegiatan jual beli bernuansa tradisional yang rutin berulang. Hal ini memberikan nilai estetik lain untuk ditambahkan ke foto.

Nah, itulah sekilas mengenai wisata Pasar Gede Solo, objek wisata ikonik di Solo yang wajib detikers kunjungi setidaknya sekali. Semoga bermanfaat!




(sto/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads