Sejumlah Naskah Kuno Milik Warga Tumang Boyolali Didigitalisasi

Sejumlah Naskah Kuno Milik Warga Tumang Boyolali Didigitalisasi

Jarmaji - detikJateng
Selasa, 04 Agu 2026 17:44 WIB
Petuga Dinas Arpus Boyolali dan Filolog melakukan digitalisasi naskah kuno milik warga Tumang, Cepogo, Boyolali, Selasa (4/7/2026).
Petuga Dinas Arpus Boyolali dan Filolog melakukan digitalisasi naskah kuno milik warga Tumang, Cepogo, Boyolali, Selasa (4/7/2026). Foto: Jarmaji/detikJateng
Boyolali -

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Boyolali melakukan digitalisasi terhadap sejumlah naskah kuno, di antaranya milik warga Dukuh Tumang, Desa Cepogo. Proses digitalisasi naskah ini juga melibatkan para filolog.

"Untuk project ini tentunya kami juga menggandeng para filolog yang lebih paham terkait manuskrip mana saja yang perlu didigitalisasikan terlebih dahulu," kata Pustakawan Dinas Arpus Boyolali, Anang Abdulharap, kepada wartawan di sela melakukan digitalisasi di Kantor Desa Cepogo, Boyolali, Selasa (4/8/2026).

Naskah kuno yang didigitalisasi tersebut merupakan milik Cipto Raharjo, warga Dukuh Tumang, Desa Cepogo. Anang mengungkapkan, ada ratusan buku yang disimpan dan dimiliki warga tersebut. Pada tahap awal ini, baru 7 naskah kuno yang diarsipkan secara digital hari ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Walaupun tadi disebutkan bahwa di Tumang ini ada ratusan arsip. Tapi sementara ini ada beberapa naskah (yang didigitalisasi), yang lainnya akan kami agendakan untuk project selanjutnya," jelas dia.

Setelah dilakukan digitalisasi, naskah kuno tersebut dikembalikan ke pemiliknya. Agar buku itu tidak rusak dimakan usia, Dinas Arpus Boyolali juga akan memberikan tempat penyimpanan yang lebih layak.

ADVERTISEMENT

"Setelah didigitalisasi akan kami daftarkan juga ke Perpustakaan Nasional melalui Hastara. Dari digital tersebut akan kami upload juga di Perpustakaan Digital kami, Perpustakaan Digitalnya Boyolali. Jadi nanti di situ bisa dibaca oleh masyarakat umum," imbuh dia.

Menurut Anang, naskah kuno milik warga Tumang yang diarsipkan secara digital hari ini ada 7. Kemudian, pihaknya juga akan melakukan digitalisasi terhadap Al-Qur'an tulisan tangan milik warga Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo.

"Terus di (Desa) Pusporenggo (Kecamatan Musuk) ada sekitar 4. Nanti akan dipastikan dulu oleh filolog, naskah itu masuk nggak. Satu lagi di Pondok Pesantren Zumrotul Tholibin (Kecamatan Andong). Di sana ada beberapa naskah juga yang ditulis oleh para mbah-mbah kiai," ujar dia.

Kepala Desa Tumang, Mawardi, mengatakan naskah-naskah kuno tersebut diketahui milik Cipto Raharjo, salah satu tokoh di Tumang yang gemar menulis. Pihak desa kemudian berkonsultasi dengan ahli warisnya. Setelah ada kesepakatan, naskahnya akan didigitalisasi. Untuk penyimpanan naskah fisiknya, pemdes masih berkomunikasi dengan pihak keluarga.

"Kami dari Pemerintah Desa Cepogo berharap, temuan naskah ini akan bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Salah satu harapan putra Pak Cipto Raharjo adalah keinginan almarhum untuk membuat perpustakaan desa," kata Mawardi.

Filolog khusus bahasa Jawa dan naskah kuno, Rendra Agusta, yang ikut meneliti menyebutkan bahwa naskah-naskah itu rata-rata ditulis pada abad ke-20, antara tahun 1917 hingga 1950-an. Ada yang tertulis bertahun 1917, 1918, 1939, hingga tahun 1950-an.

"Ada beberapa manuskrip yang berbahasa Jawa, bahasa Indonesia, maupun bahasa Arab. Untuk bahasa Jawa ada naskah bernama Roman Pedusunan seperti karya sastra. Ada juga yang berkaitan dengan perhitungan primbon dan lain-lain," jelasnya.

Kondisi naskah-naskah tersebut relatif baik. Meski ada beberapa yang berlubang, namun secara umum masih baik dan bisa terbaca. Dari ratusan arsip di rumah tua tahun 1877 milik Cipto Raharjo, sementara ada 7 naskah beraksara Jawa dan Pegon yang dipilih untuk didigitalisasi.

Filolog lain yang berfokus pada Bahasa Arab, Asep Yudha Wiraraja, mengaku terkejut saat menemukan naskah kitab Safinatun Najah.

"Saya cukup terkejut ketika menemukan naskah Safinatun Najah. Karena naskah ini merupakan naskah yang masih hidup tradisinya di pondok pesantren yang tradisional. Masih diajarkan sampai hari ini," kata Asep.

Dijelaskan dia, kitab Safinatun Najah berisi mengenai ilmu fikih dasar, seperti wudu, tayamum, salat, hingga pengurusan jenazah. Kitab tersebut ditulis oleh penulis pertama, Syekh Salim tahun 1855 M dan disempurnakan Syekh Nawawi Al-Bantani tahun 1875 M.

"Setelah itu banyak disalin oleh para ulama-ulama zaman dulu dan diajarkan sampai hari ini di pondok-pondok pesantren. Isinya tentang fiqih, misalnya bagaimana berwudlu, bagaimana bersuci tayamum, salat, sampai mengurus jenazah," terang Asep.

"Kemudian ditambahkan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani tadi. Isinya tentang puasa, zakat. Sehingga menyempurnakan kitab Safinatun Najah," sambungnya.

Naskah lain, kata Asep, pada sampulnya bertuliskan Petung-petung, tapi di dalamnya ada cuplikan-cuplikan doa dari ayat-ayat Al-Qur'an yang diterjemahkan ke bahasa Jawa. Diperkirakan ditulis tahun 1917 atau 1918.



(dil/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads