Serunya Warga Boja Kendal Berebut Gunungan di Kirab Syawalan

Saktyo Dimas R - detikJateng
Kamis, 26 Mar 2026 17:31 WIB
Serunya warga berebut gunungan hasil bumi dalam kirab merayakan Syawalan di Desa/Kecamatan Boja, Kendal, Kamis (26/3/2026). Foto: Saktyo Dimas R/detikJateng
Kendal -

Warga di Desa Boja, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, sangat antusias melihat kirab syawalan sore ini. Mereka menunggu selama berjam-jam demi menyaksikan merti desa sekaligus tradisi syawalan ini.

Pantauan detikJateng Kamis (26/3/2026), ratusan warga sudah menunggu kedatangan gunungan hasil bumi di depan kompleks makam Sedapu di Kecamatan Boja sejak pukul 13.00 WIB. Hujan yang mengguyur tak menyurutkan niat masyarakat untuk turut ambil bagian.

"Saya dari Campurejo, ini sama anak mau lihat kirab Syawalan. Sudah nunggu dari tadi siang pukul 12.30 WIB karena banyak yang mau nonton," kata salah satu warga, Wati, kepada detikJateng.

Kepala Desa Boja, Rofik Anwar, berujar pihaknya menggelar kirab Nyi Pandansari, atau Nyai Dapu, yang dikenal sebagai pendiri desa dan penyebar agama Islam di wilayah Boja.

"Ini peringatan Syawalan di desa Boja yang kami lakukan adalah kirab Nyi Pandansari atau Nyai Dapu. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Nyi Pandansari yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah Boja," kata Rofik Anwar kepada detikJateng.

Serunya warga berebut gunungan hasil bumi dalam kirab merayakan Syawalan di Desa/Kecamatan Boja, Kendal, Kamis (26/3/2026). Foto: Saktyo Dimas R/detikJateng

Rofik menjelaskan, pihaknya mengirab kain penutup makam (luwur) Nyai dapu dan dua gunungan. Kain luwur itu akan diganti dengan yang baru, sementara gunungan hasil bumi yang dikirab sebagai wujud syukur warga Desa Boja karena hasil pertaniannya melimpah.

"Kami juga mengkirabkan kain luwur makam Nyai Dapu yang baru untuk menggantikan kain yang lama. Dan dua gunungan hasil bumi itu sebagai wujud syukur warga Boja karena hasil buminya melimpah dan berkah dari Allah," jelasnya.

Dikatakan Rofik, kirab luwur Nyai Dapu dan gunungan hasil bumi itu adalah tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun.

"Tradisi syawalan, merti desa, kirab Nyai Dapu dan kirab gunungan hasil bumi itu saling terkait dan sudah menjadi tradisi tahunan dari dulu. Kami akan terus menjaga dan melestarikan tradisi ini sehingga tidak akan punah," terangnya.

"Dua gunungan hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan itu sebagai wujud syukur warga Boja terhadap Sang Pencipta," sambungnya.

Gunungan diarak keliling desa dengan iring-iringan pasukan pengawal Nyi Pandansari atau Nyai Dapu.

Warga Desa Bebengan, Emi, mengatakan, gunungannya dikirab mulai dari rest area Desa Boja hingga ke makam Nyai Dapu yang berjarak enam kilometer.

"Kirabnya Nyai Dapu dan dua gunungan itu mutar Desa Boja sampai ke makam Nyai Dapu. Ya jaraknya sekitar enam kilometer," kata Emi.

Belum sampai di depan kompleks makam, warga sudah mulai merangsek dan berebut gunungan hasil bumi meski sudah dihalau panitia. Pihak panitia kirab merasa kewalahan untuk mencegah warga tidak berebut gunungan hasil bumi ini sebelum prosesi syawalan selesai.




(apu/afn)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB