Nasional

Mahfud Sebut Orang-orang Ferdy Sambo Sembunyikan Kasus dari Kapolri

Tim detikNews - detikJateng
Kamis, 18 Agu 2022 18:43 WIB
Menko Polhukam Mahfud Md
Foto: Menko Polhukam Mahfud Md (dok. Kemenko Polhukam)
Solo -

Menko Polhukam Mahfud Md mengatakan Irjen Ferdy Sambo memiliki kelompok kuat hingga seperti mempunyai kerajaan sendiri di Polri. Orang-orang Ferdy Sambo itu disebut yang menyembunyikan kasus dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Dilansir detikNews, Mahfud Md menilai ada kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kekuatan dan menjadi penghambat bagi Kapolri.

"Kalau saya memahaminya karena di Polri itu memang ada pusat-pusat kekuatan. Jadi kenapa Kapolri itu tidak selalu mudah menyelesaikan masalah, karena dia sebenarnya meskipun secara formal dia menguasai, tapi di situ ada kelompok-kelompok yang bisa menghalangi, termasuk yang kasus (Ferdy Sambo) ini kan," kata Mahfud dalam podcast bersama Akbar Faizal yang disiarkan melalui YouTube, seperti dilihat, Kamis (18/8/2022). detikcom sudah mendapatkan izin untuk mengutip pernyataan Mahfud.


Mahfud menjelaskan, dalam kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, ada informasi yang disembunyikan oleh orang-orang Ferdy Sambo sehingga kasus terkesan lambat diproses. Meski demikian, menurut Mahfud, Kapolri cukup responsif menerima dan menjawab masukan dari berbagai pihak terkait kasus Brigadir J.

"Misalnya yang kasus Sambo ini disembunyikan dari Kapolri oleh orang-orangnya Sambo, sehingga Kapolri agak terasa lambat, tapi dia kan apa, responsif terhadap isu-isu dari luar. Misalnya komunikasi dengan kita dengan masyarakat dia jalan meskipun agak terlambat tapi itu menunjukkan bahwa perlu ada pembenahan di Polri itu agar terjadi kesatuan sebagai sebuah institusi pemerintah di bidang keamanan," jelasnya.

Sambo Punya Kekuasaan Besar

Mahfud juga menyebut jika Ferdy Sambo saat menjabat sebagai Kadiv Propam Polri memiliki kekuasaan yang besar. Bahkan banyak yang takut kepada Sambo.

"Jadi begini, di Div Propam itu, Kadiv Propam (Irjen Ferdy Sambo) mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Karena Div Propam itu mempunyai sebagai Divisi ada di sini direktorat-direktoratnya atau deputinya itu yang semua di bawah kuasanya, yang menyelidiki ini yang memeriksa ini, yang memberikan hukum ini, yang mengeksekusi ini, yang memindah orang ini, yang memecat ini dan semuanya harus persetujuan Pak Sambo," kata Mahfud.

"Pada akhirnya mulai dari memeriksa, menghukum, mengadili memindah, menaikkan di situ memberikan fasilitas, apa, ada di Kepala Divisi ini, ada di Kadiv. Itu lah sebabnya mungkin sebaiknya pakai sistem ketatanegaraan kita aja. Yang memeriksa dan yang menghukum beda dong, gitu. Sehingga disejajarkan aja dengan Sambo menurut saya orang-orang ini. Nah itu pikiran aja ya, agar tidak ada di satu tangan. Sekarang kan pada takut juga, yang saya dengar, 'Pak bintang tiga pun nggak bisa, lebih tinggi dari dia' meskipun secara struktural iya," sambungnya.

Sambo Tersangka Pembunuhan Brigadir J

Diketahui, empat orang telah ditetapkan sebagai tersangka terkait tewasnya Brigadir J. Mereka adalah Irjen Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer (RE), Bripka Ricky Rizal (RR), dan Kuat Ma'ruf (KM).

Dalam kasus ini, Bharada E disuruh Ferdy Sambo untuk menembak Brigadir J. Selain menyuruh, Irjen Ferdy Sambo diduga merekayasa kronologi kasus pembunuhan itu menjadi baku tembak.

Sementara itu, Bripka RR dan KM berperan ikut membantu dan menyaksikan penembakan Bharada E terhadap korban. Mereka dijerat pasal pembunuhan berencana subsider pasal pembunuhan.



Simak Video "Mahfud Sebut Sopir Istri Sambo Jadi Tersangka Ketiga Kasus Brigadir J"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/aku)