Suasana berbeda terlihat di Pendopo Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Warisan Dunia Borobudur, Sabtu (20/6/2026) siang. Kawasan pendopo tampak disulap menjadi tempat pementasan wayang.
Pantauan detikJateng, sekitar pukul 11.00 WIB, di pendopo itu terpasang kelir ukuran panjang 3 meter dan lebar 1,5 meter. Tampak wayang berjejer di kelir itu.
Wayang yang ditata di kelir bukan wayang purwa pada umumnya. Wayang tersebut melambangkan tokoh kelinci, serigala, kera, berang-berang, dewa sakra dan raksasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertunjukan ini dinamai wayang relief. Wayang ini dibawakan dalang Wito Prasetyo dan Doni Hendra dengan lakon 'Sasa Jataka (Kelinci Bijak)'.
Wayang yang dimainkan ada yang berbahan kulit. Ada juga dari bahan talang atau karpet air, bahkan dari kertas semen yang telah dipres.
Pementasan wayang relief ini menggunakan Bahasa Indonesia sehingga mudah dicerna semua orang dengan segala usia.
"Wayang relief secara garis besar sumber cerita dari relief-relief Candi Borobudur. Yang mengandung pesan spiritual, moral, sosial dan ilmu pengetahuan," kata dalang wayang relief, Wito Prasetyo kepada wartawan di MCB Unit Warisan Dunia Borobudur, Sabtu (20/6/2026).
Wito mengatakan, bentuk wayang menyerupai yang ada di relief Candi Borobudur. Kemudian pementasan dengan iringan gamelan yang ada juga di relief.
"Cuman instrumennya berbeda dengan wayang-wayang yang sudah ada sebelumnya (gamelannya lebih sedikit). Wayang relief ini berbahasa Indonesia dengan harapan menjadi wayang nasional, bukan wayang kesukuan. Sehingga bisa dipakai oleh seluruh rakyat Indonesia," sambung Wito.
Cerita yang dipentaskan, kata Wito, sasa jataka atau kelinci bijak. Yang mana cerita ini ada dalam relief Candi Borobudur.
"Tokoh utama kelinci, dengan tokoh pendukung ada berang-berang, kera, serigala serta dewa sakra. Karena cerita di relief jataka, jadi fabel ceritanya," imbuh Wito.
"Karena kebaikan, kejujuran kelinci dalam kehidupannya. Ini jelmaan masa lampau Bodhisattva, karena kebaikannya itu bisa menggetarkan istana kahyangan," ujarnya.
Dalam relief Candi Borobudur yang dibangun abad 8, katanya, sudah memberikan contoh bahwa kebenaran harus tetap diperjuangkan.
"Kalau kita kaitkan dengan sekarang banyak orang memperjuangkan kebenaran. Tapi, apakah itu kebenaran universal atau tidak. Kalau ini (cerita) kebenaran universal, kebajikan, ketulusan," katanya.
Wito menambahkan, cerita jataka merupakan satu dari banyak cerita yang bersumber dari relief Candi Borobudur. Ada lagi sejumlah cerita seperti awadana, lalitavistara, gandawyuha dan karmawibhangga.
"Saya sudah bikin empat cerita, sasa jataka, kisah cinta dua dunia putri Manohara-Pangeran Sudhana, Raja Sibi (Pangeran Vesantara) dan Berdirinya Candi Borobudur (kisah wangsa Syailendra oleh Raja Samaratungga)," tambah Wito.
Sementara itu, Sub Koordinator MCB Unit Warisan Dunia Borobudur, Wiwit Kasiyati memberikan apresiasi kepada masyarakat khususnya Wito Prasetyo yang mempunyai ide inovatif wayang mengambil cerita dari relief Candi Borobudur.
"Ini membuat pemantik. Kami mengharapkan masyarakat lainnya tidak hanya Borobudur, dari Magelang, Jogja dan lain sebagainya. Silakan untuk menginspirasi dari nilai relief Borobudur masih banyak cerita-cerita yang bisa diangkat, diaktualisasikan, tidak hanya wayang," ujarnya.
Wiwit mengatakan, pihaknya membina enam sanggar yang menampilkan tarian dari relief Candi Borobudur. Hingga kini makin bertambah sanggar-sanggar yang mengambil cerita dari relief Candi Borobudur.
"Bisa diambil dari jejamuan , kuliner, pengobatan, banyak hal yang bisa diambil aktualisasikan dari relief Candi Borobudur. Cerita yang ditampilkan tadi ada pesan moral, pitutur," kata dia.
