Apa Itu Puasa Mutih dan Bagaimana Caranya? Ini Manfaat, Jenis, dan Filosofinya

Apa Itu Puasa Mutih dan Bagaimana Caranya? Ini Manfaat, Jenis, dan Filosofinya

Mardliyyah Hidayati - detikJateng
Senin, 13 Apr 2026 14:14 WIB
Apa Itu Puasa Mutih dan Bagaimana Caranya? Ini Manfaat, Jenis, dan Filosofinya
Puasa mutih. (Foto: xb100)
Jogja -

Budaya Jawa tidak hanya berisi sesuatu yang tampak, tetapi juga hal-hal spiritual yang penuh makna filosofi, seperti puasa mutih. Bukan puasa biasa, filosofi mendalam tentang penyucian diri menjadi makna yang tersimpan di dalam tirakatnya orang Jawa ini. Jadi, apa sebenarnya puasa mutih itu?

Masyarakat Jawa menjalani kehidupan tidak hanya perkara dunia. Dari sisi spiritual juga menjadi bagian tak dapat terlepas dalam kehidupan mereka. Salah satunya adalah puasa mutih kerap dijalani sebagai bagian dari laku spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan hanya mengonsumsi makanan serba putih dan tanpa rasa, puasa mutih dipercaya mampu membantu seseorang membersihkan batin dari pengaruh negatif dan nafsu duniawi.

Lantas, apa sebenarnya puasa mutih itu? Bagaimana tata cara, jenis, serta makna filosofinya dalam tradisi Jawa? Untuk memahaminya secara mendalam, mari simak penjelasan lengkapnya di bawah!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makna Filosofi Puasa Mutih sebagai Tirakat Penyucian Diri

Puasa mutih merupakan salah satu bentuk tirakat dalam bahasa Jawa. Puasa ini memiliki makna sebagai bentuk penyucian diri dengan tidak mengonsumsi makanan selain putih dan juga mengandung rasa tambahan apapun. Tanpa gula, maupun garam, hanya tawar saja, termasuk airnya.

ADVERTISEMENT

Dalam buku Primbon Masa Kini: Warisan Nenek Moyang untuk Meraba Masa Depan oleh Romo RDS Ranoewidjojo, puasa ini dikenal sebagai laku mutih. Laku sendiri merupakan sebuah tindakan yang harus dilakukan untuk dapat mencapai suatu keinginan. Tujuan dari laku mutih adalah untuk menguatkan 'saudara putih' untuk memimpin ketiga saudara lainnya untuk menghindari bujukan duniawi. Dengan demikian, mereka bisa kembali ke dalam jalan menuju Tuhan.

Filosofi saudara putih ini berasal dari unsur udara atau biasa disebut muthma'innah. Unsur udara ini dimaknai sebagai nafsu yang dipercaya lebih dekat kepada kesucian Tuhan. Kemudian tiga saudara lainnya adalah (1) unsur api yang merupakan nafsu amarah, (2) unsur air yang merupakan shuffiyah atau kebijaksanaan, dan (3) unsur tanah atau lawwamah yang dekat dengan hal-hal duniawi.

Pada intinya, puasa mutih ini memiliki makna sebagai bentuk 'kembali' nya diri menjadi suci. Secara filosofi, puasa mutih tidak sekadar praktik fisik, tetapi juga simbol perjalan spiritual untuk menata keseimbangan setiap unsur dalam diri. Melalui tirakat ini, seseorang berupaya meredam dorongan nafsu duniawi agar kembali terarah menuju jalan Ilahi.

Tata Cara Puasa Mutih

Secara umum, puasa mutih dilakukan dengan mengonsumsi makanan dan minuman berwarna putih, tanpa rasa. Namun, ada beberapa ketentuan dalam tata cara pelaksanaannya. Mulai dari waktu pelaksanaan, sampai kegiatan yang tidak boleh dilakukan ketika puasa mutih.

Bersumber dari buku berjudul Laku Prihatin yang ditulis oleh Iman Budhi Santosa, berikut ketentuan puasa mutih.

  1. Sebelum menjalankan puasa mutih harus didahului dengan mandi keramas.
  2. Seseorang yang akan melakukan puasa mutih harus menyatakan niat dan tujuannya, serta berapa hari ia akan melakukannya.
  3. Puasa mutih biasanya dilakukan dalam jumlah hari yang ganjil, seperti 1, 3, 5, 7 hari, dan seterusnya.
  4. Dilarang makan apapun selain nasi putih, bahkan sayur dan garam tidak diperbolehkan.
  5. Dilarang minum apapun selain air putih, bahkan teh, kopi, maupun minuman manis lainnya tidak diperbolehkan.
  6. Buka puasa setelah maghrib, dan sahur sebelum adzan subuh seperti puasa sunnah biasa, tetapi harus makan nasi putih dan minum air putih.
  7. Tidak boleh berhubungan seksual, berbuat buruk maupun haram.
  8. Penuhi malam hari mutih dengan dzikir dan berdoa agar cita-citanya dikabulkan oleh Tuhan.
  9. Puasamutih biasanya dilakukan setiapselapan atau 35 hari khusus pada hari tertentu, seperti Senin-Kamis,weton lahir, tiga hari yang jumlahneptunya 40, meliputi:
    • Selasa Kliwon, Rabu Legi, dan Kamis Pahing.
    • Rabu Pon, Kamis Wage, dan Jumat Kliwon.
    • Kamis Wage, Jumat Kliwon, dan Sabtu Legi.

Manfaat Puasa Mutih

Tidak hanya memiliki makna penyucian diri, puasa mutih juga biasa dilaksanakan dengan tujuan dan manfaat yang lainnya. Salah satu tujuan yang mungkin sering kita dengar adalah untuk mendapatkan kekuatan. Masih dari sumber yang sama, adapun manfaat puasa mutih adalah sebagai berikut:

  • Membantu meningkatkan kualitas batin, memperbaiki akhlak, serta membentuk perilaku yang lebih terjaga sehingga mencapai kondisi "putih" atau hati yang bersih dari dosa, kesalahan, dan pengaruh nafsu duniawi.
  • Ketika kondisi batin telah bersih dan jernih, maka doa dan permohonan menjadi lebih mudah terkabul.
  • Puasa mutih yang dijalani sebagai bagian dari tirakat membangun kekuatan batin dalam ilmu kanuragan dengan harapan memperoleh kesaktian, ajian, atau kemampuan spiritual tertentu.

Jenis Puasa Mutih dalam Masyarakat Jawa

Dalam praktinya, puasa mutih tidak dilaksanakan dalam satu pola yang sama. Terdapat tata cara yang berbeda dalam pelaksanaan puasa ini. Berdasarkan buku berjudul Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya oleh Khalifa Zain Nasrullah, terdapat dua jenis puasa mutih dalam masyarakat Jawa.

Adapun dua jenis puasa mutih dalam kalangan masyarakat Jawa tersebut adalah sebagai berikut:

1. Puasa Mutih Bersifat Muthlaq

Puasa mutih jenis ini dilaksanakan layaknya puasa sunnah pada umumnya, atau orang-orang menggolongkannya ke dalam jenis puasa sunnah muthlaq. Puasa yang dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

Akan tetapi, keduanya jelas bukan perkara yang sama. Perbedaannya terdapat pada makanan dan minuman yang dikonsumsi setelah berbuka puasa. Puasa sunnah sesuai ajaran Islam berbuka dengan makanan dan minuman apapun selam itu halal. Sementara puasa mutih harus berbuka dengan makan nasi putih dan air putih saja.

2. Puasa Mutih Bersifat Wishal

Lain lagi dengan puasa mutih yang bersifat wishal ini. Bisa dikatakan, puasa ini memiliki tingkat tirakat yang lebih berat. Sesuai dengan arti wishal yakni terus menerus, puasa mutih ini dijalankan dengan bersambung hari semalam penuh, bahkan hingga dua hari lebih.

Kendati demikian, aturan berbukanya pun tetap sama. Puasa mutih dengan sifat ini juga berbuka hanya dengan makan nasi putih dan minum air putih. Tidak heran jika jenis puasa mutih ini dinilai memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Begitulah puasa mutih dijalankan dan dimaknai dalam masyarakat Jawa sebagai sebuah tirakat penyucian diri. Semoga menjadi wawasan baru untuk kalian ya, Dab!

Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(sto/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads