Melihat Pementasan Wayang Jimat di Dusun Tertinggi Lereng Merbabu

Eko Susanto - detikJateng
Senin, 27 Jul 2026 21:09 WIB
Suasana pementasan wayang jimat yang berlangsung di Dusun Kedakan, Desa Kenalanan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang atau di lereng Gunung Merbabu, Senin Kliwon (27/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng
Magelang -

Saparan atau merti dusun yang berlangsung di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, berlangsung istimewa. Ada pementasan Wayang Jimat yang digelar di salah satu perkampungan tertinggi di lereng Gunung Merbabu itu.

Dusun Kedakan sendiri berada di ketinggian 1.800 mdpl. Di tempat ini, pementasan wayang jimat dilangsungkan dua kali setahun yaitu saat hari kedua Lebaran dan Saparan.

Saparan kali ini jatuh pada Senin Kliwon (27/7). Wayang Jimat pun digelar dengan iringan serta pengrawitnya berbeda pada wayang pada umumnya.

Untuk pengrawit atau penabuh gamelan hanya enam orang. Kemudian gamelan yang dimainkan meliputi kendang, gong, saron, ketuk kenong dan kecer. Uniknya, dalam pementasan ini tidak ada sinden.

Kemudian durasi pementasan yang pendek dimulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Untuk dalang Wayang Jimat kali ini yaitu Ki Supoyo asal dari Dusun Kedakan sendiri yang bukan keturunan dalang.

Penonton pun juga tak sebanyak pementasan wayang kulit pada umumnya. Namun, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji dengan sejumlah kepala OPD terkait ikut menonton pementasan tersebut. Termasuk juga ada sejumlah peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

"Untuk Saparan jatuhnya di pertengahan bulan, tapi pas kebetulan hari yang ditentukan mesti Senin Kliwon," kata Plt Kepala Dusun Kedakan, Supanggih ditemui di lokasi, Senin (27/7/2026).

Sebelum pementasan Wayang Jimat, katanya, pada Minggu (26/6) dilangsungkan sandranan di makam Ki Hajar Doko. Dalam sandranan diikuti seluruh kepala keluarga.

"Terus tadi pagi sandranan atau bersih dusun di masjid. Pentas wayang jimat mulai jam 13.00 sampai 17.00 WIB," sambungnya.

Supanggih mengatakan, wayang yang dimainkan berbeda dengan wayang pada umumnya karena ukuran lebih kecil, kemudian bentuk sunggingan atau cecekan wayang juga beda.

"Kalau disandingkan dengan wayang yang sekarang itu memang kelihatan beda banget. Gamelan juga beda, nyogo (pengrawit juga sedikit). Gamelannya gong, kendang, saron, ketuk kenong dan kecer," ujarnya.

"Itu yang membedakan dengan wayang lain. Terus dalang bukan keturunan dalang, sama sekali bukan keturunan (dalang)," imbuhnya.

Supanggih menambahkan, dulu dalang Wayang Jimat adalah almarhum Ki Sumitro. Mereka yang menjadi dalang ini mendapatkan wangsit atau wahyu.

"Mbah Sumitro meninggal (sudah) hampir 9 tahun. Mbah Sumitro meninggal sempat wayang vakum 5 tahun. Nggak ada sama sekali dalangnya," bebernya.

"Mbah Supoyo tahun pertama nggak mengira. Dulu mau bulan sapar dalam waktu seminggu belum ada (sosok dalang). Tapi, penabuh yang paling sepuh, Mbah Sabar dapat wangsit. 'Sapar sesok wayang mesti pentas', tapi ditanya dalangnya hanya minta untuk diam nanti pasti ada," kenangnya.

Dalang Ki Supoyo, katanya, sudah tiga tahunan menjadi dalang Wayang Jimat. Wayang Jimat untuk saat ini disimpan di rumahnya beserta lontar yang berusia ratusan tahun.

"Eloknya Mbah Dalang sebelum mulai pentas (belum baca-baca mantra) belum tahu lakonnya apa. Tapi, begitu selesai ditanyakan lakonnya juga tidak tahu," tambah dia.

Sementara itu, peneliti BRIN, Suyami terkesan dengan dalangnya yang tidak memiliki keterampilan mendalang. Namun pemilihan dalang dipilih lewat jalur gaib.

"Di sini kan modelnya ditunjuk secara gaib. Dengan ditunjuk secara gaib dalam teks (lontar)," katanya.

"Masyakat sini meyakini bahwa akan terus lestari selama ada wangsit. Orang sini berpegang pada dawuhnya di Ki Hajar Doko," ujar Suyami.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, wayang ini berbeda dengan wayang kontemporer saat ini.

"Mungkin ini induknya wayang yang hari ini (saat ini), mungkin. Itu telaah lebih lanjut dari teman-teman akademisi," kata Grengseng.

"Bentuknya, aransemennya, ceritanya, iringannya, semua berbeda. Mungkin bisa dikaitkan dengan wayang Kedu yang ada di Wonosobo dan Temanggung. Kalau dilihat dari wayangnya ini wayang era abad itu. Ini kajian-kajian sejarah penting untuk membangun karakter bangsa," pungkasnya.



Simak Video "Berenang dan Menyusuri Panjangnya Kali Udal Gumuk di Magelang yang Menakjubkan "

(alg/apl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork