Acara kirab dalam rangkaian Festival Lima Gunung (FLG) XXV di lereng Gunung Merbabu wilayah Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Pakis, Kabupaten Magelang, berlangsung meriah.
Pantauan detikJateng hari ini, kirab dimulai dari perempatan jalan kampung di Warangan. Urutan paling depan berupa gunungan yang sengaja disusun tidak komplit. Gunungan itu hanya terdiri dari beberapa sayuran hasil petani seperti sawi, lonjang, terong, daun singkong, klobot jagung, dan bunga wawar.
Kirab tersebut berakhir di panggung utama Festival Lima Gunung. Setelah itu dilakukan pemukulan beduk secara bergantian oleh pegiat Komunitas Lima Gunung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemeriahan Festival Lima Gunung XXV di Warangan, Pakis, Magelang, Minggu (12/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
"(Gunungan tidak komplit) Mungkin saja kondisi masyarakat dan rakyat di kalangan bawah saat ini gek garing karo ilang jagunge (sedang kering dan hilang jagungnya)," kata pembawa acara Festival Lima Gunung, Sih Agung Prasetyo, Minggu (12/7/2026).
"Mula menika namung sekedik ingkang dipun betha (oleh karena itu hanya sedikit yang dibawa). Menika pertanda zaman (ini pertanda zaman)," sambungnya.
Perwakilan Komunitas Lima Gunung, Novian Nugroho, mengatakan Festival Lima Gunung sudah berlangsung selama 25 tahun. Agenda tahunan dari Komunitas Lima Gunung ini digelar tanpa sponsor.
Kemeriahan Festival Lima Gunung XXV di Warangan, Pakis, Magelang, Minggu (12/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
"Festival Lima Gunung berjalan 25 yang komitmen tanpa sponsor, bendera apapun. Festival yang berjalan dengan modal keikhlasan dan ketabahan dari semua yang terlibat," kata Novi.
"Patut diapresiasi, dan berharap kami perwakilan KLG muda ini bisa meneruskan dan belajar dari apa sudah 25 tahun ini berjalan," imbuhnya.
Novi juga menyampaikan terima kasih kepada 85 pengisi acara di Festival Lima Gunung XXV.
Kemeriahan Festival Lima Gunung XXV di Warangan, Pakis, Magelang, Minggu (12/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
"Saya juga mengucapkan terima kasih kepada warga Warangan, Pakis dan seluruhnya yang terlibat. Kita memperingati peraknya, Tahun Perak 25 FLG dengan tema 'Makin Goblok Bareng'," ujar dia.
Handoko dari Sanggar Dhom Sunthil Warangan Pakis mengatakan, kali pertama FLG tahun 2001 dilangsungkan di Warangan.
"Tepat 25 tahun atau pas perak dilangsungkan di Warangan," kata dia.
Digelar 3 Hari
Festival Lima Gunung (FLG) XXV/2026 digelar selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 Juli 2026, di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.
Perhelatan seni tahunan yang diinisiasi Komunitas Lima Gunung tersebut menampilkan 85 grup kesenian dengan melibatkan sedikitnya 1.274 seniman dari berbagai daerah.
Festival Lima Gunung merupakan agenda rutin yang digagas Komunitas Lima Gunung, komunitas seniman petani yang berasal dari kawasan lima gunung yang mengelilingi Kabupaten Magelang, yakni Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.
Selain diikuti kelompok seni dari Magelang, festival juga menghadirkan peserta dari sejumlah daerah seperti Cirebon, Bogor, Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Masyarakat dapat menyaksikan seluruh rangkaian acara secara gratis di lokasi penyelenggaraan yang berada di lereng Gunung Merbabu.
"Festival Lima Gunung XXV diselenggarakan di Dusun Warangan, pada tanggal 10 sampai 12 Juli 2026. Dalam FLG, selain tarian tradisional, kontemporer, ada pameran seni rupa," kata Ketua Komunitas Lima Gunung Sujono dalam jumpa pers di Sanggar Dhom Sunthil, Warangan, Minggu (5/7/2026).
Pegiat Komunitas Lima Gunung, Endah Pertiwi, menjelaskan seluruh peserta yang tampil telah melalui proses seleksi. Tingginya minat kelompok seni membuat panitia harus melakukan kurasi karena keterbatasan waktu pelaksanaan festival.
"Kami menganggap tahun ini banyak sekali yang akan datang (pengisi) dan kami tidak bisa menampung dalam tiga hari itu. Maka, kami satu pintu, walaupun dari daerah sini (Warangan) pendaftaran melalui link. Semua mendaftar melalui link dan kami kurasi dengan durasi maksimal 15 menit," kata Endah.
Ia mengungkapkan banyak kelompok seni yang belum dapat tampil pada festival tahun ini karena keterbatasan durasi pertunjukan.
"Mohon maaf banyak sekali yang tidak bisa masuk dalam 85 besar (pengisi acara). Karena ada berbagai kendala durasi yang tidak bisa dipotong. 85 grup pengisi melibatkan 1.274 orang," ujar Endah.
Dari sisi teknis penyelenggaraan, warga Warangan, Teguh, menyebut panggung utama festival berukuran 8 x 16 meter. Area tersebut dibagi menjadi ruang persiapan alat musik berukuran 6 x 8 meter dan ruang pertunjukan tari seluas 6 x 10 meter.
"Untuk sound system pakai 10.000 watt termasuk lighting," ujar Teguh.
Teguh menambahkan penyelenggaraan Festival Lima Gunung tahun ini tidak didukung sponsor, donatur maupun swadaya masyarakat. Seluruh pendanaan diperoleh dari kontribusi penjualan kaus festival.
"Artinya nol rupiah. Terus pendanaannya, kita ada kontribusi dari penjualan kaus," tambahnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, festival ini menampilkan puluhan pertunjukan seni dari pagi hingga malam hari.



