Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian manuskrip lontar di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Saat ini, BRIN baru bisa membaca tiga halaman manuskrip yang masih tersimpan rapi di Kedakan atau lereng Gunung Merbabu.
"Pertama tanggal 4 Juli ke sini diinformasi Pak Manteb (pensiunan pegawai Dikbud). Kita diizinkan untuk membuka manuskrip dan Pak Bupati rawuh waktu itu," kata Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur dan Transisi Lisan BRIN, Suyami kepada detikJateng di Kedakan, Kenalan, Pakis, Senin (27/7/2026).
Ia mengatakan, masyarakat Kedakan tahunya hanya satu manuskrip. Sedangkan yang ratusan lainnya berada di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Manuskrip di Kedakan ada satu. Kemarin sempat membaca itu jumlahnya ada 35 lempir (70 halaman), tetapi karena aksana buda saya tidak sangat menguasai. Jadi untuk membacakan perlu waktu," sambungnya.
"Saya baru membaca tiga permukaan, itu lempir satu bagian belakang, lempir dua bagian depan dan belakang. Dari yang saya baca antara lain menceritakan semacam ada seseorang memberi ajaran, wewarah kepada seseorang," imbuh Suyami.
Doktor lulusan Linguistik Universitas Sebelas Maret (UNS) mengatakan, baru bisa membaca tiga halaman. Pihaknya akan selalu berkoordinasi dengan dalang Ki Supoyo tempat manuskrip tersebut disimpan.
"Tetapi, kalau di sini ada keyakinan membaca kalau sudah diizinkan. Nanti ada jalannya untuk kita bisa lanjut. Karena bagaimana pun dalam manuskrip itu tertulis 'laranganku pasti akan terjadi'. Itu sama seperti keyakinan orang sini, saya hanya dari tiga permukaan sudah melihat adanya sebuah ajaran yang luar biasa," ujar Suyami yang asli Pakis, Kabupaten Magelang.
"Intinya di sini ada lontar yang sangat luar biasa isinya. Dan itu kemungkinan menjadi tidak dibawa oleh Belanda karena mungkin tersimpan di dalam peti kotak wayang (wayang jimat)," bebernya.
Belanda, kata Suyami, meminta residen Kedu untuk membayar manuskrip sebesar 500 golden. Kemudian, ada satu yang tersisa di Kedakan karena disimpan dalam peti kotak wayang jimat.
"Tetapi, akhirnya bisa dengan mahar nampan kencana, jadi baki emas. Baki emas itu sekarang di mana, ya kita tidak tahu. Baki emas itu senilai 350 golden," tambahnya.
Kelebihan manuskrip yang berada di Kedakan saat ini, kata Suyami, secara keseluruhan BRIN belum mengetahuinya.
"Yang tahu hanya saya. Karena membaca tiga halaman itupun saya minta bantuan teman dari Perpusnas. Dari 70 halaman, saya baru baca tiga halaman," kata dia.
Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, manuskrip yang selama ini sudah dirawat dengan kearifan lokal. Pihaknya mendorong agar bisa diterjemahkan.
"Kedepan ilmu-ilmu yang ada bisa menjadi pelajaran bagi generasi-generasi yang akan datang," kata Grengseng.
"Dari ribuan manuskrip itu kan yang diterjemahkan baru 15. Dan masyarakat kita (warga Kedakan) dengan kearifan tidak mengetahui kalau ternyata manuskrip di Kedakan ini berhubungan erat dengan ribuan manuskrip yang sekarang di Perpusnas, katanya di Universitas Leiden (Belanda)," ujar Grengseng.
Dari ribuan manuskrip tersebut, kata Grengseng, berasal dari Dusun Kedakan, Kecamatan Pakis.
"Di era itu. Berarti wilayah kita ini (Magelang), adalah wilayah akademik. Itu yang menurut saya perlu kita optimalkan. Bahwa di zaman dahulu nenek moyang kita sudah dengan akademik versi dulu, ilmiah versi dulu di dalam berkehidupan baik kehidupan seharian maupun bertata negara," ujar dia.
"Berita-berita selama ini ketika manuskrip dari Merapi-Merbabu, Merapi-Merbabu, semua orang hanya bercerita. Tapi, hari ini kita bisa menyambungkan antara cerita, kearifan lokal dan fakta yang ada di Perpusnas maupun di Leiden," tambah Grengseng.
Sedangkan, Plt Kepala Dusun Kedakan, Supanggih mengatakan, manuskrip dari dulu yang diketahui warga Kedakan cuman satu. Yang mana satu manuskrip tersebut bersama dengan wayang jimat.
"Tapi, ternyata kurang lebih sebulan lalu dari Dinas Kebudayaan Kabupaten dan BRIN datang. Itu menyampaikan manuskrip yang lainnya ada," kata Supanggih.
"Kami bersama Pak Bupati, Pak Kepala Desa datang ke Perpusnas. Saya kaget (jumlahnya manuskrip banyak), ada banyak peninggalan-peninggalan Ki Hajar Doko," ujarnya.
Supanggih menambahkan, setelah pulang dari Perpusnas Jakarta, dia menyampaikan kepada warga mengenai jumlah manuskrip tersebut.
"Warga pada kaget. Setelah tahu, warga sangat-sangat mendukung (kelanjutan dari Bupati)," pungkasnya.
