Petis Bumbon Kuliner Khas Semarang yang Hanya Muncul Saat Ramadan

Petis Bumbon Kuliner Khas Semarang yang Hanya Muncul Saat Ramadan

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 24 Feb 2026 18:17 WIB
Petis Bumbon menjadi kuliner khas Ramadan yang dicari-cari di Aloon-aloon Kauman Semarang. Sajian ini hanya muncul setahun sekali.
Petis bumbon buatan Istiqomah yang hanya muncul saat Ramadan di Pasar Kuliner Aloon-Aloon Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Selasa (24/2/2026). (Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng)
Semarang -

Petis Bumbon menjadi salah satu kuliner khas Ramadan yang dicari-cari di Aloon-aloon Kauman Semarang. Sajian sambal berbumbu rempah kuat ini hanya muncul setahun sekali.

Pantauan detikJateng di Pasar Kuliner Ramadan Aloon-Aloon Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, tampak masyarakat Kota Semarang antusias berburu kuliner untuk berbuka puasa.

Pasar Kuliner Ramadan di Aloon-Aloon Semarang ini tengah menjadi jujugan masyarakat Kota Semarang untuk berburu takjil. Berbagai menu makanan bisa ditemui di Pasar tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Istiqomah (67), warga Semarang Tengah, menjadi salah satu generasi penerus penjual petis bumbon di kawasan tersebut. Ia menyebut, kuliner ini memang identik dengan momen jelang dan selama Ramadan.

"Petis bumbon itu khasnya ya pas Dugderan sama puasa. Setahun sekali. Kalau di luar itu nggak ada, jarang yang cari juga," kata Istiqomah saat ditemui detikJateng di lapaknya, Selasa (24/2/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, petis bumbon berbeda dengan sambal goreng biasa. Ciri khasnya terletak pada penggunaan rempah yang lebih kaya.

"Kalau petis bumbon rempah-rempahnya lebih banyak. Ada serai, daun salam, lengkuas, sama petis Banjar, petis dari ikan," jelasnya.

"Rasanya cenderung asin sama kuat. Namanya sambal kalau nggak berasa ya nggak laku. Rasanya ya asin-asin, gurih," lanjutnya.

Istiqomah sendiri merupakan generasi keempat yang meneruskan usaha keluarga tersebut. Keluarganya sudah berjualan sejak era 1970-an.

"Kalau saya sendiri sudah sekitar 10 tahun jualan di Dugderan," katanya.

Selain petis bumbon, ia juga menjual coro santen dan ketan biru, makanan khas Pasar Kuliner Ramadan Aloon-Aloon Kauman. Namun, yang paling banyak diburu pembeli tetap petis bumbon.

"Paling banyak dicari ketan petis bumbon. Ada pelanggan dari luar kota juga, dari Bandung, Surabaya, Solo," tuturnya.

Dalam sehari, Istiqomah bisa menghabiskan hingga 30 telur bebek. Berkaca dari tahun sebelumnya, 100 porsi bisa ludes dalam sehari saat sudah masuk pertengahan Ramadan.

"Harganya satu porsi petis bumbon Rp 12 ribu, telur saja. Kalau ditambah lontong, harganya Rp 20 ribu," ujarnya.

Proses memasak petis bumbon itu, kata Istiqomah, juga tidak sebentar. Ia mengaku harus mulai memasak sejak pagi hari.

"Masaknya lama, dari pagi. Lomboknya harus sampai keluar minyak, itu tandanya sudah matang dan enak," ujarnya.

Salah satu pelanggan setia petis bumbon asal Sampangan, Arief AA (47), tampak tengah mengantre bersama keluarganya. Ia mengaku selalu menyempatkan diri membeli kuliner tersebut setiap Ramadan.

"Sudah langganan mungkin 10 tahun. Setiap Ramadan pasti beli. Soalnya ini legendaris, mantap lah rasanya," kata Arief.

Arief mengaku paling menyukai coro dan gudeg koyor yang juga dijual Istiqomah. Menurutnya, berkunjung ke Dugderan tanpa mencicipi kuliner legendaris tersebut terasa kurang lengkap.

"Rasanya khas, komplit. Beda dari yang lain. Makanya wajib menclok ke sini kalau Ramadan," tuturnya.




(aku/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads