Sesaji Rewanda Gua Kreo Semarang, Hadiah untuk Kera Wujud Syukur Warga

Sesaji Rewanda Gua Kreo Semarang, Hadiah untuk Kera Wujud Syukur Warga

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Sabtu, 28 Mar 2026 13:18 WIB
Suasana Sesaji Rewanda di Gua Kreo, Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (28/3/2026).
Suasana Sesaji Rewanda di Gua Kreo, Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kora Semarang, Sabtu (28/3/2026). (Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng)
Semarang -

Tradisi Sesaji Rewanda di Gua Kreo masih terus dilestarikan masyarakat Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Tradisi yang digelar usai Idulfitri ini merupakan bentuk syukur warga setempat dengan memberi makan kera-kera di kawasan tersebut.

Sesaji Rewanda tahun ini digelar tepat seminggu setelah Lebaran, Sabtu (28/3/2026). Pantauan detikJateng, sembilan buah gunungan yang masing-masing berisi buah-buahan, aneka polo pendem, ketupat, tumpeng, dan sego kethek disiapkan di pertigaan Masjid Al Mabrur, Jalan Raya Goa Kreo.

Kirab dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Dipimpin oleh seorang manggalayuda, replika sepotong kayu jati besar beserta aneka gunungan diarak ratusan orang menuju Gua Kreo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puluhan orang berkostum kera warna-warni turut mengiringi rombongan ini. Kirab berlangsung sangat meriah, masyarakat di sepanjang jalan hingga di Objek Wisata Gua Kreo tampak antusias menyaksikan prosesi dalam tradisi ini.

Sekitar pukul 09.20 WIB, rombongan kirab Sesaji Rewanda tiba di Goa Kreo. Panggung gamelan lengkap dengan sinden dan niyaga serta tenda tarub sudah berdiri kokoh di area parkir.

ADVERTISEMENT

Acara dilanjutkan di panggung dengan penampilan tari hingga prosesi budaya Sesaji Rewanda. Meski harus berjemur di bawah terik matahari, masyarakat tampak tetap antusias menyaksikan prosesi ini.

Setelah serangkaian prosesi itu selesai, tiga gunungan berisi buah-buahan diturunkan ke bawah untuk diberikan kepada kera-kera yang berada di Gua Kreo. Sementara gunungan yang lain diperebutkan oleh masyarakat dan para pengunjung.

Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori mengatakan tradisi Sesaji Rewanda yang berarti hadiah untuk rewanda atau kera ini merupakan wujud rasa syukur warga setempat.

"Bagi masyarakat tradisi ini merupakan wujud syukur atas diberikannya anugerah, kelancaran rezeki, kesehatan, dan juga kita nguri-nguri (melestarikan budaya) atau memerti leluhur," kata Saiful usai acara, Sabtu (28/3/2026).

Saiful menjelaskan tradisi ini sudah ada sejak tahun 1940-an. Kemudian setelah wilayah ini menjadi desa wisata, Sesaji Rewanda semakin berkembang dan menjadi daya tarik wisata.

"(Tradisi ini sudah) lama banget. Kita sudah generasi keempat kalau enggak kelima. Itu kurang lebih tahun 40 atau 50-an lah sudah ada," jelas Saiful.

"Dibesarkan seperti ini mulai kita dijadikan desa wisata tahun 2012. Sejak kita menerima SK Desa Wisata tahun 2012, terus kegiatan ini di backup pembiayaannya oleh Disbudpar, akhirnya kita jadikan event di Desa Wistaa Kandri," lanjutnya.

Menurut Saiful, tradisi ini digelar sebanyak dua kali setelah Lebaran. Ada ritual yang dilakukan secara internal warga setempat serta ritual untuk masyarakat umum sebagai daya tarik wisata.

"Iya (digelar) setelah Lebaran. Kalau yang ritual itu khusus warga RW 3 itu H+3. Kalau yang untuk umum, kita menunggu jadwal dari Pemkot (Semarang) seperti ini, dari Disbudpar," ujarnya.

Suasana Sesaji Rewanda di Gua Kreo, Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (28/3/2026).Suasana Sesaji Rewanda di Gua Kreo, Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (28/3/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

Legenda Sunan Kalijaga

Saiful menjelaskan tradisi ini terkait dengan legenda Sunan Kalijaga yang diutus mencari saka guru untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Kala itu, sebuah kayu jati besar ditemukan di wilayah Kota Semarang dan dialirkan lewat Sungai Kreo.

"Ditemukan pohon jati besar, setelah didekati, mau ditebang, (pohon jati) itu pindah. Tempat tersebut akhirnya dinamakan Jatingaleh. Terus dicari lagi sampai ke Jatikalangan (yang artinya) jati besar itu dikelilingi atau dikalangi jati-jati kecil," ucap Saiful.

"Setelah ditebang, dialirkan di Sungai Kreo ini, tersangkut di sungai depan Gua Kreo ini. Akhirnya setelah semedi, bertapa, Kanjeng Sunan Kalijaga dibantu oleh segerombolan monyet tadi yang warnanya merah, kuning, hitam dan putih, akhirnya bisa diangkat," lanjutnya.

Saiful menuturkan semula kera warna-warni itu hendak ikut Sunan Kalijaga ke Demak usai membantu mengangkat kayu jati yang tersangkut. Namun Sunan Kalijaga bertitah kepada mereka untuk tetap tinggal di wilayah Gua Kreo.

"(Kera-kera itu) diberi tugas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga untuk merawat, melestarikan, menjaga wilayah ini, karena diyakini nanti wilayah ini akan menjadi tempat yang berkah bagi warga di sini. Tempat untuk mencari pekerjaan utama di sini karena nanti tempat ini akan menjadi tempat yang ramai," ujar Saiful.

Menurut Saiful, ucapan Sunan Kalijaga itu benar terbukti. Kini, wilayah Gua Kreo semakin ramai dan menjadi sumber rezeki bagi masyarakat setempat.

"Ini terbukti kan, tahun 2015 kan mulai impounding waduk ini. Waduk dibangun 2010-an, terus impounding atau penggenangan 2015. Terus sekarang banyak warga kami yang dulunya mata pencahariannya itu kan petani tradisional, akhirnya beralih profesi menjadi kegiatan pariwisata," jelas Saiful.

"(Di antaranya warga bekerja sebagai) pendukung kegiatan pariwisata seperti UMKM, seperti transportasi, kegiatan perahu wisata, pemandu wisata, ada homestay, dan sebagainya," pungkasnya.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads