Tradisi Jawa tidak pernah luput dari setiap sudut kehidupan masyarakatnya. Penuh makna dan filosofi yang patut dilestarikan. Bukan hanya peringatan kelahiran seseorang, budaya Jawa mengajarkan makna mendalam dalam tradisi puasa ngapit. Untuk itu, mari mengenal puasa ngapit, sebuah tradisi Jawa untuk memperingati weton kelahiran.
Ulang tahun sudah sangat familiar dalam dunia modern sebagai hari yang penuh perayaan semacam pesta, makan-makan, intinya penuh kesenangan belaka. Lain lagi jika dalam masyarakat Jawa, peringatan kelahiran seseorang dilaksanakan dengan tradisi yang penuh makna perenungan dan rasa prihatin. Makan tersebut terkandung dalam puasa ngapit.
Belum familiar dengan tradisi puasa ngapit? detikers perlu mengenalnya lewat uraian di bawah ini yang telah detikJateng siapkan. Baca sampai tuntas agar tidak ada informasi yang terlewat, ya!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puasa Ngapit: Tradisi Jawa Memperingati Weton Kelahiran
Puasa ngapit merupakan tradisi Jawa yang berkaitan dengan peringatan kelahiran seseorang berdasarkan weton. Dalam buku berjudul Primbon Masa Kini: Warisan Nenek Moyang untuk Meraba Masa Depan oleh Romo RDS Ranoewidjojo, dijelaskan bahwa puasa ngapit merupakan tradisi yang dilakukan dengan berpuasa tiga hari, yakni pada hari weton kelahiran, ditambah sehari sebelum dan sehari sesudahnya.
Tradisi puasa ngapit ini masih termasuk dalam tradisi selapanan. Tradisi selapanan sendiri dilakukan untuk memperingati weton kelahiran. Umumnya, tradisi ini berlangsung dalam beberapa prosesi, salah satunya puasa ngapit bagi yang diperingati. Ada pula sajian khusus selapanan, yakni empat variasi bubur merah putih.
Kemudian, pada malam weton kelahirannya, seseorang tersebut akan terjaga sepanjang malam. Ia akan menghidangkan bubur merah putih tadi. Bubur tersebut memiliki simbol dirinya berkomunikasi dengan empat saudara yang menjaganya.
Puasa di hari kelahiran ini memiliki makna yang mendalam. Tradisi ini dimaksudkan sebagai sebuah tirakat atau sikap prihatin dalam memperingati saat kelahirannya dulu. Jadi, tidak hanya sebuah perayaan seru, masyarakat Jawa memperingati hari kelahirannya dengan penuh perenungan.
Sekilas Mengenai Weton Jawa
Berbicara tentang puasa ngapit dan selapanan tentu berkaitan erat dengan weton. Jadi, apa itu weton?
Masih dari sumber yang sama, weton berakar dari bahasa Jawa wetu yang bermakna keluar atau lahir, dan mendapat akhiran -an menjadi kata benda weton. Oleh karena itu, weton ini diartikan sebagai hari kelahiran.
Hari kelahiran yang dimaksud dalam weton ini bukanlah tanggal dan bulan lahir seperti yang diketahu masyarakat umum. Yang disebut weton adalah gabungan dari hari umum, seperti Senin dan Selasa, dan pasaran saat bayi lahir ke dunia. Pasaran Jawa ada 5, yakni Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.
Berhubung hari biasa berjumlah 7 dan hari pasaran berjumlah 5, total terdapat 35 kombinasi weton. Apa saja? Nah, buat kalian yang penasaran apa saja weton atau hari kelahiran dalam tradisi Jawa, mari simak daftarnya berikut ini.
- Jumuwah Kliwon: Jumat Kliwon
- Setu Legi: Sabtu Legi
- Akad pahing: Minggu Pahing
- Senen Pon: Senin Pon
- Slasa Wage: Selasa Wage
- Rebo Kliwon: Rabu Kliwon
- Kemis Legi: Kamis Legi
- Jumuwah Paing: Jumat Pahing
- Setu Pon: Sabtu Pon
- Akad Wage: Minggu Wage
- Senen Kliwon: Senin Kliwon
- Slasa Legi: Selasa Legi
- Rebo Paing: Rabu Pahing
- Kemis Pon: Kamis Pon
- Jumuwah Wage: Jumat Wage
- Setu Kliwon: Sabtu Kliwon
- Akad Legi: Minggu Legi
- Senen Paing: Senin Pahing
- Slasa Pon: Selasa Pon
- Rebo Wage: Rabu Wage
- Kemis Kliwon: Kamis Kliwon
- Jumuwah Legi: Jumat Legi
- Setu Paing: Sabtu Pahing
- Akad Pon: Minggu Pon
- Senen Wage: Senin Wage
- Slasa Kliwon: Selasa Kliwon
- Rebo Legi: Rabu Legi
- Kemis Paing: Kamis Pahing
- Jumuwah Pon: Jumat Pon
- Setu Wage: Sabtu Wage
- Akad Kliwon: Minggu Kliwon
- Senen Legi: Senin Legi
- Slasa Paing: Selasa Pahing
- Rebo Pon: Rabu Pon
- Kemis Wage: Kamis Wage
Cara Puasa Ngapit dan Puasa Islam Sama atau Beda?
Lantas apakah puasa ngapit dengan puasa dalam syariat Islam itu berbeda? Tentu keduanya berbeda ya, detikers.
Dalam sumber yang sama dijelaskan bahwa puasa ngapit ini merupakan sebuah tradisi Jawa. Nah, tradisi Jawa sendiri memiliki cara sendiri dalam berpuasa. Mereka melakukan puasa ngapit selama seharian penuh, mulai Maghrib, sampai waktu Maghrib berikutnya.
Sementara itu, puasa dalam syariat Islam, baik yang wajib maupun sunnah, tidak ada yang dilakukan selama seharian penuh. Sebagaimana dijelaskan dalam Buku Pintar Puasa Wajib dan Sunnah oleh Muhammad Ibrahim, waktu pelaksanaan puasa adalah dari fajar shadiq sampai terbenamnya matahari atau waktu Maghrib. Dengan demikian, maka puasa ngapit dan puasa dalam syariat Islam itu hal yang berbeda.
Demikianlah penjelasan mengenal puasa ngapit sebagai sebuah tradisi Jawa untuk memperingati hari kelahiran. Semoga dari penjelasan ini kalian bisa lebih banyak mengenal tradisi Jawa, ya, Lur!
Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(num/dil)
