Warga Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Magelang menggelar perang cendol dawet dan salat Istisqa usai wilayahnya berbulan-bulan tak turun hujan. Warga telah melakukan tradisi ini secara turun-temurun untuk meminta hujan.
Tradisi ini digelar di perkebunan kopi tepatnya di pepunden bon gede atau bon agung di Dusun Gabug, Desa Kemirirejo. Sudah sejak pagi warga yang mayoritas petani kopi ini datang ke lokasi.
Warga baik ibu-ibu, bapak-bapak maupun pemuda datang dengan membawa dawet. Ada yang datang dengan ember, panci maupun membawa dawet dengan dibungkus plastik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara dimulai dengan salat Istisqa yang diikuti sebagai warga. Setelah salat dilangsungkan doa bersama. Kemudian warga tanpa dikomando saling melempar cendol dawet dibawanya.
Cendoldawet tersebut disebar, ada juga yang mengenai warga lainnya. Warga nampak saling tertawa saat lempar-lemparan es itu. Mereka nampak gembira meski bajunya telah basah kuyup dan pastinya jadi lengket karena gula.
Suasana perang cendol dawet untuk meminta hujan di Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
"Acara hari ini, pertama kita melakukan salat Istisqa agar diberi hujan. Karena di desa kita sudah beberapa bulan tidak turun hujan. Setelah itu, kita slametan dan lempar-lempar candil dawet (perang cendol dawet)," kata Kepala Desa Kemiriombo, Nur Wahyu kepada wartawan di lokasi, Jumat Kliwon (25/6/2026).
Tradisi ini disebut hanya digelar jika kemarau berkepanjangan. Terakhir, warga menggelar tradisi ini tiga tahun lalu, saat El Nino seperti saat ini.
"Terakhir dilangsungkan tahun 2023. Kekeringan di sini sudah berlangsung sekitar 4,5 bulan. Tapi karena dengan kondisi cuaca ekstrem sangat panas banyak pohon-pohon kopi yang sudah mati dan mengering," sambungnya.
Suasana perang cendol dawet untuk meminta hujan di Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Nur pun tak mengetahui sejarah awal mula tradisi ini digelar. Ia menyebut warga hanya mengikuti tradisi turun temurun yang telah dilakukan sejak dulu.
"(Kenapa dipilih cendol dawet bukan yang lain) Lha itu sudah pesenan ataupun tradisi dari nenek moyang menggunakan cendol dawet. Kita balang-balang cendol itu turun temurun kita laksanakan," imbuhnya.
"Kita ambil pas di Jumat Kliwon. Karena itu menjadi hari sakral di untuk Desa Kemiriombo," katanya.
Ia berharap usai tradisi ini digelar hujan segera turun di wilayahnya. Sebab, kemarau panjang cukup menyulitkan bagi mayoritas warganya yang merupakan petani kopi.
Suasana perang cendol dawet untuk meminta hujan di Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
"Ada 90 persen petani kopi jenis robusta," tambahnya.
"Harapannya agar segera diberi hujan dan para petani bahagia ketika hujan turun. Dan seluruh tanaman kembali tumbuh dengan baik. Kemarau bisa tidak dilaksanakan khusus ketika tanaman sudah banyak kering kita laksanakan tradisi ini," tambahnya.
Sementara itu, salah satu warga, Tumini (67) warga Gabug, mengatakan, ini acara tradisi dari nenek moyangnya. Ia membuat cendol dawet hanya secukupnya.
Suasana perang cendol dawet untuk meminta hujan di Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
"Karena kemarau (tradisi) ini untuk meminta hujan. Segera turun hujan semoga membawa berkah," katanya.
"Tradisi ini sejak zaman dulu. Saya buat cendol dawet kemarin sore," ujarnya.




