Itinerary 1 Hari di Solo ke Mana Saja? Ini 8 Tempat Wisata yang Bisa Dijelajahi

Itinerary 1 Hari di Solo ke Mana Saja? Ini 8 Tempat Wisata yang Bisa Dijelajahi

Angely Rahma - detikJateng
Senin, 29 Des 2025 17:38 WIB
Apa Bedanya Keraton Solo dan Puro Mangkunegaran? Ini Sejarah hingga Wilayahnya
Pura Mangkunegaran Solo. (Foto: Dok. Laman Resmi Mangkunegaran)
Solo -

Solo terkenal sebagai kota yang hangat dan penuh pesona di Jawa Tengah. Kota ini punya sejuta kisah budaya yang selalu menarik untuk disimak. Tak heran kalau kota ini sering jadi pilihan favorit buat mereka yang ingin berlibur, melepas penat, atau sekadar menikmati waktu santai bersama orang tersayang bahkan untuk merayakan moment hening bersama diri sendiri.

Ada banyak sekali tempat menarik yang bisa kamu datangi saat liburan ke Solo. Mulai dari wisata yang sarat nilai budaya, spot bersejarah, sampai lokasi bernuansa modern seperti deretan cafe kekinian. Belum lagi kuliner legendarisnya dan pilihan oleh-oleh unik yang wajib dibawa pulang.

Namun, tidak semua orang punya banyak waktu saat berlibur di Solo. Kalau kamu hanya punya waktu sehari di Solo, tenang, ini dia itinerary 1 hari di Solo versi detikJateng yang bisa kamu ikuti!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Itinerary 1 Hari di Solo ke Mana Saja?

1. Pasar Gede

07.00-18.30

ADVERTISEMENT

Destinasi pertama yang wajib kamu sambangi saat menginjakkan kaki di Solo tentu saja Pasar Gede! Kalau kamu datang naik kereta dan turun di Stasiun Solo Balapan, lokasinya sangat dekat dan cocok untuk sarapan sebagai bahan bakar berkeliling Kota Solo seharian.

Pasar Gede dikenal sebagai tempat yang menyenangkan untuk berburu kuliner khas sekaligus menikmati indahnya pagi di Kota Solo. Suasananya hidup, penjualnya ramah, dan pilihan makanannya beragam.

Melalui akun Instagram resminya, Pasar Gede merekomendasikan tiga kudapan tradisional yang layak dicoba. Pertama, brambang asem khas Solo, yang dibuat dari ubi rambat rebus dengan sambal asam-manis pedas, seharga Rp 5.000 per porsi. Kedua, grontol jagung, camilan dari jagung rebus yang ditambah garam, gula, dan parutan kelapa. Ketiga, lupis lontong dengan siraman gula Jawa, semuanya dibanderol sekitar Rp 5.000.

Selain itu, ada banyak pilihan kuliner lain seperti Es Dawet Telasih Bu Dermi seharga Rp 15.000, Leker CJDW, hingga dimsum Uma Yumcha yang sedang populer. Untuk menu yang lebih mengenyangkan, kamu bisa mencoba tengkleng Ibu Surati, jadah bakar, bakso goreng jumbo, serta berbagai wedang tradisional atau jamu yang dijual di area pasar.

Dengan harga yang ramah di kantong dan rasa yang memanjakan lidah, Pasar Gede bisa menjadi awal perjalanan yang menyenangkan selama berada di Solo. Lokasinya berada di Jl. Jend. Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

2. Kampung Batik Kauman

09.00-11.00

Setelah sarapan di Pasar Gede, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke Kampung Batik Kauman untuk menikmati suasana kampung batik yang penuh sejarah. Selain membeli oleh-oleh, banyak pengunjung juga memilih membeli batik untuk dipakai sepanjang berwisata, terutama jika kamu berencana mampir ke Pura Mangkunegaran, memakai batik tentu akan menambah pengalaman wisatamu.

Sebenarnya, Solo juga punya Kampung Batik Laweyan yang tidak kalah menarik. Namun, agar rutenya lebih dekat dari Pasar Gede, Kampung Batik Kauman bisa menjadi pilihan yang lebih praktis.

Menurut informasi dari laman resminya, Kampung Batik Kauman buka pukul 09.00 setiap hari, dan buka lebih awal pada 08.00 saat akhir pekan. Lokasinya berada di Jl. K.H. Hasyim Ashari No.1, Kauman, Pasar Kliwon, Surakarta.

Selain belanja batik, kamu juga bisa menemukan banyak spot foto yang cantik dengan nuansa budaya yang kuat mulai dari gang-gang kecil, bangunan bergaya Jawa tradisional, hingga sudut-sudut berarsitektur lawas yang instagramable.

Menurut laman Visit Jawa Tengah, di kawasan ini terdapat lebih dari 30 industri rumahan, sehingga pilihan motif dan coraknya sangat beragam. Keunikan lain dari Kauman adalah pengunjung bisa langsung melihat proses pembuatan batik, berinteraksi dengan perajin, hingga mengikuti workshop membatik jika tertarik.

Akses jalan di dalam kampung ini cukup sempit, jadi lebih nyaman jika kamu jalan kaki atau naik becak agar bisa menikmati suasana kampung secara perlahan. Sepanjang rute, kamu akan menemukan bangunan dengan arsitektur Jawa-Belanda, rumah joglo, dan rumah limasan yang tetap terjaga keasliannya.

Menariknya, tidak ada tiket masuk, kamu hanya perlu membayar parkir. Beberapa tempat bahkan menyediakan penyewaan skuter untuk berkeliling.

3. Mampir ke Coffee Shop Sekaligus Makan Siang

11.00-13.00

Setelah puas berbelanja batik, berfoto, dan menikmati suasana hangat Kampung Batik Kauman, kamu bisa berpindah ke nuansa yang lebih modern dengan mampir ke salah satu coffee shop di Solo untuk makan siang. Kota ini punya banyak kafe cantik dan unik yang cocok untuk rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Begitu keluar dari kawasan Kauman, kamu langsung menemukan deretan coffee shop di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Pilihannya pun bervariasi dan bisa kamu sesuaikan dengan selera estetikamu. Beberapa yang bisa kamu kunjungi antara lain Margi Coffee, RND Coffee, Get See, Odds, Succo Juice Bar, Tangga Putar, Sareh, Kavelokka, Sekutu Kopi, Tawa Coffee, La Luna, Slari, UD Djaya, Konichiwa, Communion, hingga Kalagyan.

Kalau tidak ingin jauh-jauh, di dalam area Kampung Batik Kauman sendiri juga ada beberapa cafe yang nyaman untuk sekadar ngopi, makan siang, atau beristirahat sambil menikmati suasana sekitar.

Opsi Alternatif: Museum Tumurun

Kalau kamu tidak ingin mampir ke coffee shop, Museum Tumurun bisa jadi pilihan seru berikutnya. Terletak di Jl. Kebangkitan Nasional No.2, Sriwedari, Laweyan, Surakarta, museum ini buka dari 10.00 hingga 16.00 WIB setiap Selasa-Minggu, dengan tiket masuk Rp 25.000.

Kamu juga bisa membeli tiket secara online melalui laman resmi temurunmuseum.org/id. Saat ini, museum sedang menggelar pameran Aku/Dunia hingga 4 Januari 2026. Menurut informasi dari laman Visit Jawa Tengah, Museum Tumurun adalah museum pribadi keluarga pendiri PT. Sri Rejeki Tekstil (Sritex) yang menampilkan koleksi seni milik keluarga Lukminto.

Di lantai dasar, pengunjung bisa menikmati lebih dari 100 karya seni, mulai dari instalasi ikonik "Floating Eyes" karya Wedhar Riyadi, mobil antik Mercedes Benz tahun 1972, hingga patung dan lukisan karya seniman terkenal Indonesia seperti Handiwirman Saputra, AD Pirous, JA Pramuhendra, Eddy Susanto, Eko Nugroho, Eddie Hara, dan Entang Wiharso.

Selain koleksi lokal, museum ini juga menampilkan karya internasional dari negara seperti Jepang, Filipina, Singapura, dan Amerika. Museum Tumurun menawarkan pengalaman seni yang kaya dan beragam, dari patung, lukisan, instalasi, hingga seni kontemporer, cocok untuk yang ingin menambah pengalaman budaya sekaligus inspirasi visual di Solo.

4. Pura Mangkunegaran & Makan di Restorannya

13.30-14.30

Setelah puas menikmati Museum Tumurun, destinasi berikutnya adalah Pura Mangkunegaran, salah satu ikon budaya dan sejarah Solo yang wajib dikunjungi. Dikutip dari laman Mangkunegaran, Pura ini buka setiap hari mulai 09.00 hingga 15.00 WIB.

Pura Mangkunegaran berlokasi di Jl. Ronggowarsito, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Harga tiket masuknya juga terjangkau, hanya Rp 30.000 saja. Tiket bisa dibeli secara online dan dibayar via QRIS atau mesin EDC.

Dibangun pada tahun 1757 oleh Raden Mas Said, yang lebih dikenal sebagai Pangeran Samber Nyawa (kemudian menjadi Pangeran Mangkunegoro I), Pura Mangkunegaran menampilkan arsitektur Jawa kuno joglo yang seluruhnya terbuat dari kayu. Menurut laman Visit Jawa Tengah, di sini kamu bisa melihat koleksi bersejarah dan bernilai seni tinggi, seperti topeng tradisional, perhiasan keraton, wayang, alat musik tradisional, serta buku-buku lama dari era Majapahit dan Mataram yang tersimpan di Perpustakaan Rekso Pustoko.

Pura ini juga terletak tidak jauh dari kawasan Ngarsopuro di Jalan Slamet Riyadi, membuatnya mudah dijangkau. Beberapa aturan penting yang perlu diperhatikan pengunjung antara lain:

  1. Mengisi daftar kunjungan di Kantor Pariwisata Mangkunegaran.
  2. Menggunakan pakaian sopan (dilarang memakai batik bermotif parang/lereng atau pakaian beludru).
  3. Melepas sandal/sepatu saat memasuki Pendhapa Ageng dan Pringgitan.
  4. Tidak diperbolehkan menggunakan tripod atau monopod di area Pura.

Jika kamu ingin menambah pengalaman, makan sore ala keraton Solo bisa dicoba di Pracimosono, restoran bergaya keraton yang mewah dan tradisional. Berlokasi di Jl. RA Kartini, Surakarta, restoran ini buka pada pukul 12.00-20.30 WIB setiap Senin-Kamis dan pukul 10.00-22.00 WIB pada hari Sabtu dan Minggu.

Pastikan reservasi jauh-jauh hari, ya! karena pengalaman makan di sini istimewa seperti sajian ala Jawa kuno, penyajian penuh tradisi, bahkan pelayannya mengenakan pakaian adat yang bisa menjadi pengalaman berharga ketika berkunjung ke solo.

5. Pasar Antik Triwindu

15.00-17.00

Setelah menjelajahi Pura Mangkunegaran, kamu bisa lanjut ke Pasar Triwindu, yang lokasinya tidak jauh, tepatnya di Jl. Diponegoro, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Pasar ini buka dari 09.00 hingga 16.00 WIB dan menjadi tempat yang tepat untuk berburu barang antik, oleh-oleh unik, atau sekadar berfoto karena arsitekturnya yang khas dan aesthetic.

Dikutip dari laman Mangkunegaran, Pasar Triwindu awalnya dibangun pada masa kepemimpinan KGPAA Mangkunegoro IV sebagai hadiah peringatan kenaikan tahta ke-24 tahun dari para sentana dalem Mangkunegaran pada tahun 1939. Nama "Triwindu" sendiri berasal dari kata tiga windu, yang berarti 24 tahun. Awalnya, pasar ini hanya terdiri dari bangunan sederhana dengan meja-meja yang menjual kue tradisional, pakaian, majalah, dan koran.

Seiring waktu, Pasar Triwindu terus berkembang. Pada tahun 2008, pasar ini dipugar menjadi bangunan berlantai dua dengan arsitektur yang menyesuaikan gaya Kota Solo. Kini, pasar ini terkenal sebagai pusat perbelanjaan barang antik sekaligus memiliki banyak spot foto menarik yang sayang untuk dilewatkan.

Sambil berkeliling, kamu juga bisa mencicipi kuliner khas Solo di Soto Triwindu, warung soto legendaris yang menjadi favorit warga dan wisatawan. Soto daging dengan kuah kecoklatan ini dinamai sesuai lokasinya yang dulu berada di dalam Pasar Triwindu.

Warung ini buka dari 05.30 hingga 15.30 WIB setiap hari dan berlokasi di Jl. Teuku Umar, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Sempurna untuk makan sore yang hangat setelah berjalan-jalan.

6. Istana Batik Keris: Belanja Oleh-oleh & Foto-foto

17.30-18.30

Kalau kamu masih ingin berburu oleh-oleh atau sekadar mencari spot foto cantik, Istana Batik Keris bisa jadi pilihan terakhir untuk hari ini. Bangunannya yang aesthetic memadukan gaya Eropa dengan sentuhan Jawa, serta dominasi warna putih yang elegan, membuat tempat ini sangat digemari sebagai latar foto.

Tak hanya itu, taman outdoor yang tertata cantik dengan air mancur di tengahnya menambah daya tarik bagi pengunjung yang ingin berfoto Instagramable. Sebenarnya, Istana Batik Keris juga merupakan pusat oleh-oleh, jadi kamu bisa sekaligus membeli souvenir khas Solo.

Untuk pengunjung yang ingin dipandu oleh guide, biasanya ada ketentuan membeli minimal satu souvenir tanpa minimal harga. Lokasinya berada di Jl. Perintis Kemerdekaan No.1, Bumi, Laweyan, Surakarta, dan buka setiap hari dari 09.00 hingga 21.00 WIB. Dengan kombinasi belanja dan spot foto yang menarik, Istana Batik Keris menjadi penutup yang sempurna untuk menikmati sore di Solo.

7. Nonton Wayang Orang di Gedung Sriwedari

19.00-21.00

Malam harimu di Solo bisa ditutup dengan pengalaman budaya yang khas, yaitu menyaksikan pertunjukan Wayang Orang di Gedung Sriwedari, yang beralamat di Jl. Kebangkitan Nasional No.15, Sriwedari, Laweyan, Surakarta. Gedung ini buka setiap hari Senin sampai Sabtu pukul 19.00-23.00 WIB, dan tiket masuknya sangat terjangkau, hanya Rp 5.000.

Sebagai kota budaya, Solo memiliki tradisi wayang kulit yang sudah ada sejak abad ke-17 hingga ke-18. Dikutip dari laman Visit Jawa Tengah, pada masa pemerintahan Paku Buwono X, pertunjukan wayang diselenggarakan untuk masyarakat umum di Taman Balekambang, Taman Sriwedari, dan pasar malam di alun-alun.

Para pemainnya tidak hanya berasal dari abdi dalem keraton, tetapi juga orang luar keraton yang berbakat menari. Meski sempat mengalami masa redup pada 1970-an karena perkembangan teknologi dan berkurangnya penonton, Gedung Sriwedari kemudian direvitalisasi pada 2011 untuk melestarikan kesenian tradisional Jawa.

Selain menikmati pertunjukan, pengunjung juga bisa melihat persiapan pemain sebelum tampil, seperti berdandan dan memoles wajah dengan kosmetik warna-warni. Momen ini sering menjadi objek foto human interest yang menarik. Menonton Wayang Orang di Gedung Sriwedari adalah pengalaman budaya, sekaligus merasakan seni dan sejarah Solo secara langsung.

8. Selat Solo Tenda Biru

21.30-23.00

Untuk menutup perjalanan sehari di Solo, jangan lewatkan mencicipi Selat Solo, hidangan khas yang unik dan penuh sejarah. Sebenarnya, makanan ini tersebar luas di solo dan mudah ditemukan. Namun, salah satu tempat paling populer untuk menikmati hidangan ini adalah di Selat Solo Tenda Biru.

Dikutip dari Portal Informasi Indonesia, Selat Solo berbahan dasar daging dengan saus cokelat manis, asam, dan gurih, di mana warna cokelatnya berasal dari kecap. Ceritanya, hidangan ini merupakan bentuk penyesuaian cita rasa Eropa agar cocok dengan lidah dan tradisi kuliner Keraton Solo.

Kata "Selat" berasal dari bahasa Belanda slachtje yang berarti salad, sedangkan dagingnya disebut steak (biefstuk). Namun, daging ala Eropa yang biasanya disajikan setengah matang diubah menjadi daging cincang yang dicampur sosis, tepung roti, dan telur, dibentuk menyerupai lontong, dibungkus daun pisang, lalu dikukus hingga matang. Setelah itu, daging diiris tebal dan digoreng sebentar dengan margarin, siap disajikan.

Hidangan ini dilengkapi sayuran seperti wortel, buncis rebus, tomat, dan daun selada, serta kentang goreng agar lebih mengenyangkan. Di atas daun selada biasanya ditambahkan saus mustard, kadang juga ada acar mentimun, dan telur rebus sebagai ciri khas Selat Solo.

Kombinasi daging dan salad berwarna-warni ini membuat Selat Solo tampak menggoda dan siap memanjakan lidah. Menikmati Selat Solo menjadi cara yang sempurna untuk menutup hari penuh budaya, kuliner, dan pengalaman seru di Solo.

Nah, sampai di sini detikers sudah tidak bingung lagi kan itinerary 1 hari di Solo ke mana saja? Dari mengunjungi Pasar Gede hingga menyantap kudapan di Selat Solo Tenda Biru, selamat berwisata di Solo, ya!

Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(sto/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads