Berburu Kupat Jembut di Pedurungan Semarang

Berburu Kupat Jembut di Pedurungan Semarang

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Sabtu, 28 Mar 2026 13:27 WIB
Warga Pedurungan, Kota Semarang, saat menggelar tradisi kupat jembut, Sabtu (28/3/2026).
Warga Pedurungan, Kota Semarang, saat menggelar tradisi kupat jembut, Sabtu (28/3/2026). (Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng)
Semarang -

Warga di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, masih melestarikan tradisi Syawalan dengan membagikan kupat jembut. Tradisi tersebut masih dijaga oleh masyarakat Pedurungan sejak usai Perang Dunia ke-2.

Pantauan detikJateng di Jaten Cilik, RW 6, Kelurahan Pedurungan Tengah, Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 04.30, para warga bersiap mendirikan salat Subuh di Masjid Roudhotul Muttaqin.

Bakda salat Subuh, sejumlah nampan berisi kupat jembut dibawa warga. Kupat jembut merupakan kupat atau ketupat berisi tauge hingga parutan kelapa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai nampan berisi kupat jembut ditata di pelataran masjid, warga duduk melingkar, pun para anak-anak. Lalu, mereka merapal doa.

Doa rampung dilantunkan, para warga lantas berbaris di jalan pinggir masjid. Mereka tengah menunggu giliran untuk mendapat kupat jembut.

ADVERTISEMENT

Warga bergiliran diberikan kupat jembut oleh takmir masjid. Petasan disulut, meletup-letup menambah meriah tradisi Syawalan.

Kemudian, kejutan lain menunggu. Seorang wanita tengah berdiri, di tangannya digenggam sejumlah pecahan uang Rp 2 ribu.

Ting, ting, ting, kentongan dari besi dipukul. Tanpa aba-aba, anak-anak langsung menyerbu wanita yang membawa uang tersebut.

"Baris ayo berbaris," ujar wanita bernama Yutatik (43) yang membawa uang tersebut.

Para bocah pun menurut dan berbaris. Mereka bergantian mendapat uang dari Yutatik.

Tak hanya Yutatik, warga lainnya pun membagikan pecahan uang kepada puluhan bocah tersebut. Sebagian lainnya memberikan kupat jembut.

Puluhan bocah tersebut membawa kantong plastik untuk membungkus kupat jembut. Wajah mereka tampak gembira usai menerima kupat jembut dan sejumlah uang. Tak hanya bocah-bocah, warga dewasa pun ikut mengantre untuk mendapat Kupat Tahu.

Yutatik mengatakan, kupat jembut di kampungnya merupakan tradisi Syawalan yang dirayakan 7 hari setelah Idul Fitri.

"Iya, Syawalan dalam merayakan 7 hari kemenangan Idul Fitri. Kita ikut melestarikan adat istiadat biar tetap berlangsung," kata Yutatik saat ditemui usai membagikan uang.

Dulunya warga merayakan Syawalan dengan banyak membagikan kupat jembut. Kini sebagian warga memilih untuk membagikan uang.

"Dulu pakainya ketupat, sekarang kebanyakan pakai uang karena saya bukan orang sini asli, ikut meramaikan," ungkap Yutatik.

Warga Pedurungan, Kota Semarang, saat menggelar tradisi kupat jembut, Sabtu (28/3/2026).Warga Pedurungan, Kota Semarang, saat menggelar tradisi kupat jembut, Sabtu (28/3/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng

Seorang warga yang beruntung mendapatkan kupat jembut, Eko Harianto, mengatakan kupat jembut berisi tauge dan sambal gudangan.

"Ini dapat ketupat untuk Lebaran. Ini isinya ada tauge, sambal gudangan, sama ketupat isinya, ini rasanya gurih banget. Ini setiap tahun ada, semua warga antusias untuk merayakannya," jelas Eko.

Sementara itu, Syifa (13), baru mendapatkan satu buah kupat jembut. Dia menyebut rasanya enak.

"(Dapat kupat jembut) Satu. (Rasanya?) Enak, gurih manis, asin, pedas," sebut Syifa.

Dia mengaku setiap tahunnya mengikuti tradisi Syawalan tersebut. Tak cukup satu, Syifa, bahkan bakal memburu Kupat Tahu dari tetangga lainnya.

"(Biasanya dapat berapa kupat jembut?) Banyak sih biasanya dapat 10. Uangnya banyak juga biasanya (mendapat) sampai Rp 50 ribu," katanya.

Sejak Usai Perang Dunia ke-2

Imam Masjid Roudhotul Muttaqin, Munawir, menceritakan saat itu warga di kampungnya mengungsi dari Purwodadi ke Pedurungan usai Perang Dunia ke-2.

Saat itu pada 1950-an, warga mengungsi saat menjelang puasa. Ketika itu pula kupat jembut dibuat dari kesederhanaan.

"Terus perang selesai sekitar tahun 50-an. Warga pulang waktu itu menjelang puasa dan suasana masih dalam kesederhanaan, dibuatlah kupat yang sederhana dibelah tengahnya dan dikasih tauge dan dikasih kelapa," kata Munawir.

Munawir mengatakan, dirinya tidak begitu paham siapa sebenarnya yang menamakan kupat jembut. Dia hanya menduga, nama tersebut disematkan agar lebih mudah diingat.

"Saya sendiri kurang tahu itu nama dari mana. Tapi mungkin sebagai keunikan, warga menamakan itu, dan mungkin bisa mudah mengingat, itu dinamakan kupat jembut itu," jelasnya.

Adapun makna dari dibelahnya ketupat, jelas Munawir, yakni untuk menandai para warga saling memaafkan. Tradisi tersebut biasa digelar pada 8 Syawal.

"Tradisi ini memang ditandai dengan dibelahnya ketupat. Sebagai tanda melepaskan jabat tangan dan Lebaran telah selesai. Dan warga sudah saling memaafkan," ungkapnya.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads