Jamu Coro Demak yang Kian Langka, Jadi Incaran Pemburu Takjil Pasar Krempyeng

Jamu Coro Demak yang Kian Langka, Jadi Incaran Pemburu Takjil Pasar Krempyeng

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Selasa, 24 Feb 2026 16:56 WIB
Lapak jamu coro di Jalan Bhayangkara, Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, diserbu pembeli pada Selasa (24/2/2026).
Lapak jamu coro di Jalan Bhayangkara, Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, diserbu pembeli pada Selasa (24/2/2026). (Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng)
Demak -

Pasar dadakan atau pasar krempyeng di Jalan Bhayangkara, Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, selalu ramai pedagang terutama menjelang waktu berbuka puasa. Mereka menjajakan aneka makanan dan minuman kepada para pemburu takjil di Demak Kota.

Salah satu yang menjadi buruan yakni jamu coro khas Demak. Adalah Latif (25), salah satu pedagang yang menjajakan minuman kaya rempah yang konon merupakan warisan dari Kesultanan Demak Bintoro ini.

"Sampai sekarang alhamdulillah saya meneruskan tradisi dari keluarga saya dulu yang masih jualan jamu coro sampai sekarang. Dari nenek saya, ayah saya sampai sekarang ini saya teruskan," kata Latif sambil meracik jamu coro pesanan pembeli, Selasa (24/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gerobak jualan Latif yang berwarna merah itu berada di perempatan Kali Tuntang, Jalan Bhayangkara. Latif hanya menjual dua variasi jamu coro, yakni jamu coro aja dan bubur jamu coro yang dihargai Rp 4 ribu, serta bubur sum sum seharga Rp 3 ribu.

Gerobak jualan itu dinamai Bubur Jamu Coro Mas Mawan, diambil dari nama ayah Latif. Pantauan detikJateng, gerobak jualan itu tak pernah sepi. Pembeli datang silih berganti meminta Latif meracik jamu coro.

ADVERTISEMENT

"Jamu coro ini perpaduan dari rempah-rempah Indonesia. Terdiri dari belasan rempah-rempah, ada kayu manis, ada sereh, ada jahe, ada merica, ada kunir, semua ada. Pokoknya ada belasan rempah-rempah, sekitar 15 lah," ujar Latif.

Dalam sehari, Latif bisa menjual hingga 300 porsi jamu coro. Selama Ramadan, ia melapak menjelang sore, mulai pukul 14.30 WIB hingga waktu berbuka puasa.

"Nanti tutup habis magrib," ucap Latif.

Asal Usul Jamu Coro

Dikutip dari laman Madosi Jateng milik Disporapar Pemprov Jateng, jamu coro merupakan warisan pengobatan tradisional Jawa yang sarat akan nilai sejarah. Penamaannya berakar dari istilah 'coro' yang bermakna 'menjaga' atau 'melindungi', selaras dengan fungsinya yaitu untuk menjaga kesehatan dan mencegah berbagai penyakit.

Dilansir dari situs Pemkab Demak, sejarah jamu coro bermula pada akhir abad ke-15 saat seorang mantan abdi dalem Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak, Ki Ageng Kakibalar memilih mengabdi kepada masyarakat di Dukuh Tegalsari, Desa Rejosari.

Saat berusia 125 tahun, Ki Ageng Kakibalar menyebarkan resep ramuan jamu coro tersebut sebagai 'cara' atau 'sarana' menolong sesama. Tradisi pengobatan ini kemudian diteruskan secara turun-temurun.

Lapak jamu coro di Jalan Bhayangkara, Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, diserbu pembeli pada Selasa (24/2/2026).Lapak jamu coro di Jalan Bhayangkara, Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, diserbu pembeli pada Selasa (24/2/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

Mulai Langka

Latif menjadi satu-satunya pedagang jamu coro di pasar krempyeng atau pasar tiban Jalan Bhayangkara. Seorang pembeli, Dwi Teguh Putrono (61) juga mengatakan saat ini pedagang jamu coro sudah mulai sulit dijumpai di Demak.

"Dulu memang banyak yang jual jamu coro, sekarang baru saya temukan di sini, yang lain belum ada. Dulu yang yang banyak jual jamu coro di Stasiun Demak. Sekarang stasiun kan sudah ndak ada, baru masnya ini yang saya temui sekitar dua tahun lalu," kata Dwi.

Dwi yang kini tinggal di Kudus mengaku selalu menyempatkan mampir ke lapak jamu coro ini saat pulang ke Demak. Cita rasa nikmat dan sensasi menghangatkan badan dari jamu coro racikan Latif membuat Dwi ketagihan.

"Rasanya juga enak kalau di sini, makanya ketagihan ke sini. Sekarang saya tidak tinggal di Demak, tapi tinggal di Kudus. Sehingga kalau pulang ke Demak, saya pasti mampir ke sini untuk membeli jamu coro," tutur Dwi.

"Rasanya segar, rasa jahenya juga kuat, sehingga badan terasa hangat. Jahe sama merica itu loh, sama ketan. Beras ketan dicampur, terus dikasih jahe, dikasih merica. Ya mericanya itu yang membuat badan kita jadi hangat," sambungnya.

Dwi yang merupakan penyuka jamu coro sejak kecil, merasa jajanan ini adalah warisan dari Demak yang patut dilestarikan. Oleh sebab itu, dia juga selalu membeli jamu coro dalam jumlah banyak untuk mengenalkan warisan kuliner ini pada anak cucunya.

"Jamu coro itu legend. Jamu coro itu yang jadi kebanggaan saya, kesukaan saya sejak kecil sampai sekarang. Ini saya beli bungkus banyak juga buat anak cucu," pungkas Dwi.



(aku/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads