Serunya Grebeg Gunungan Lentheng di Tempuran Magelang

Serunya Grebeg Gunungan Lentheng di Tempuran Magelang

Eko Susanto - detikJateng
Selasa, 25 Agu 2026 17:13 WIB
Grebeg Gunungan Lentheng di Magelang saat Maulid Nabi, Selasa (25/8/2026).
Grebeg Gunungan Lentheng di Magelang saat Maulid Nabi, Selasa (25/8/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng
Magelang -

Para warga berdatangan menuju Dusun Gunung Bakal, Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, untuk menghadiri Grebeg Gunungan Lentheng. Grebeg Gunungan Lentheng dilangsungkan tiap 12 Rabiulawal atau Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tradisi turun temurun ini telah dilangsungkan sejak ratusan tahun yang lalu. Masing-masing kepala keluarga (KK) ikut membuat lentheng atau kerupuk mirip opak sekitar 50 biji.

Panganan dari bahan beras ketan ini dibagikan kepada warga yang berkunjung di rumah maupun mengikuti pengajian. Selain untuk gunungan, masing-masing warga juga membuat untuk suguhan yang datang silaturahmi. Momen ini pun lebih ramai dibandingkan momentum Lebaran.

Salah satu warga Dusun Gunung Bakal, Enggar Widodo (38), mengatakan masing-masing warga membuat takir atau tempat dari daun pisang beserta isinya. Kemudian juga membuat lentheng untuk disetorkan.

"Per KK buat 25 takir sama isinya. Isinya bakmi, tahu bacem, sayur, lauk ayam dan telur. Buat lentheng disetor 50 biji," kata Enggar kepada detikJateng, di lokasi, Selasa (25/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Enggar mengatakan persiapan racik-racik dan lain-lain telah dilangsungkan sejak Minggu (23/8). Sedangkan untuk lentheng dibuat beberapa hari sebelumnya.

"Kalau membuat lenteng sudah (beberapa waktu lalu). Dulu beli beras ketan yang biasa berkisar Rp 24 sampai Rp 25 ribu per kilo. Terus yang bagus ya Rp 27 sampai Rp 28 ribu per kilo. Kami membuat 30 kg untuk lentheng," ujarnya.

"Kami sendiri untuk acara ini sekitar Rp 5 juta. Ini lebih ramai daripada Lebaran. Semua orang yang datang dipersilakan (tua, muda). Kami senang hidangan yang dihidangkan (di rumah) habis dimakan," kata Enggar.

Warga yang datang dalam Grebeg Gunungan Lentheng ini berasal dari mana-mana. Mereka datang ke masjid untuk berjalan mengelilingi gunungan lenteng sebanyak tiga kali sambil berdoa. Salah satunya dilakukan, Isti Mardiyati (54) warga Kalinegoro, Mertoyudan.

"(Datang kenapa) Mendengarkan pengajian. Tiga kali (jalan memutari gunungan lenteng di dalam masjid). Iya sebisanya (baca doa). Baru pertama ini," kata Isti.

"(Dengar info) Dari Tetangga, terus ikut. Hatinya senang," ujarnya.

Hal senada disampaikan Nuning (55) warga Payaman, Secang. Dia mengaku antusias ikut berebut gunungan lentheng.

"Seru, tapi dapat ini (sedikit). Rasanya ya enak, cuman mlempem ini. Baru kali ini. Soalnya itu (tempat lenteng) ditinggikan," ujar Nuning.

"Dari saudara (tahu informasinya). Saya jualan mi," kata Nuning.

Potret gunungan lentheng yang dihias rengginang di Magelang, Selasa (25/8/2026).Potret gunungan lentheng yang dihias rengginang di Magelang, Selasa (25/8/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng

Cerita Gunungan Lentheng

Sementara itu, Kepala Desa Gunung Bakal, Achmad Jadin, mengatakan berkaitan dengan Grebeg Gunungan Lentheng yang ada di Gunung Bakal ini dilaksanakan sejak kurang lebihnya sekitar awal abad ke-18 atau akhir abad ke-17.

"Persisnya kurang tahu. Ini sebagai peninggalan beliau Simbah Kiai Raden Sayid Abdullah, yang mana pada waktu itu masyarakat Gunung Bakal ke-Islaman itu belum begitu kuat. Ada kalanya yang mengatakan bahwa masih berpaham kejawen. Kemudian oleh Mbah Sayid Abdullah tiap-tiap tanggal 12 Rabiul Awal pas kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, itu diadakan suatu perayaan yang namanya Grebeg Gunungan Lentheng," kata Jadin kepada wartawan.

ADVERTISEMENT

Jadin lalu menjelaskan proses membuat lentheng yang ternyata butuh waktu lebih dari sehari. Masing-masing KK disebut membuat minimal 20 kg beras ketan untuk bahan lentheng.

"Gunungan Lentheng ini terbuat dari bahan baku beras ketan yang direbus kemudian ditumbuk. Dijemur selama dua hari diletakkan di pelepah daun pisang, kemudian bahasa Jawanya dikletek, dijemur kembali. Kemudian itu digoreng," ujar Jadin.

"Terus disunduk memakai lidi aren, ditaruh di dalam induk Masjid Gunung Bakal ini. Yang mana di dalamnya itu ada beberapa buah-buahan yang ada di lingkungan Gunung Bakal waktu itu. Kemudian di tingkat paling atas karena Gunungan Lentheng terdiri dari tiga tingkatan ini menyimbolkan Iman, Islam, dan Ihsan. Paling atas, itu ada ingkung atau ayam yang direbus secara utuh itu juga menyimbolkan bahwa seseorang manusia ini lahir dalam keadaan telanjang, kemudian kita dipanggil oleh Sang Pencipta juga dalam keadaan telanjang hanya selembar kain putih," urainya.

Jadin menerangkan gunung menjadi simbol dari Kiai Sayid Abdullah yang bermakna kemakmuran.

"Buah-buahan itu juga sebagai simbol kemakmuran warga Dusun Gunung Bakal dan sekitarnya ini," katanya.



Dia berharap tradisi warga Gunung Bakal ini terus dilestarikan. Sebab, meski menelan biaya besar warga setempat yakin rezeki bakal diganti berlipat-lipat.

"Tapi, mitosnya warga Gunung Bakal bahwa sekalipun peringatan Maulid Nabi ini memakan biaya yang sangat begitu besar. Tapi, setelah peringatan Maulid Nabi ini warga Gunung Bakal mempunyai suatu kepercayaan bahwa nanti kita akan mendapat ganti yang berlipat ganda," kata dia.

"Ini dibuka untuk umum, karena masyarakat tidak hanya di daerah Magelang saja, tapi juga dari luar daerah, luar kota banyak yang datang. Kebetulan pada peringatan Maulid Nabi hari ini ini juga ada rombongan dari Kabupaten Wonogiri, tepatnya dari Kecamatan Jatisrono juga datang di Grebeg Gunungan Lentheng ini," tegasnya.

Kades Sumberarum Muhzen Fanani menambahkan Grebeg Gunungan Lentheng di Gunung Bakal tahun ini lebih ramai dibanding periode sebelumnya. Acara hari ini pun dihadiri Wakil Bupati Magelang, Sahid.

"Memang dulu tidak seramai sekarang, hanya pembacaan Maulid Al-Barzanji kemudian makan bersama. Untuk terkait dengan gunungan memang dari dulu ada," kata Muhzen.

"Waktu itu memang satu orang itu bisa mengitari area gunungan itu lebih dari tiga kali dengan membaca selawat. Namun, di akhir-akhir ini dengan keramaian yang cukup padat, dari panitia dibatasi untuk pengunjung hanya tiga kali putaran," tambahnya.

Muhzen menjelaskan Grebeg Gunungan Lentheng dilaksanakan di bulan Maulud atau Rabiulawal di tanggal 12.

"Kalau memang tanggal 12 hari Jumat, berarti hari Sabtunya. Selain itu sesuai tanggalnya. Ya, kalau hari Jumat, automatis mundur satu hari jadi Sabtu," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(ams/aku)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads