Awal Keraguan Ketua LPSK saat Istri Ferdy Sambo Minta Perlindungan

Awal Keraguan Ketua LPSK saat Istri Ferdy Sambo Minta Perlindungan

Tim detikNews - detikJateng
Sabtu, 13 Agu 2022 15:25 WIB
Istri Ferdy Sambo datangi Mako Brimob
Foto: Istri Ferdy Sambo datangi Mako Brimob. (Dwi/detikcom)
Solo -

Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Hasto Atmojo Suroyo menyebut ada kemungkinan pengajuan permohonan perlindungan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, tidak murni untuk memperoleh perlindungan sebagai korban. Melainkan permohonan itu bisa saja diajukan untuk memberi kesan Putri sebagai korban.

Saat dihubungi detikNews, Hasto menduga permohonan perlindungan itu bukan diajukan langsung oleh Putri Candrawathi. Sebab, dia menduga Putri Candrawathi tidak memerlukan perlindungan dari LPSK.

"Sejak awal kan saya sudah mengatakan, saya sendiri meragukan sebenarnya apakah Bu Putri ini memerlukan perlindungan dari LPSK atau sebenarnya ada yang mengajukan itu. Bukan Bu Putri sendiri, tetapi ada orang lain," kata Hasto, Sabtu (13/8/2022), dikutip dari detikNews.


"Dari awal kan saya bilang begitu, cuma saya tidak ngomong jelas. Tapi kalau sekarang kan jadi makin kelihatan ya, bahwa memang Bu PC, artinya kalaupun Bu PC yang mengajukan perlindungan, maksudnya bukan itu bener-bener dapat perlindungan dari LPSK. Tapi barangkali ya lebih memberi kesan bahwa yang bersangkutan adalah korban," tuturnya.

Hasto mengungkapkan, keraguannya muncul saat melihat sikap istri Ferdy Sambo ketika asesmen dilakukan. Menurut dia, Putri Candrawathi bersikap seolah tidak tahu apa yang harus disampaikan ke LPSK jika dirinya memang sebagai korban yang membutuhkan perlindungan.

"Ya sikap Ibu PC yang kemudian seolah-olah tidak tahu-menahu, tidak tahu apa yang harus disampaikan ke LPSK begitu ya, digali keterangannya kan nggak pernah bisa," ujarnya.

Sementara itu, Bareskrim Polri sudah menyetop penanganan kasus dugaan pelecehan terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Kasus dugaan pelecehan itu dilaporkan oleh Putri dengan terlapor Brigadir Nopriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian menerangkan pihaknya telah melakukan gelar perkara dua laporan, yaitu dugaan percobaan pembunuhan yang dilaporkan Briptu Martin Gabe dengan korban Bharada Richard Eliezer atau Bharada E dan terlapornya Brigadir Yoshua.

Gelar perkara pada Jumat (12/8) sore itu juga membahas dugaan kekerasan seksual dengan korban Putri Candrawathi. "Berdasarkan hasil gelar perkara, dua perkara ini kita hentikan penyidikannya karena tidak ditemukan peristiwa pidana," kata Brigjen Andi Rian saat konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (12/8), dikutip dari detikNews.

Andi Rian menambahkan, kedua laporan dugaan tindak pidana itu dilaporkan terjadi di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada Jumat (8/7) pukul 17.00 WIB. Namun, penyidikan dua kasus itu disetop karena tidak ditemukan dugaan tindak pidana.

"Bukan merupakan peristiwa pidana, sebagaimana rekan-rekan ketahui, saat ini Bareskrim menangani laporan polisi terkait pembunuhan berencana dengan korban Brigadir Yoshua," kata Andi Rian.



Simak Video "2 Alat Bukti yang Jerat Putri Candrawathi Jadi Tersangka Pembunuhan"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/apl)