10 Dongeng Anak Sebelum Tidur yang Panjang dan Penuh Pesan Moral

10 Dongeng Anak Sebelum Tidur yang Panjang dan Penuh Pesan Moral

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Selasa, 31 Mar 2026 19:00 WIB
Ilustrasi Dongeng Anak. 10 dongeng anak sebelum tidur panjang dan penuh pesan moral.
Ilustrasi Dongeng Anak (Foto: Annie Spratt/Unsplash)
Solo -

Dongeng sebelum tidur selalu memiliki tempat istimewa dalam kehidupan anak-anak. Bukan sekadar cerita pengantar lelap, dongeng menjadi sarana yang lembut untuk menanamkan nilai kehidupan sejak dini. Melalui alur cerita yang menarik dan tokoh-tokoh yang beragam, anak dapat belajar tentang kebaikan, kejujuran, kesabaran, hingga konsekuensi dari setiap tindakan.

Kisah-kisah yang panjang justru memberi ruang lebih luas bagi anak untuk memahami alur, merasakan emosi tokoh, serta menyerap pesan moral secara lebih mendalam. Orang tua pun dapat memanfaatkan momen ini untuk mempererat kedekatan dengan anak, sambil menyampaikan nilai-nilai penting dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Berikut adalah 10 dongeng anak sebelum tidur yang panjang dan penuh pesan moral, yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan sehari-hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

10 Dongeng Anak Sebelum Tidur

Setiap dongeng berikut menghadirkan cerita yang tidak hanya menarik, tetapi juga sarat makna. Dari berbagai peristiwa yang dialami para tokohnya, tersimpan pelajaran hidup yang bisa dipetik dengan cara yang sederhana dan menyentuh.

Deretan dongeng di bawah ini diambil dari buku 5 Dongeng Anak Dunia karya Dedik Dwi Prihatmoko dan 101 Dongeng Sebelum Tidur 80 Dongeng Nusantara dan 21 Dongeng Dunia karya Redy Kuswanto.

ADVERTISEMENT

1. Tuah: Tupai si Pantang Menyerah

Di daerah perbukitan Pulau Jawa, terdapat kumpulan tupai pemakan buah kelapa. Para tupai jantan memiliki kegemaran unik, yaitu meloncat dari ranting pohon ke ranting pohon lainnya. Sementara para tupai betina lebih suka merayap. Mereka tidak berani untuk meloncat.

Tetapi berbeda dengan Tuah, tupai betina si pantang menyerah. Dia ingin sekali dapat meloncat. Oleh karena itu, Tuah mendatangi Eyang Tupai. Beliau adalah pelatih yang selama ini mengajari para tupai jantan meloncat.

"Eyang, jadikanlah aku muridmu seperti para tupai jantan itu," pinta Tuah.

"Kamu perempuan, sudahlah, tidak perlu kamu susah payah berlatih loncat padaku," jawab Eyang Tupai.

"Tolonglah, Eyang. Aku ingin seperti para tupai jantan yang dengan mudah meloncat dari satu pohon ke pohon lain," ucap Tuah dengan nada memohon.

Eyang Tupai akhirnya merasa kasihan melihat Tuah yang begitu ingin berlatih melompat padanya. Eyang pun melatih Tuah sama seperti melatih tupai jantan lainnya.

Hari pertama latihan menjadi hari yang cukup buruk. Tuah jatuh berkali-kali. Begitu pun di hari kedua, ketiga, keempat, dan kelima.

Sepekan sudah lamanya Tuah berlatih. Ia berusaha keras untuk menjadi peloncat seperti tupai jantan, tetapi belum ada tanda-tanda keberhasilan.

"Sudahlah, Tuah, kau tidak usah menyiksa tubuhmu seperti ini. Terimalah keadaanmu seperti apa adanya."

"Tidak, Eyang, aku hanya perlu berlatih lebih keras lagi. Insyaallah aku akan seperti tupai jantan yang dapat melompat dengan lincahnya," ucap Tuah. Ia pun kembali berlatih sesuai apa yang diajarkan Eyang Tupai sebelumnya.

Dalam hati, Eyang Tupai berkata, "Tupai betina ini sungguh pantang menyerah."

Tidak terasa, sudah dua bulan Tuah berlatih meloncat. Dan usahanya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Kini Tuah sudah dapat meloncat layaknya tupai jantan. Dari satu pohon ke pohon lainnya, ia meloncat dengan indahnya.

"Masyaallah... Eyang kagum melihat perjuanganmu selama ini. Maafkan Eyang ketika dulu pernah merendahkanmu sebagai seekor tupai betina yang lemah. Selamat atas keberhasilanmu!" ucap Eyang Tupai, si pelatih.

Berkat perjuangan Tuah, Eyang Tupai terketuk hatinya bahwa semua makhluk memiliki potensi yang sama, yang membedakan hanyalah usaha dan kerja kerasnya.

Setelah kejadian itu, Eyang Tupai mulai membuka kelas latihan lompat secara terbuka, tanpa memandang ia tupai jantan ataukah betina, karena yang menentukan adalah sikap pantang menyerah dalam dirinya.

Hikmah: Kegigihan dan kerja keras akan membuahkan hasil sesuai dengan apa yang kita inginkan.

2. Leu: Lebah yang Bersatu

Leu adalah lebah madu yang tinggal di perbukitan Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sebagai anak sulung dari sepuluh bersaudara, Leu berusaha untuk selalu menjaga kerukunan di antara adik-adiknya.

Adik-adik Leu hampir setiap hari bertengkar. Berawal dari senda gurau hingga berlanjut pada perkelahian. Melihat kejadian itu, beberapa hewan lain merasa terganggu akan kegaduhan yang hampir setiap hari mereka lakukan.

Leu mencoba mencari cara untuk menyadarkan kesembilan adiknya agar tetap rukun. Muncullah sebuah ide. Leu mengambil satu ranting kayu dan sepuluh ranting kayu yang diikat menjadi satu.

Kesembilan adiknya diminta berkumpul. Alhamdulillah tidak ada yang absen untuk memenuhi panggilan Leu sang kakak.

"Terima kasih atas kedatangan kalian, adik-adikku," ungkap Leu memulai obrolan.

"Di depan kalian ada satu ranting kayu dan satu ikat ranting kayu yang sengaja kakak ikat, siapa di antara kalian yang bisa mematahkan ranting-ranting ini?" tanya Leu pada adik-adiknya.

"Aku mau mencobanya," jawab adik Leu yang paling kecil.

Untuk mematahkan satu ranting kayu, adik Leu tidak mengalami kesulitan. "Ini sangat mudah untuk aku lakukan," ungkapnya.

Setelah itu, kakak Leu menyodorkan satu ikat ranting. Berbagai cara ia lakukan untuk mematahkan ikatan ranting kayu. Namun, ranting itu tetap tidak patah.

Adik Leu yang paling kecil pun menyerah dan meminta kakak-kakaknya yang lain untuk mencoba.

Adik yang kedua pun ikut mencoba. Satu ranting kayu dengan mudah dipatahkan, namun untuk satu ikat ranting kayu dia juga mengalami kesulitan. Tenaga adik Leu dikeluarkan sekuat-kuatnya, namun usahanya pun masih tetap sia-sia.

Adik Leu yang ketiga, keempat, kelima, hingga yang kesembilan pun mencoba untuk mematahkan ikatan ranting kayu itu, namun semua mendapat hasil yang sama, yakni kegagalan untuk mematahkan ranting kayu yang sudah terikat menjadi satu.

"Inilah yang kakak ingin bilang, hiduplah seperti ranting kayu yang terikat menjadi satu. Semakin kita rukun, maka semakin kuat kemampuan kita. Begitu pun sebaliknya, ketika kita sering bertengkar maka kerapuhan yang akan kita dapati."

Semua adik Leu merunduk, tak dapat berkata apa-apa lagi selain merenungkan ucapan kakak Leu tentang sikap yang selama ini mereka lakukan.

Akhirnya, kesembilan adik Leu mulai sadar atas kekeliruan yang selama ini mereka lakukan. Adik-adik Leu lantas saling meminta maaf dan berjanji untuk tidak akan bertengkar dan marah-marahan lagi, dengan menjaga hubungan baik kepada saudara maupun teman-temannya.

Hikmah: Kerukunan adalah kekuatan hubungan dalam hidup. Maka pupuklah kerukunan itu dengan mengedepankan prinsip bersatu di setiap waktu.

3. Tresalong: Trenggiling sang Penolong

Di sebuah padang sabana, Kalimantan Selatan, tinggallah seekor trenggiling. Trenggiling itu bernama Tresalong. Ia dikenal sebagai trenggiling yang suka menolong.

Pada suatu hari, seekor harimau datang ke padang sabana. Dan dia membuat takut semua hewan. Kelinci, Tupai, dan Tresalong yang sedang bermain turut ketakutan melihat kedatangan harimau. Ketiganya bersembunyi di balik semak-semak.

"Suttt... jangan berisik!" kata Tupai sambil memperhatikan harimau yang perlahan mulai mendekat. Melihat langkah harimau yang semakin dekat, tubuh Kelinci gemetar ketakutan.

Semak-semak tempat mereka bersembunyi bergoyang-goyang lantaran gerakan tubuh Kelinci yang tak bisa ditahan.

Harimau pun melihat hal itu. Perlahan harimau mendekat ke semak-semak.

"Hei! Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya harimau.

"Tidak, kami tidak sedang melakukan apa-apa," kata tupai menjawab pertanyaan si harimau.

"Baiklah, aku lapar! Aku butuh daging segar. Apakah kalian bisa memberiku makanan yang aku butuhkan?" seru sang harimau kepada kelinci, tupai, dan Tresalong.

Mendengar hal itu, kelinci dan tupai semakin ketakutan. Mereka pasrah dengan nasib hidupnya. Tidak ada langkah lain kecuali menanti harimau mencabik-cabik tubuh mereka dan menyantapnya.

Tresalong menyadari kedua temannya ketakutan. Oleh karenanya, Tresalong mencoba berbicara pada harimau.

"Harimau, dagingku sangat lezat. Aku mau memberikan dagingku kepadamu, asalkan kamu mau melepaskan dua temanku."

"Aku rela, asalkan dua temanku diizinkan pulang menyampaikan kematianku kepada orang tuaku," ungkap Tresalong meyakinkan harimau.

"Baiklah, kalau hanya itu maumu," pungkas harimau.

Kelinci dan Tupai akhirnya diperkenankan untuk pergi menyampaikan keinginan Tresalong. Dengan berat hati, keduanya beranjak pergi meninggalkan Tresalong dengan harimau.

Saat dirasa cukup jauh dan tak terlihat dari jangkauan mata, Tresalong segera meminta harimau untuk mencicipi dagingnya.

Harimau yang sudah sangat lapar tak mau menunggu lama. Ia segera mendekat dan menyergap Tresalong. Namun seketika itu Tresalong menggulingkan tubuhnya. Harimau tidak sadar bahwa Tresalong dapat menggulingkan tubuhnya dengan balutan sisik yang keras, dan membuat harimau kesusahan untuk memakannya.

Berulang kali harimau mencoba menggigit tubuh Tresalong, namun usahanya sia-sia. Yang harimau dapatkan justru rasa sakit pada taringnya karena berulang kali menggigit kerasnya sisik yang menyelimuti tubuh Tresalong.

Setelah beberapa waktu lamanya, harimau pun menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan Tresalong. Harimau pun pergi dengan perut keroncongan karena ia tidak mendapat santapan daging untuk menu makan siang.

Sementara Tresalong justru gembira karena berhasil menyelamatkan kedua temannya dari buruan si harimau. Ketika Tresalong pulang, semua teman dan keluarga menyambut dengan penuh haru.

Beragam ucapan terima kasih pun bersahut-sahutan datang dari kelinci, tupai, dan orang tua kepada Tresalong. Tresalong pun hidup bahagia atas sikap penolongnya.

Hikmah: Berjiwalah sebagai penolong yang tulus dan milikilah kecerdikan dalam hidup untuk tujuan kebaikan. Karena dengan itu semua, kita akan mudah untuk membahagiakan diri sendiri maupun orang lain di sekeliling kita.

4. Kebati: Kelelawar yang Baik Hati

Di sebuah hutan Nusa Tenggara Barat, hiduplah sekelompok komodo, burung kakak tua, musang, kelelawar, dan beberapa jenis hewan lainnya. Mereka hidup rukun dan saling berdampingan.

Di antara penduduk hutan, ada seekor kelelawar yang terkenal baik hati. Kelelawar tersebut biasa dipanggil Kebati. Ia suka membantu penduduk hutan yang sedang mendapat kesulitan.

Suatu malam, terdengar bibi burung kakak tua meminta tolong.

"Tolong...! Tolong...! Tolong...!"

Mendengar hal itu, kelelawar segera mendatangi bibi burung kakak tua.

"Ada apa, Bibi? Malam-malam begini berteriak meminta tolong?" tanya Kebati.

"Anakku sakit dan aku tidak bisa pergi mencari obat karena cuaca di luar gelap," ungkap bibi kakak tua sambil meneteskan air mata.

Bibi kakak tua sangat sayang pada anak-anaknya. Namun, ia tidak dapat melakukan apa-apa malam itu. Cuaca di luar gelap dan udara dinginnya tidak seperti hari-hari biasa. Mungkin hal itu yang menjadikan anaknya demam tinggi.

Sebagai orang tua, tentu bibi kakak tua sangat panik. Ia tidak dapat melakukan apa-apa kecuali berdoa dan meminta bantuan kepada penduduk hutan.

Melihat hal itu, Kebati kemudian menanyakan obat yang dibutuhkan kepada bibi kakak tua.

"Obat yang dibutuhkan bisa diambil di mana? Biar aku yang mengambilnya," tanya Kebati sambil menatap bibi kakak tua.

"Obat itu ada di perbatasan hutan. Cukup jauh tempatnya dari sini. Obat itu bernama daun katuk. Mustahil untuk mengambilnya di cuaca gelap seperti ini," ungkap bibi kakak tua padanya.

"Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkannya untuk anakmu, Bi," kata Kebati seraya bergegas terbang untuk mencari tanaman yang dimaksud.

Di malam yang dingin, Kebati terbang menuju perbatasan hutan. Dalam kegelapan, ia mengandalkan kemampuan ekolokasi yang dimilikinya, yaitu mengeluarkan suara berfrekuensi tinggi untuk dipantulkan ke benda yang ada di sekitarnya dan kembali ke telinganya.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, sampailah Kebati di perbatasan hutan. Ia mulai mencari daun katuk dengan kemampuan ekolokasinya.

Setelah menemukan daun katuk yang dia cari, Kebati segera pulang untuk memberikan daun itu kepada bibi kakak tua.

Betapa senangnya bibi kakak tua melihat Kebati datang membawa daun katuk. Tanpa buang waktu, bibi kakak tua segera meramu daun katuk sebagai obat demam untuk anaknya. Setelah meminum ramuan obat daun katuk, anaknya pun sembuh.

Pagi harinya, bibi kakak tua berkunjung ke rumah Kebati. Bibi mengucapkan terima kasih dan memberikan bermacam-macam buah segar yang baru dipetiknya. Bibi kakak tua dan penduduk hutan semakin sayang pada Kebati, buah dari kepribadiannya yang baik hati.

Hikmah: Ketika kita suka berbuat kebaikan maka orang akan memberikan balasan kebaikan tanpa kita sadari di awal.

5. Pashol: Panda Anak Sholeh

Di daerah perbukitan China yang dingin, hiduplah habitat panda. Dalam habitat tersebut, tinggallah Pashol, seekor panda kecil bersama keluarganya.

Hari ini Pashol tampak sedih. Ia berdiam diri di bawah kerimbunan pohon bambu. Ia bangun kesiangan sehingga tidak dapat berangkat ke masjid.

Ibu Pashol mendekati anaknya yang nampak sedih.

"Ada apa, Pashol?"

"Bu, pukul aku! Hari ini aku bangun kesiangan dan tidak sholat Subuh," jawab Pashol sambil menundukkan kepala.

Mendengar ucapan itu, ibu Pashol tersenyum.

"Lihat ibu!"

Pashol pun secara perlahan mencoba menengadahkan kepala dan menatap ibunya.
"Ibu tidak akan memukulmu. Ibu tahu kamu anak baik. Lupa itu wajar. Kamu sudah pintar karena tahu kesalahanmu," ungkap ibu menasihati. "Yang penting jangan diulangi lagi, Nak!" tambahnya.

Mendengar perkataan ibunya, Pashol pun segera meminta maaf dan memeluk ibunya.

"Sekarang hapus rasa sedihmu dan ingat, jangan tidur larut malam! Terbangun di waktu pagi dan sholatlah, Nak!" ungkap ibu.

Pashol mengangguk mendengarkan nasihat ibunya. Segera ia mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat. Usai sholat, ia kembali kepada ibunya.

"Sholat itu ibarat balas budi. Kita bebas menghirup udara, melihat indahnya dunia, itu semua pemberian Allah SWT semata. Maka, sudah sepantasnya kita bersyukur atas karunia-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya," ungkap ibu Pashol padanya kemudian.

Ibu Pashol tidak bosan untuk mengingatkan bahwa sholat termasuk bagian perintah agama yang wajib hukumnya. Ibu Pashol selalu memberikan contoh kepada Pashol untuk menjaga sholat lima waktunya.

"Terima kasih, Ibu, untuk nasihatnya. Pashol berjanji akan memperbaiki sholat Pashol.

Pashol juga janji tidak akan tidur terlalu malam lagi agar bisa bangun lebih awal bersama ayam-ayam," ungkap Pashol dengan selipan tawa ringan.

Ibu Pashol pun tertawa bahagia mendengar ucapan putranya dan dengan bangga memeluknya.

"Ibu sayang sama Pashol," bisik ibu padanya.

Hikmah: Menyadari kesalahan dan memperbaikinya adalah tanda kebaikan diri.

6. Batu di Tepi Danau Laut Tawar

Hiduplah sepasang suami istri dengan anak perempuannya yang cantik jelita di negeri Aceh. Selain cantik, ia juga rajin dan sangat menyayangi keluarga. Seorang pemuda tampan ingin meminang gadis itu. Ia berasal dari keluarga terhormat dan kaya raya di negeri seberang. Si gadis menerima pinangan si pemuda setelah keluarganya memberi restu. Pesta pernikahan pun dilangsungkan dengan amat meriah.

Setelah beberapa hari, pemuda itu hendak pulang ke kampung halaman. Ia mengajak istrinya. Hati sang istri amat berat meninggalkan keluarga dan desanya. Namun, ia harus mengikuti ajakan suami sebagai tanda bakti dan kesetiaan kepada suaminya.

"Anakku, tinggallah di negeri suamimu," pesan sang ayah. "Ingatlah, selama dalam perjalanan, jangan menoleh ke belakang. Jika melakukannya, kau akan menjadi batu!"
Si gadis dan suaminya pun meninggalkan desa. Mereka memulai perjalanan jauh menuju negeri di seberang lautan. Hingga tibalah mereka di Danau Laut Tawar. Mereka menaiki sebuah sampan dan menyeberangi danau itu.

Saat sampan mengarungi danau, si gadis mendengar suara ibunya. Suara itu terus memanggil-manggil namanya. Kejadian itu berlangsung lama. Akhirnya si gadis lebih memilih menoleh. Petaka pun seketika terjadi.

Sesaat setelah si gadis menolehkan wajahnya ke belakang, tubuhnya berubah menjadi batu.
Betapa sedih hati sang suami. Karena terlalu cinta, sang suami ingin selalu bersama istrinya. Ia lantas memohon kepada Tuhan agar dirinya berubah menjadi batu. Selesai memohon, tubuh si pemuda berubah menjadi batu. Sepasang batu itu berada di tepi Danau Laut Tawar.
Pesan moral: Kita harus mematuhi nasihat orang tua dan hendaknya tidak mengingkari janji.

7. Si Pahit Lidah

Di Kerajaan Sumidang hidup seorang pangeran bernama Serunting. Serunting memiliki seorang istri dan adik ipar bernama Aria Tebing. Serunting dan Aria Tebing memiliki ladang yang dipisahkan oleh pepohonan. Di bawah pepohonan itu tumbuh cendawan. Cendawan yang menghadap ke ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas, sedangkan yang menghadap ke ladang milik Serunting tumbuh menjadi tanaman hama.

Serunting menjadi iri. Ia pun mengajak Aria Tebing berduel. Tentu saja Aria Tebing menolak. Serunting adalah kakak iparnya yang sakti. Tetapi, Aria Tebing ingin berjaga-jaga.

Ia bertanya kepada kakaknya, "Apa kelemahan Serunting?"

"Ia bisa dikalahkan dengan ilalang yang bergetar," jawab kakaknya.

Akhirnya Serunting kalah berduel. Merasa dikhianati, ia bertapa di Gunung Siguntang.
Dua tahun berlalu. Serunting memiliki kesaktian. Setiap perkataannya akan menjadi kenyataan dan kutukan. Suatu hari, ia berniat pulang ke kampung halamannya. Dalam perjalanan, ia mencoba kesaktiannya. "Jadilah batu!" ucapnya sambil menunjuk sebuah pohon. Pohon itu pun seketika menjadi batu.

Nama Serunting semakin dikenal. Ia pun menjadi sombong. Orang-orang menjulukinya si Pahit Lidah. Saat tiba di Bukit Serut yang gundul, Serunting menyadari kesalahannya. Ia mengubah bukit itu menjadi hutan kayu. Masyarakat berterima kasih kepadanya. Hutan kayu itu bisa mencukupi kebutuhan hidup masyarakat sekitar.

Saat tiba di Desa Karang Agung, Serunting mendatangi suami istri tua. "Kami sangat ingin mempunyai anak," ucap keduanya. Serunting pun mengabulkan keinginan mereka. Sehelai rambut si nenek dijadikannya seorang bayi. Serunting bahagia bisa membantu orang lain. Di sisa perjalanannya, ia belajar untuk menolong orang yang kesulitan. Kata-kata kutukan dari mulutnya berubah menjadi perkataan yang baik.

Pesan moral: Sudah seharusnya ilmu menjadikan kita lebih bijak. Ilmu yang kita miliki harus digunakan untuk membantu sesama.

8. Si Lingga dan Si Purba

Lingga dan Purba adalah dua bersaudara yang sangat miskin. Mereka bekerja sebagai pencari kayu bakar dan rotan di dalam hutan. Suatu hari, saat beristirahat di bawah pohon, Lingga teringat pesan orang tuanya. Jika berdoa dengan ikhlas, keinginan kita akan dikabulkan.

Lingga mengajak Purba berdoa. Selesai berdoa dengan khusyuk, tiba-tiba seekor burung terbang mendekat.

"Hai, anak muda, kekayaan apakah yang kalian kehendaki?"

Lingga dan Purba menjawab ragu, "Berikan kami emas sebesar kepala kuda."

Ketika hendak pulang, mereka menemukan bongkahan emas sebesar kepala kuda. Kedua pemuda itu sangat gembira. Mereka pun mulai mengkhayal apa saja yang akan mereka beli dari hasil menjual emas itu. Lingga ingin memiliki emas itu sendiri. Purba pun berpikir demikian.

Karena sedang lapar, mereka tidak bisa mengangkut emas itu. Lingga meminta Purba untuk mengambil makanan di rumah. Purba setuju. Sepeninggal Purba, ternyata Lingga membuat lubang perangkap di dekat bongkahan emas. Ia menancapkan bambu-bambu runcing di dalamnya, lalu menutupinya dengan daun-daun kering.

Setelah kenyang, Purba kembali ke hutan. Ia melihat Lingga masih menunggu. Purba mendekati saudaranya dengan gembira. Ketika hampir sampai, Purba terjatuh ke dalam lubang. Makanan yang ia bawa terlempar ke luar.

Lingga senang karena jebakannya berhasil. Ia segera makan dengan lahap. Tak lama, Lingga muntah darah. Ternyata Purba telah meracuninya. Keduanya meninggal dunia. Tak seorang pun bisa memiliki bongkahan emas itu.

Pesan moral: Sifat serakah akan selalu membawa celaka.

9. Putri Ikan dan Danau Toba

Di sebuah desa, hiduplah seorang petani sederhana. Usia petani itu sudah cukup untuk menikah.

Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. Ia mendapatkan seekor ikan emas cukup besar.

Ikan itu berubah menjadi seorang gadis yang cantik jelita. "Aku berutang budi padamu. Kau telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata," katanya bahagia. "Karena kau telah menolongku, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu."

Maka, jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada janji yang telah disepakati. Mereka tidak boleh menceritakan asal-usul si gadis. Jika kelak dikaruniai anak, jangan sampai anak mereka tahu bahwa sang ibu adalah Putri Ikan. Jika janji itu dilanggar, akan terjadi petaka.

Setahun kemudian, sang putri melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putra. Anak lelaki itu pun tumbuh menjadi anak yang manis, tetapi nakal. Putra mempunyai kebiasaan aneh. Ia selalu merasa lapar. Makanan untuk bertiga dapat dimakannya sendiri.

Suatu hari, Putra diberi tugas mengantarkan makanan ke sawah untuk ayahnya. Namun, ia menghabiskan makanan itu di tengah jalan. Tentu saja ayahnya murka karena harus menahan lapar dan haus.

"Anak tak tahu diri! Dasar anak ikan!" umpat si petani tanpa sadar.

Sesaat setelah mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya lenyap. Dari bekas injakan kaki mereka, tiba-tiba menyembur air yang sangat deras. Desa si petani dan sekitarnya terendam. Air meluap dan meluas hingga membentuk sebuah danau. Penduduk sekitar menyebutnya Danau Toba.

Pesan moral: Jadilah orang yang sabar dan bisa mengendalikan emosi. Jangan melanggar janji yang telah kita ucapkan.

10. Dua Gadis dan Ibu Kucing

Dahulu, hidup kakak beradik, Sulung dan Bungsu. Tidak seorang pun tahu bahwa ibu mereka adalah seekor kucing. Padahal, banyak pemuda yang tertarik dengan mereka.

Suatu hari, datang dua pemuda yang ingin meminang Sulung dan Bungsu. Sebelum menikah, Sulung dan Bungsu menyuruh mereka untuk meminta restu kepada ibunya.

Kedua gadis itu kemudian memanggil ibu mereka yang sejak tadi belum menemui dua pemuda itu.

Betapa terkejutnya kedua pemuda itu ketika yang muncul adalah seekor kucing. Mereka tidak bisa menerima ibu Sulung dan Bungsu yang ternyata seekor kucing. Akhirnya, mereka membatalkan lamaran. Mereka tidak mau memiliki ibu mertua seekor kucing.

Sulung dan Bungsu begitu malu dan kecewa. Mereka menyesal memiliki ibu seekor kucing. Akhirnya, mereka berpikir untuk mencari ibu baru yang lebih pantas.

"Maukah kau menjadi ibu kami?" pinta mereka pada Matahari. Namun, Matahari menolak.

Matahari tidak sehebat yang mereka kira. Matahari akan terhalang saat awan datang.

Maka, Sulung dan Bungsu pun menemui Awan. Mereka berharap awan mau menjadi ibu mereka.

"Aku tidak bisa menjadi ibu kalian," tolak Awan. Ia akan terhempas jika angin datang. Lalu, gunung akan menghalanginya.

Akhirnya, Sulung dan Bungsu pergi mencari Gunung. Ternyata, Gunung pun menolak. Meskipun Gunung bertubuh besar, di tubuhnya banyak lubang. Tikuslah yang melubanginya.

Sulung dan Bungsu akhirnya pergi mencari Tikus. Mereka masih berharap dapat menemukan seorang ibu yang hebat untuk mereka.

Mereka berhasil menemukan Tikus. Tetapi, Tikus pun ternyata menolak.

"Aku saja bisa dimakan kucing," ucap Tikus.

Tikus yang mereka anggap kuat ternyata takut pada seekor kucing. Setelah itu, barulah Sulung dan Bungsu sadar. Ternyata ibu merekalah yang paling hebat. Mereka sangat bersalah pada sang ibu.

Sulung dan Bungsu pun sadar, lalu menyayangi ibunya untuk selama-lamanya.

Pesan moral: Kita seharusnya menghormati dan menyayangi ibu kita apa pun kondisinya.

Dongeng-dongeng di atas tidak hanya menghadirkan cerita yang menarik untuk menemani waktu sebelum tidur, tetapi juga menyimpan banyak pelajaran hidup yang berharga. Setiap kisah mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, rasa syukur, hingga pentingnya menghormati orang lain.

Melalui cerita-cerita ini, anak-anak dapat belajar memahami mana yang baik dan yang tidak, sekaligus menumbuhkan empati serta kebijaksanaan sejak dini. Kebiasaan mendengarkan dongeng sebelum tidur pun dapat menjadi momen hangat yang mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

Semoga kumpulan dongeng ini bisa menjadi pilihan yang bermanfaat, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan dan penuh makna.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(num/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads