Pendiri pondok pesantren berinisial AS (52) di Kabupaten Pati ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pemerkosaan terhadap puluhan santriwati. Ternyata dari dulu banyak warga yang tidak suka terhadap tersangka karena menjadi korban penipuan hingga kekerasan seksual.
Pemuda setempat Ahmad Nawawi mengatakan setelah adanya demo, ponpes ini aktivitas sudah sepi. Menurutnya para santri telah dievakuasi ke keluarga masing-masing.
"Sekarang ini tidak ada aktivitas sama sekali, untuk santri putri juga," kata Ahmad Nawawi ditemui di lokasi, Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya sejak lama warga sekitar tidak suka dengan pendiri ponpes AS ini. Menurutnya beberapa warga menjadi korban penipuan sampai dengan dugaan kekerasan seksual oleh pendiri ponpes cabul tersebut.
"Kejadian sudah lama, masyarakat sini tidak menyukai tersangka. Untuk masyarakat sebelum kasus ini terungkap ke publik masyarakat sudah resah," terang dia.
"Resah banyak korban, ada penipuan, kekerasan, dan pencabulan seksual pada santri putri khusus anak di bawah umur," lanjut dia.
Nawawi mengatakan meskipun demikian ternyata dulunya banyak yang memberikan donasi ke ponpes tersebut. Sebab ponpes itu dulunya dikenal menampung dari santri kalangan keluarga tidak mampu hingga anak yatim piatu.
"Kalau dulu yang pernah ke ponpes dan memberikan donasi," kata dia. Dia menyebut sebagian pemberi sumbangan diketahui sebagai pejabat.
Oleh karena itu Nawawi berharap kepada kepolisian untuk segera dan cepat menangkap tersangka supaya tidak berlanjut pada korban selanjutnya.
"Kalau tidak ada tindakan secepatnya dari Kapolresta Pati kami akan mengadakan aksi kedua yang besar di Polresta Pati. Dengan tuntutan secepatnya mengusut tuntas dan menangkap tersangka," terang dia.
Terpisah Kuasa Hukum Korban, Ali Yusron mengatakan mayoritas santri di ponpes itu berasal dari keluarga tidak mampu dan yatim piatu. Mereka tinggal di ponpes itu agar mendapatkan pendidikan gratis. Tidak sedikit para dermawan yang memberikan donasi ke ponpes tersebut.
"Intinya orang tua itu biar sekolah gratis. Makanya dermawan banyak bantu karena di sana banyak anak yatim piatu, banyak yang membantu ke sana," kata Ali ditemui di Pati hari ini.
Diberitakan sebelumnya, ponpes di Tlogowungu ditutup dan dilarang menerima santri baru. Hal ini dilakukan setelah pendiri ponpes ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan pemerkosaan terhadap puluhan santriwati.
(alg/ahr)
