Antusias Gen Alpha hingga Lansia Bikin Wayang Suket di Semarang

Antusias Gen Alpha hingga Lansia Bikin Wayang Suket di Semarang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Sabtu, 26 Sep 2026 22:56 WIB
Suasana warga RW 7, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Semarang Barat, asyik mengikuti workshop wayang suket, Sabtu (26/9/2026).
Suasana warga RW 7, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Semarang Barat, asyik mengikuti workshop wayang suket, Sabtu (26/9/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Antusias, terlihat dari wajah gen alpha hingga lansia yang mengikuti workshop pembuatan wayang suket dalam rangkaian Grebeg Subali 2026 di Semarang. Mereka sejenak melepas gawai untuk mengenal kerajinan asli Indonesia itu.

"Seru banget, karena aku juga sebenarnya sudah suka seni. Tapi di lingkungan aku kebanyakan masih mengikuti tren, cuma mereka lupa sama seni, nggak ngerti cara melestarikannya," kata salah satu peserta, Tata (19), kepada detikJateng di lokasi workshop di RW 7 Kelurahan Krapyak, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Sabtu (26/9/2026).

Tampak Tata bersama para ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak kecil asyik menganyam suket atau rumput hingga berbentuk wayang. Gelak tawa terdengar di halaman masjid petang ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sesekali mereka juga memakan jajanan pasar yang disediakan ibu-ibu. Tak ada siapapun yang terpaku pada ponsel. Selain membuat wayang, mereka juga belajar memainkan wayang dengan cerita yang menghibur.

Menurutnya, workshop semacam ini penting terutama bagi anak-anak agar mereka mengenal kesenian dan budaya dari masa ke masa.

ADVERTISEMENT

"Adanya workshop ini, apalagi buat adik-adik yang masih kecil-kecil, mereka juga tahu seni dari zaman ke zaman. Bisa sambil belajar, nambah wawasan juga," ujarnya.

Meski mengaku sempat kesulitan saat membuat wayang suket, Tata tetap berusaha menyelesaikannya. Menurutnya, membuat wayang suket menjadi kegiatan yang patut untuk dicoba.

"Susah sih. Tapi tetap belajar kok, tetep worth to try (sepadan untuk dicoba)," katanya.

"Harapan aku bisa untuk adik-adik, terutama buat anak-anak zaman sekarang, bisa melestarikan budaya Indonesia," lanjutnya.

Selain Tata, para lansia lainnya juga bersemangat mencoba membuat wayang suket. Salah satunya Sutanto (72), warga yang baru pertama kali membuat wayang suket. Ia datang bersama cucunya yang baru kelas 4 SD.

"Ya susah, ini sudah setengah jam lho," kata Sutanto sambil tertawa.

Menurutnya, bagian tersulit adalah mengikat rumput yang digunakan sebagai bahan wayang. Sebab, rumput yang digunakan dalam kondisi kering sehingga mudah patah.

"Susahnya mengikat-ngikatnya ini. Karena suketnya kering, sering patah. Katanya memang sebetulnya harus basah, kalau basah tidak gampang patah," jelasnya.

Meski mengalami kesulitan, Sutanto menilai workshop tersebut merupakan kegiatan yang baik untuk pelestarian budaya Jawa.

"Bagus sekali. Ini terutama kalau kita sebagai orang Jawa itu harus mengikuti budaya Jawa, kan wayang. Makanya harus pelestarian. Anak-anak terutama, harus bisa melanjutkan dari para sesepuhnya," ujarnya.

Sutanto mengaku sebelumnya belum pernah mencoba membuat wayang suket. Ia bahkan tertarik mengikuti workshop lain yang digelar warga.

"Ini bagus sekali. Nanti saya kalau ada workshop yang lain juga mau ikut, besok ada workshop lampu teng-teng," katanya.

Ketua RW 7 Kelurahan Krapyak, Ika mengatakan, kegiatan tersebut digelar bersama panitia Grebeg Subali sebagai upaya mengenalkan kembali budaya tradisional kepada masyarakat.

"Sore ini warganya semuanya nyengkuyung kegiatan Grebeg Subali 2026. Nah, khusus RW 7 ini mengadakan bersama panitia Grebeg Subali workshop pembuatan wayang suket," kata Ika.

Ia menjelaskan, peserta workshop merupakan perwakilan dari empat RT di RW 7. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya diikuti orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Antusiasme warga yang mengikuti workshop pun cukup tinggi. Bahkan, peserta disebut mampu membuat berbagai bentuk wayang sesuai dengan imajinasi masing-masing.

Menurut Ika, kegiatan tersebut juga membawa pesan untuk mengajak anak-anak mengurangi penggunaan gadget. Pihaknya mengusung jargon 'no gadget, no worry, wayang suket make you happy'.

"Anak-anak juga hadir di sini. Ternyata animo atau responsnya sangat luar biasa. Mereka mampu berimajinasi di luar ekspektasi kita. Bentuknya bermacam-macam sesuai dengan imajinasi mereka," jelasnya.

Adapun, workshop tersebut dipandu Teguh, pelatih dari Komunitas Wayang Gaga. Ia mengatakan, komunitasnya mulai mengembangkan workshop wayang suket sekitar 2017, berawal dari keresahannya melihat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel.

"Dulu waktu saya sama teman-teman, ada lima orang yang aktif. Ada keresahan dari anak kecil yang mainan HP. Kalau disuruh orang tuanya mesti bilang, 'sik, lah'," kata Teguh.

"Maka kita pergi ke Medini, ke rumah sawah, terus ke teman-teman buat wayang. Saya sama adik saya, bagaimana cara membuat wayangnya. Teman saya Mas Openg juga bagaimana caranya basic untuk anak kecil," lanjutnya.

Setelah melalui sejumlah percobaan, mereka menemukan bahan dan cara pembuatan wayang yang dinilai lebih mudah untuk anak-anak. Mereka berudaha mengajak anak-anak bisa beraktivitas tanpa gadget, meski hanya 1-2 jam.

"(Bahan yang digunakan apa saja?) Yang paling absolut untuk anak kecil itu dari daun sereh atau rumput alang-alang. Kalau pembuatan dari pelepah pisang, daun ketela itu agak rumit," ujarnya.

Kegiatan workshop wayang suket itu kemudian telah dibawa ke sejumlah daerah, respons dari masyarakat pun beragam. Bahkam salah satu pesertanya disebut mendalami pembuatan wayang suket dari Kampung Jatiwayang, Semarang.

"Dia mendalami pembuat wayang, terus mendirikan suatu wayang suket juga namanya Wayang Bayangno. Dia juga ikut berkecimpung untuk mau nguri-nguri budaya dalam pewayangan," jelasnya.

Ia lantas berharap dengan adanya workshop tersebut, generasi muda bisa lebih mengenal kesenian tradisional Semarsng dan bisa ikut melestarikannya.



(alg/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads