Polisi mengungkap kondisi terkini ibu dari bayi yang ditemukan dikubur di perkebunan Dusun Kropoh, Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Perempuan berinisial VA (17) itu mengalami infeksi rahim.
"Saat ini terhadap pelaku anak kami laksanakan pembantaran penahanan karena ada infeksi dalam ada di rahimnya. Jadi saat ini sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Kabupaten Semarang," kata Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Bodia Teja Lelana, saat konferensi pers di Mapolres Semarang, Rabu (9/9/2026).
Bodia mengungkapkan proses melahirkan bayi itu dilakukan sendirian oleh sang ibu di kamar mandi rumahnya. Karena takut ketahuan, pelaku menarik paksa buah hatinya agar cepat keluar.
"Melahirkan seorang bayi berjenis kelamin perempuan tanpa bantuan medis. Proses persalinan dilaksanakan secara terburu-buru takut diketahui orang sehingga ketika belum tuntas persalinan pelaku anak menarik paksa bayi tersebut hingga keluar dari rahim," ujar Bodia.
Bodia menjelaskan persalinan paksa ini membuat bayi kehabisan napas dan tewas. Hal itu dikarenakan sang ibu menarik bagian lehernya.
"Penyebab matinya itu ada habis napas ya. Habis nafas karena ketika persalinan belum selesai berusaha ditarik. Ditarik itu kan megangnya leher, ya hasil autopsinya seperti itu," kata Bodia.
Bodia menjelaskan bahwa pelaku sempat mengira jika bayinya meninggal saat dilahirkan. Namun dari pemeriksaan medis, bayi itu sebenarnya bisa hidup.
"Dikira oleh pelaku anak itu meninggal secara natural karena mungkin tidak bisa, tapi dari hasil autopsi itu bisa hidup di luar kandungan," ujar Bodia.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari pelaku kepada penyidik. Bodia menyampaikan ketika bayi itu keluar dari rahim ibunya, tidak ditemukan lagi tanda-tanda kehidupan.
"Bahwa setelah lahir, pelaku anak menerangkan bayi tersebut tidak menangis dan tidak bergerak," ucap Bodia.
Bodia menuturkan pelaku lalu berupaya menghilangkan jejak melahirkan. Selain itu, dia juga menyembunyikan bayinya sebelum dikubur oleh pacarnya.
"Kemudian pelaku anak memotong tali pusat dengan gunting, membuang ari-ari ke kloset, membersihkan dan membungkus bayi bungkus dengan daster dan memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam. Lalu diletakkan di bawah angkong di samping rumah," terang Bodia.
Bayi itu lalu diambil oleh pacar pelaku anak, seorang laki-laki berinisial WAP (19). Bayi tersebut lalu dikubur di kebun belakang rumahnya dan plastik pembungkusnya dibakar untuk menghilangkan jejak.
"Setelah mengetahui keberadaan bayi tersebut, tersangka mengambil dan memindahkannya ke lingkungan rumahnya dengan maksud sebagaimana keterangan untuk menguburkan bayi dan membakar plastik pembungkus agar tidak diketahui orang lain," ucap Bodia.
Bodia mengungkapkan profil kedua pelaku, yakni lulusan dari sekolah yang sama. Mereka sudah lulus awal tahun ini.
"Satu sekolah, lulusan SMK, salah satu SMK di Kabupaten Semarang. Sudah lulus dua-duanya bulan Maret," beber Bodia.
(apu/afn)