Heboh Nyaris Rp 100 T di Rekening Brigadir J, Pengacara: Itu Kode Blokir

Heboh Nyaris Rp 100 T di Rekening Brigadir J, Pengacara: Itu Kode Blokir

Angling Adhitya Purbaya - detikJateng
Sabtu, 26 Nov 2022 09:23 WIB
Kuasa hukum Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak, di Semarang, Jumat (25/11/2022) malam.
Kuasa hukum Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak, di Semarang, Jumat (25/11/2022) malam. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng
Semarang -

Kuasa hukum Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak menyebut tak semua orang paham dengan rekening almarhum Brigadir J yang nyaris Rp 100 triliun. Kamarudin menegaskan itu kode dalam pemblokiran rekening.

Hal itu diungkapkan Kamaruddin saat mendampingi pengusaha Agus Hartono di Kota Semarang. Menurut dia, ada yang tidak paham soal kode pemblokiran itu sehingga menjadi heboh.

"Sebenarnya itu karena ada yang tidak paham tentang kode PPATK. Jadi biar pun pangkat jenderal kalau dia tidak pernah berperkara PPATK dia belum mengerti," kata Kamaruddin di Semarang, Jumat (25/11/2022) malam.


Kamaruddin menjelaskan, semula pihaknya melaporkan ke Kabareskrim agar PPATK terlibat terkait rekening Brigadir J. Ternyata PPATK sudah memblokir rekening kliennya.

"Saya laporkan ke Bareskrim dan desak PPATK terlibat. Pasca PPATK terlihat itu diblokir, khususnya BNI cabang Cibinong. Dibuat jumlah uangnya 999999 sampai 12 kali atau 14 kali, Rp 100 T kurang satu rupiah. Itu sebenarnya kode. Kode bahwa PPATK telah blokir," kata Kamaruddin.

"Belum tentu ada uangnya sebesar itu. Itu kode PPATK. Tapi tidak semua polisi, jaksa, mengetahui kecuali pernah terlibat dalam PPATK," imbuh Kamaruddin.

Untuk diketahui, aktivis Irma Hutabarat lewat kanal Youtubenya membeberkan informasi adanya surat yang diterima keluarga Brigadir Yosua dari BNI Cabang Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Kemudian beredar surat berupa Berita Acara Penghentian Sementara Transaksi yang tertanggal 18 Agustus 2022.

Berita acara itu ditandatangani oleh Anita Amalia Dwi Agustine, Asisten PNC BNI sekaligus saksi dari BNI dalam kasus Brigadir Yosua.

Di dalam berita acara itu disebutkan pula nilai nominal mencapai Rp 99,99 triliun dengan jenis transaksi debet. Angka inilah yang kemudian diduga sebagai saldo ataupun transaksi dari rekening Brigadir Yosua.

Dilansir detikNews, Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo sudah menjelaskan soal nominal nyaris Rp 1 triliun itu.

"Itu nominal angka maksimum transaksi di sistem," kata Okki dalam keterangannya, Jumat (25/11), dikutip dari detikNews.

Okki menyatakan angka tersebut sudah menjadi standar yang sama sebagai angka pemblokiran maksimal. "Standar sama untuk melakukan blokir maksimal," lanjut Okki.



Simak Video "Sambo: Jika Penyidik Berpihak, Saya dan Istri Tak Mungkin di Sini"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/dil)