Dibekuknya Dwi Hartono, otak pelaku penculikan dan pembunuhan seorang Kacab bank di Jakarta yang bernama Mohamad Ilham Pradipta, membuka tabir masa lalu pelaku yang ternyata seorang residivis. Dwi pernah duduk kursi pesakitan terkait kasus ijazah palsu di Kota Semarang.
Tak kalah mengejutkan, ternyata dia pernah berupaya untuk menjadi Bupati Pemalang pada 2024 lalu. Dwi sudah mengambil formulir bakal calon Bupati Pemalang kala itu.
Ditangkap Kasus Penculikan-Pembunuhan
Diketahui, Ilham Pradipta ditemukan tewas di semak-semak daerah Serang Baru, Kabupaten Bekasi, pada Kamis (21/8) lalu dengan wajah, kaki, dan tangan terikat lakban. Dari rekaman CCTV di sebuah supermarket di Pasar Rebo, Jakarta Timur, diketahui bahwa Ilham diculik sehari sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepolisian langsung melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan 15 orang yang salah satunya adalah Dwi Hartono. Dwi yang dikenal sebagai motivator dan bos bimbingan belajar online itu ternyata merupakan otak dari aksi keji tersebut. Para tersangka lain memiliki peran masing-masing.
"DH merupakan salah satu dari aktor intelektual penculikan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi dikutip dari detikNews, Selasa (26/8).
Tim Subdit Jatanras Polda Metro Jaya meringkus Dwi Hartono dan dua tersangka lainnya yakni berinisial YJ dan AJ di Solo pada Sabtu (23/8) malam. Polisi juga menangkap tersangka lainnya berinisial C di kawasan PIK, Jakarta Utara keesokan harinya.
Penangkapan keempat pelaku tersebut adalah hasil dari pengembangan empat tersangka lainnya yakni Eras, AT, RS, dan RAH. Polisi menangkap Eras, AT, RS, dan RAH di Jalan Johar III, Jakarta Pusat dan Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo, NTT pada Kamis (21/8).
Residivis Kasus Ijazah Palsu
Catatan kejahatan Dwi Hartono terbongkar setelah ia dibekuk. Dia pernah dipenjara terkait kasus pemalsuan ijazah pada tahun 2012 lalu.
Saat itu Dwi yang memiliki nama alias Feri ditangkap tim dari Polrestabes Semarang yang kala itu dipimpin Kapolrestabes Semarang, Elan Subilan yang berpangkat Kombes. Dari catatan detikJateng, ketika itu Dwi Hartono merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Dia memanipulasi nilai milik empat calon mahasiswa agar masuk ke FK Unissula.
"Lewat bimbingan belajar bernama Smart Solution, dia (Feri) bisa membuat orang masuk ke universitas bahkan dengan mengubah ijazah IPS menjadi IPA," ungkap Kapolrestabes Semarang yang saat itu dijabat oleh Kombes Elan Subilan di Mapolres, Jalan Dr Sutomo, Semarang, Senin, 28 Mei 2012.
Surat kaleng berisi kelakuan Dwi Hartono sempat beredar termasuk memuat soal tarif ke Dwi sekitar Rp 100 juta sampai Rp 500 juta jika ingin masuk lewat 'pintu belakang'. Bahkan Dekan FK Unissula yang kala itu dijabat Taifuqurrachman ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang pada 23 April 2012.
Pihak kampus sempat akan mencabut laporan namun polisi tetap lanjut karena perkara itu masuk pidana murni. Bahkan kemudian terkuak Dwi melakukan joki pengerjaan tes masuk kampus. Adapun modusnya yakni melibatkan joki dalam pengerjaan tes dan jawaban diberikan penjoki kepada calon mahasiswa melalui pesan singkat menggunakan ponsel berbentuk jam tangan.
"Jadi modusnya menggunakan jam tangan canggih yang bisa digunakan untuk SMS dan telepon," ujar Elan.
Unissula Ungkap Kasus Masa Lalunya
Nama Unissula Semarang disebut-sebut setelah Dwi Hartono ditangkap kasus pembunuhan. Pihak kampus pun menjelaskan soal kasus pemalsuan ijazah yang pernah menjerat Dwi saat masih berkuliah di Unissula.
"Yang bersangkutan itu dulu itu makelar penerimaan mahasiswa baru. Jadi dia memalsukan ijazah SMA calon mahasiswa baru dari IPS menjadi IPA, atau paket C, supaya bisa diterima di Fakultas Kedokteran Unissula," kata Wakil Rektor I Unissula Bidang Akademik dan Kerja Sama, Andre Sugiono saat dihubungi detikJateng, Rabu (27/8/2025).
Andre menegaskan nama kampusnya terseret karena Dwi memalsukan ijazah calon mahasiswa yang ingin masuk Unissula. Menurutnya Unissula tidak terlibat dan siswa yang mendaftar menggunakan ijazah palsu memang tidak diterima.
"Ketahuannya dari prosedur ada verifikasi dan validasi ijazah SMA calon mahasiswa baru. Yang dipalsukan ijazah SMA, bukan Unissula," ungkapnya.
"Yang jelas pada saat itu 2012 terungkap dan sudah divonis hukumannya. Siswanya nggak ada yang keterima," lanjutnya.
Hasrat Ingin Jadi Bupati Pemalang
Dwi bukan kader partai, tapi dia ternyata punya hasrat politik dan ingin jadi kepala daerah. Dia bahkan mendaftar sebagai calon Bupati Pemalang pada Pilkada 2024. Dia mencoba mendaftar lewat DPC PKB Pemalang
"Iya kalau yang dimaksud adalah Dwi Hartono yang beralamat di Cibubur, Jakarta, itu memang betul pernah mengambil formulir pendaftaran calon kepala daerah di Kabupaten Pemalang tahun 2024 lalu," kata Ketua DPC PKB Pemalang, Iskandar Ali Syahbana saat dimintai konfirmasi, Rabu (27/08/2025).
Iskandar mengatakan saat muncul orang bernama Dwi Hartono sebagai otak pembunuhan, dia terkejut. Setelah dicek, ternyata benar Dwi pernah bertemu dengannya di Kantor DPC PKB Pemalang.
"Yang bersangkutan orang dari luar, perseorangan murni, bukan kader PKB. Seingat saya ber-KTP Cibubur Jakarta, tapi memang kelahiran dan punya rumah di Kabupaten Pemalang," ungkapnya.
"Yang bersangkutan orang dari luar, perseorangan murni, bukan kader PKB. Seingat saya ber-KTP Cibubur Jakarta, tapi memang kelahiran dan punya rumah di Kabupaten Pemalang," sambungnya.
(dil/afn)