Kisah Meyda Penjahit Muda Pati, Setia di Jalur Kebaya

Kisah Meyda Penjahit Muda Pati, Setia di Jalur Kebaya

Dian Utoro Aji - detikJateng
Minggu, 05 Jul 2026 15:00 WIB
Produsen kebaya di Pati, Meyda Dewi Trisbiani. Foto diunggah Minggu (5/7/2026).
Produsen kebaya di Pati, Meyda Dewi Trisbiani. Foto diunggah Minggu (5/7/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Pati -

Busana tradisional jenis kebaya ternyata masih mampu memikat kaum muda untuk memproduksinya. Seorang pengusaha garmen muda asal Pati, Meyda Dewi Trisbiani, masih setia melestarikan kebaya sebagai salah satu warisan budaya Indonesia melalui sentuhan desain modern yang mengikuti tren masa kini.

Keseharian ia memproduksi kebaya. Hanya kebaya, tanpa ada jenis busana lain, mulai dari kebaya model klasik maupun kontemporer. Produksinya dibuat berdasarkan pesanan dari pelanggan dengan model custom.

Meyda, begitu sapaannya, tinggal di Dukuh Rendole Desa Muktiharjo Blok C Kecamatan Margorejo. Rumahnya sekaligus digunakannya sebagai workshop. Dia juga memiliki tempat usahanya yang lain di Pasar Turi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meyda mulai merintis usaha dari sejak lulus sekolah tingkat menengah atas kejuruan (SMK) sederajat di Pati, sembilan tahun silam. Ia saat itu mulai merintis usaha bidang desain, seperti tas, pakaian jadi dan sepatu.

ADVERTISEMENT

"Sejak lulus tahun 2017 saya sudah mulai merintis usaha bidang bisnis fashion menerima custom busana dan jualan tas, pakaian jadi dan sepatu. Yang bertahan sampai sekarang bisnis fashion custom, desain kebaya," jelas Meyda ditemui detikJateng di rumahnya, Senin (29/6/2026).

Kemampuannya dalam menjahit dan membuat kebaya sebenarnya sudah dia dapatkan dari kecil. Sebab ia lahir dari keluarga penjahit. Ibunya, seorang penjahit. Hal ini membuatnya dekat dengan urusan jahit-menjahit.

"Kalau keahlian memang ada keturunan dari orang tua saya, ibu saya pada dasarnya adalah penjahit dari sejak kecil melihat mendesain busana dan saya ada keinginan dan juga minat yang sama dengan ibu," jelasnya.

Keahliannya ini pun ditunjang dengan sekolah. Meyda memilih sekolah di kejuaraan desain di Pati.

"Belajar dengan ibu dan sekolah di bidang fashion. Sejak umur 13 sampai 15 tahun dan sekolah di SMK jurusan desain pakaian," jelasnya.

Meyda mengatakan, dia memproduksi kebaya sesuai orderan pelanggan yang datang dengan berbagai ukuran dan permintaan model. Salah satu model yang kerap dipesan adalah kebaya kutubaru karena memberikan kesan klasik namun stylish yang sering dipadukan dengan kain motif lilit atau celana. Lalu ada model crop dan perlu yakni potongan baju yang lebih pendek di atas pinggang atau melebar di bagian bawah dan sering dipadukan dengan lengan balon.

"Desain kebaya yang kami produksi mengikuti tren pasar yang sedang ramai saat ini. Tren pasar saat ini," jelasnya.

Namun, karya Meyda ini yang cukup dikenal dan banyak disukai adalah kebaya dengan model glamour dengan detail payetnya yang rumit. Desain yang sepenuhnya dibuat khusus custom. Kebaya buatannya juga menggabungkan potongan tradisional dengan sentuhan elegan modern.

Kualitas payet yang detail dan halus menjadi daya tarik utama. Menurutnya hal tersebut membuat kesan glamor dan mewah tanpa terlihat berlebihan. Hal tersebutlah yang membuat pekerjaan kebaya buatannya membutuhkan kesabaran yang tinggi.

"Jadi tingkat kesulitan sangat sulit dan kesabaran yang sangat tinggi. Payet yang detail dan halus menjadi kebaya ini lama dikerjakan," jelasnya.
Karena pekerjaan yang detail dan sesuai pesanan, maka harga kebaya buatan Meyda dibandrol mulai dari Rp 1 juta sampai dengan Rp 5 juta.

"Harganya Rp 1 juta sampai Rp 5 juta tergantung kesulitan dan detail setiap modelnya," terang dia.

Dalam menyelesaikan pesanan kebaya, Meyda kini telah dibantu oleh belasan karyawannya. Mereka memproduksi kebaya 100 model setiap bulan. .

"Di sini ada 17 pekerja. Kalau dari kebaya sendiri karena pegawai terbatas jadi produksi yang kami kerjakan tidak banyak. Paling 100 setiap bulan," jelasnya.

Meyda menambahkan perkembangan usahanya ini tidak lepas dari bantuan dari perbankan. Lewat program BRI Peduli UMKM, usaha miliknya bisa berkembang sampai sekarang ini.

Selain bantuan permodalan, Meyda mengaku mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan usaha bidang fashion ini.

"Saya pernah mendapatkan bantuan dari BRI dari program BRI Peduli. Mulai dari pendampingan mengembangkan usaha dan permodalan, dan alhamdulillah membantu dalam stok produk dan skala produksi yang lebih besar," terang dia.

Terpisah Branch Office Head BRI BO Pati, Yuswandita Toesa Febrianto, menyampaikan komitmen BRI untuk terus hadir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dikatakan bahwa BRI senantiasa berupaya menjalankan peran tidak hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat meningkatkan usaha agar naik kelas.

"Kami ingin berbagi kebahagiaan sekaligus menumbuhkan semangat kepedulian sosial. Semoga ini membawa keberkahan bagi kita semua," ungkapnya.



(ahr/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads