10 Tradisi Masyarakat Jawa Menyambut Ramadan, Ada Nyadran hingga Dugderan

10 Tradisi Masyarakat Jawa Menyambut Ramadan, Ada Nyadran hingga Dugderan

Angely Rahma - detikJateng
Minggu, 08 Feb 2026 13:22 WIB
Sejumlah warga berjalan beriringan membawa tenong berisi berbagai jenis makanan saat acara tradisi Merti Dusun di kawasan lereng Gunung Sumbing Desa Tanggulangin, Selopampang, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (4/2/2026). Tradisi turun temurun tersebut dilaksanakan masyarakat setempat untuk mendoakan arwah leluhur sekaligus merupakan wujud kerukunan dan ajang silaturahmi warga pedesaan. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.
Tradisi nyadran. (Foto: ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN)
Solo -

Menjelang bulan suci Ramadan, berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi khas yang masih dijaga hingga sekarang. Setiap daerah punya cara unik, seperti ziarah makam leluhur, mandi bersama di sungai, makan bersama keluarga, hingga ritual adat yang sarat makna spiritual.

Tradisi-tradisi tersebut menjadi bagian dari persiapan menyambut Ramadan. Selain sebagai bentuk penyucian diri, tradisi ini juga menjadi momen untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan mempersiapkan hati sebelum menjalankan ibadah puasa. Di balik pelaksanaannya, tradisi ini mencerminkan nilai religius sekaligus kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi kamu yang ingin mengetahui 10 tradisi masyarakat Jawa menyambut Ramadan, lengkap dengan makna dan latar belakang budayanya, berikut rangkuman tradisi yang masih dijalankan hingga sekarang. Yuk, simak sampai akhir!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tradisi Masyarakat Jawa Menyambut Ramadan

1. Tradisi Dugderan Semarang

Masyarakat Semarang memiliki cara khas untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan, salah satunya melalui Tradisi Dugderan. Tradisi tahunan ini sudah lama menjadi penanda bahwa bulan puasa akan segera dimulai sekaligus menjadi bagian penting dari identitas budaya Kota Semarang.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan keterangan di laman Dinas Pendidikan Kota Semarang, istilah Dugderan berasal dari bunyi "dug" yang melambangkan suara bedug serta "der" yang menggambarkan dentuman meriam. Kedua bunyi tersebut menjadi simbol pengumuman dimulainya bulan Ramadan kepada masyarakat.

Selain sarat makna religius, Dugderan juga memiliki nilai historis dan budaya. Tradisi ini berkembang menjadi perayaan rakyat yang menghadirkan beragam kegiatan budaya dan hiburan, sekaligus menjadi sarana masyarakat untuk merawat tradisi lokal sambil menyambut Ramadan dengan suasana penuh kegembiraan.

2. Tradisi Padusan di Klaten dan Boyolali

Tradisi Padusan menjadi salah satu cara masyarakat di Klaten dan Boyolali menyambut datangnya bulan Ramadan. Mengacu pada dokumen berjudul Mengkaji Fenomena Sekitar dalam Psikologi Indigenous karya Nessa Harmaspuri, padusan berasal dari kata adus yang berarti mandi, dan dimaknai sebagai proses penyucian diri sebelum memasuki bulan suci.

Dalam praktiknya, padusan dilakukan dengan dua cara berbeda, yakni secara adat dan secara personal oleh masyarakat umum. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membersihkan diri secara lahir dan batin.

Pada pelaksanaan adat, padusan diawali dengan arak-arakan tokoh masyarakat yang mengenakan busana tradisional Jawa, seperti beskap dan kebaya. Arak-arakan ini menuju salah satu sumber mata air, diiringi musik gamelan sebagai penanda dimulainya ritual.

Setelah sambutan singkat, dilakukan siraman simbolis kepada perwakilan laki-laki dan perempuan. Siraman ini dimaknai sebagai upaya meluruhkan kotoran dan hal-hal negatif dalam diri. Usai prosesi tersebut, para perwakilan mencelupkan tubuh ke sumber mata air sebagai tanda bahwa ritual padusan dapat diikuti oleh masyarakat luas.

Sementara itu, bagi masyarakat umum, padusan dilakukan dengan cara yang lebih sederhana. Ritual biasanya diawali dengan niat di dalam hati untuk membersihkan diri, kemudian mandi atau berendam di sumur, sendang, atau mata air. Proses mandi dilakukan dari kepala hingga kaki sebagai simbol penyucian raga. Setelah itu, masyarakat biasanya memanjatkan doa agar diberi kelancaran dalam menjalani ibadah puasa dan ditutup dengan berwudhu.

Tradisi padusan umumnya dilaksanakan sehari sebelum 1 Ramadan dan hingga kini masih dipertahankan sebagai bentuk persiapan spiritual sekaligus pelestarian budaya Jawa menjelang bulan suci.

3. Tradisi Perlon Unggahan Banyumas

Di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, masyarakat masih menjaga tradisi Perlon Unggahan sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadan. Mengacu pada informasi Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan umumnya dilakukan sekitar satu minggu sebelum bulan puasa dimulai.

Perlon Unggahan identik dengan kegiatan ziarah ke makam leluhur yang dilakukan tanpa alas kaki sambil membawa nasi ambeng. Perjalanan menuju lokasi ziarah kerap ditempuh dengan berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh, sebagai simbol ketulusan dan penghormatan kepada para pendahulu.

Setelah prosesi ziarah dan doa bersama, tradisi ini dilanjutkan dengan makan bersama. Beragam makanan tradisional seperti nasi bungkus, serundeng, dan sayur berkuah dibagikan kepada warga. Masyarakat meyakini makanan tersebut membawa keberkahan dan menjadi harapan baik dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.

4. Tradisi Nyadran Jawa Tengah

Tradisi Nyadran merupakan salah satu tradisi yang masih lekat dalam kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di Jawa Tengah. Mengacu pada informasi dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, istilah Nyadran berasal dari kata Sanskerta sraddha yang berarti keyakinan. Tradisi ini pada awalnya merupakan bentuk penghormatan dan doa bagi leluhur yang telah meninggal dunia, lalu berkembang menjadi adat yang sarat nilai budaya.

Nyadran dikenal juga dengan sebutan Ruwahan karena biasanya dilakukan pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa atau bulan Syaban dalam kalender Hijriah. Secara historis, Nyadran merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Islam, di mana unsur ziarah dan doa dipadukan dengan tradisi gotong royong masyarakat.

Nyadran dilakukan oleh masyarakat desa dengan tujuan mendoakan leluhur, menumbuhkan rasa syukur, serta menjaga keharmonisan sosial. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian.

Rangkaian Nyadran umumnya diawali dengan besik, yaitu membersihkan makam leluhur secara gotong royong. Setelah itu, di beberapa daerah dilanjutkan dengan kirab menuju lokasi upacara adat. Prosesi berlanjut dengan ujub, yakni penyampaian maksud dan tujuan Nyadran, lalu doa bersama yang dipimpin tokoh adat atau pemuka agama.

Setelah doa, masyarakat menggelar kembul bujono atau makan bersama. Setiap keluarga membawa makanan dari rumah untuk didoakan, kemudian dinikmati bersama sebagai simbol kebersamaan dan silaturahmi. Nyadran hingga kini masih dipertahankan sebagai tradisi menyambut Ramadan yang menguatkan nilai spiritual dan sosial masyarakat Jawa.

5. Tradisi Sadranan di Berbagai Daerah Jawa

Selain dikenal dengan sebutan Nyadran, tradisi ini juga disebut Sadranan di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Sadranan pada dasarnya memiliki makna dan tujuan yang sama, yakni menyambut Ramadan dengan mendoakan leluhur dan membersihkan makam keluarga.

Dalam praktiknya, Sadranan dilakukan dengan ziarah ke makam, membersihkan area pemakaman, serta memanjatkan doa agar para leluhur mendapat ampunan dan keberkahan. Tradisi ini lebih menekankan pada nilai spiritual dan sosial, terutama sebagai sarana refleksi diri menjelang bulan puasa.

Di beberapa daerah, Sadranan juga disertai dengan makan bersama atau pembagian makanan kepada warga sekitar. Kegiatan ini dimaknai sebagai wujud rasa syukur sekaligus upaya mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Meski istilah dan detail pelaksanaannya berbeda-beda, Sadranan tetap dipahami sebagai tradisi pra-Ramadan yang menekankan kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan kesiapan batin dalam menyambut bulan suci.

6. Tradisi Pisowanan Banyumas

Tradisi Pisowanan dikenal di wilayah Banyumas sebagai salah satu bentuk persiapan menyambut bulan Ramadan. Berdasarkan informasi dari Repository Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap, pisowanan dapat dimaknai sebagai ritual menghadap atau sowan kepada sesepuh.

Dalam konteks budaya, Pisowanan dilakukan dengan mengunjungi makam orang tua atau leluhur untuk memohon doa dan keberkahan sebelum memasuki bulan puasa. Tradisi ini mengajarkan nilai hormat kepada generasi terdahulu sekaligus memperkuat ikatan batin antar anggota keluarga.

Setelah prosesi ziarah, masyarakat biasanya melanjutkan kegiatan dengan kenduri atau makan bersama. Makanan dibagikan kepada keluarga dan warga sekitar sebagai bentuk rasa syukur. Dalam tradisi Pisowanan, kebersamaan dan silaturahmi menjadi nilai utama yang terus dijaga oleh masyarakat Banyumas hingga kini.

7. Tradisi Dandangan Kudus

Masyarakat Kudus memiliki tradisi Dandangan sebagai penanda datangnya bulan Ramadan. Berdasarkan informasi dari laman Pemerintah Kabupaten Kudus, tradisi ini digelar untuk menandai dimulainya ibadah puasa dan dipusatkan di kawasan Masjid Menara Kudus.

Nama Dandangan berasal dari bunyi bedug masjid yang terdengar nyaring "dhang, dhang". Bunyi inilah yang kemudian dimaknai sebagai isyarat bahwa bulan puasa akan segera dimulai. Puncak tradisi Dandangan ditandai dengan pemukulan bedug Masjid Menara Kudus sebagai simbol masuknya awal Ramadan.

Secara historis, Dandangan berawal dari kebiasaan para santri yang berkumpul di depan Masjid Menara Kudus untuk menunggu pengumuman awal puasa. Pada masa lalu, penetapan 1 Ramadan disampaikan langsung oleh Sunan Kudus melalui pemukulan bedug. Bedug pertama berfungsi mengumpulkan masyarakat, sedangkan bedug kedua dipukul setelah sholat Isya sebagai penanda resmi dimulainya puasa.

Dalam perkembangannya, tradisi ini tidak hanya dimaknai secara religius, tetapi juga berkembang menjadi perayaan rakyat. Momen Dandangan dimanfaatkan masyarakat untuk berjualan di sekitar masjid, sehingga kini tradisi ini juga dikenal sebagai pasar malam yang selalu ramai menjelang Ramadan.

8. Tradisi Baratan Jepara

Tradisi Baratan dikenal sebagai salah satu ritual masyarakat Jepara dalam menyambut bulan Ramadan. Mengacu pada publikasi ilmiah berjudul Tradisi Baratan di Kalinyamatan Jepara sebagai Sarana Pelestarian Nilai Sosial Budaya Masyarakat karya Diah Ayu Ning Tias, Baratan merupakan tradisi permohonan keselamatan yang dilaksanakan menjelang Ramadan.

Baratan umumnya digelar pada malam Nisfu Syaban dan diisi dengan kegiatan kirab yang melibatkan masyarakat setempat. Prosesi kirab kemudian dilanjutkan dengan doa bersama sebagai ungkapan harapan agar diberikan keselamatan, kelancaran, dan keberkahan selama menjalani ibadah puasa.

Tradisi Baratan sarat dengan nilai religius dan sosial. Nilai gotong royong dan solidaritas tercermin dari keterlibatan warga dalam menyiapkan perlengkapan kirab, seperti lampion, serta dalam pelaksanaan doa bersama. Selain itu, Baratan juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya lokal dan menjaga kebersamaan antarwarga menjelang datangnya Ramadan.

9. Tradisi Megengan Jawa Timur

Di Jawa Timur, masyarakat mengenal tradisi Megengan sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan Ramadan. Mengutip informasi dari laman Pemerintah Kabupaten Trenggalek, istilah megengan berasal dari bahasa Jawa yang berarti menahan, sebagai pengingat bahwa umat Islam akan segera memasuki bulan puasa.

Dalam tradisi ini, masyarakat biasanya melakukan ziarah ke makam leluhur, membersihkan makam, menabur bunga, serta memanjatkan doa. Di sejumlah daerah, kegiatan ini juga disertai pembacaan Yasin dan tahlil sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah meninggal dunia.

Selain ziarah, Megengan juga identik dengan kenduri atau selamatan. Masyarakat memasak makanan untuk dibagikan kepada keluarga dan tetangga, lalu berkumpul pada malam hari untuk berdoa bersama. Sedekah makanan, yang sering disebut ambeng, diyakini membawa manfaat bagi yang masih hidup sekaligus menjadi doa bagi mereka yang telah wafat.

Bagi masyarakat Jawa Timur, Megengan adalah warisan leluhur yang dianggap sakral dan perlu dijaga. Tradisi ini mengandung nilai hubungan harmonis antar manusia, hubungan spiritual dengan Tuhan, serta penghormatan terhadap leluhur menjelang datangnya bulan Ramadan.

10. Tradisi Ruwahan Jawa Tengah dan Yogyakarta

Tradisi Ruwahan merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan sebulan sebelum Ramadan, tepatnya pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa atau bulan Syaban dalam kalender Hijriah. Mengacu pada informasi dari laman Pemerintah Kabupaten Bantul, Ruwahan bertujuan untuk mengirim doa kepada para leluhur yang telah meninggal dunia, sekaligus menjadi momen saling memaafkan menjelang datangnya bulan suci.

Dalam pelaksanaannya, warga biasanya mendatangi makam keluarga dengan membawa berbagai makanan tradisional, seperti apem, ketan, kolak, pisang raja, nasi uduk, hingga ingkung. Setibanya di makam, masyarakat melakukan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Sementara itu, berdasarkan keterangan dari laman Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, dalam kepercayaan masyarakat Jawa, Ruwahan sering dimaknai sebagai ngluru arwah, yaitu upaya mengenang orang tua, saudara, atau kerabat yang telah meninggal dengan cara mendoakan mereka.

Rangkaian Ruwahan umumnya diawali dengan membersihkan makam, lalu dilanjutkan pembacaan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para arwah mendapat ampunan. Tradisi ini menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan mempersiapkan diri secara batin menjelang Ramadan.

Tradisi Menyambut Ramadan di Berbagai Daerah Pulau Jawa

1. Tradisi Nyorog Betawi

Selain di Jawa, masyarakat Betawi juga memiliki tradisi menyambut Ramadan yang dikenal dengan Nyorog. Berdasarkan publikasi ilmiah Nilai Sosial Tradisi Nyorog: Kearifan Lokal Masyarakat Betawi karya Vioreza dkk dalam jurnal SIPENDAS, Nyorog dilakukan dengan cara mengantarkan bingkisan makanan kepada keluarga atau kerabat yang lebih tua.

Tradisi ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-19 dan berkembang sebagai bagian dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya berbagi serta menjaga silaturahmi. Dalam praktiknya, masyarakat Betawi mengirimkan makanan kepada orang tua, paman, bibi, atau kerabat sepuh sebagai bentuk penghormatan menjelang Ramadan.

Nyorog tidak sekadar kegiatan berbagi makanan, tetapi juga mengandung nilai sosial yang kuat. Tradisi ini mengajarkan rasa hormat kepada orang tua, gotong royong, solidaritas, serta kebersamaan dalam keluarga dan lingkungan. Karena itu, Nyorog kerap dipandang sebagai tradisi yang relevan untuk menanamkan nilai-nilai sosial sejak usia dini.

2. Tradisi Munggahan Jawa Barat

Di Jawa Barat, masyarakat mengenal tradisi Munggahan sebagai penanda menjelang datangnya bulan Ramadan. Tradisi ini dilakukan dengan cara berkumpul bersama keluarga, sahabat, atau tetangga untuk makan bersama, bersalaman, dan saling memaafkan.

Menurut Tarlam dkk dalam jurnal Urwatul Wustqo berjudul Budaya Unik "Munggahan" Menjelang Bulan Ramadhan di Kabupaten Subang, Munggahan biasanya dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Syaban, beberapa hari sebelum Ramadhan dimulai. Kegiatan makan bersama dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan.

Selain makan bersama, Munggahan juga diisi dengan doa agar diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalani ibadah puasa. Tradisi ini menjadi momen refleksi diri, memperbaiki hubungan sosial, dan membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

3. Papajar (Cianjur, Jawa Barat)

Masyarakat Cianjur memiliki tradisi menyambut Ramadhan yang dikenal dengan Papajar. Menurut informasi dari publikasi ilmiah berjudul Tradisi Papajar dan Tradisi Munggahan dalam Perspektif Sosio-Kultural Masyarakat Cianjur oleh Rahmawati dkk dalam jurnal Etnoreflika: Jurnal Sosial dan Budaya, Istilah Papajar berasal dari frasa "mapag pajar" yang berarti menyambut fajar, sebagai simbol kesiapan spiritual menyambut ibadah puasa.

Tradisi Papajar awalnya dilakukan dengan berkumpul di Masjid Agung untuk menunggu pengumuman awal puasa dari ulama. Masyarakat membawa makanan dan bersama-sama mendengarkan penetapan waktu mulai Ramadhan.

Seiring waktu, tradisi ini mengalami pergeseran. Papajar kini lebih dikenal sebagai kegiatan piknik atau makan bersama keluarga dan kerabat di tempat wisata dengan membawa bekal makanan dari rumah. Meski bentuknya berubah, Papajar tetap dimaknai sebagai sarana doa dan saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

4. Kuramasan (Cianjur, Jawa Barat)

Berdasarkan informasi dari akun Instagram resmi @disbudpar.cianjur, masyarakat Cianjur juga memiliki tradisi mandi sebelum puasa yang dikenal dengan Kuramasan.

Tradisi ini dilakukan dengan mandi bersama di Sungai Cipandak, yang membelah wilayah Kampung Miduana. Kuramasan biasanya dilaksanakan sehari menjelang dimulainya ibadah puasa Ramadhan.

Ratusan warga berbondong-bondong mengikuti prosesi kuramasan dengan iringan musik rebana dan reog, mengenakan busana adat Sunda. Setelah mandi bersama, kegiatan dilanjutkan dengan acara makan bersama di tepi sungai yang disebut mayor.

Kuramasan merupakan tradisi mandi massal yang hingga kini masih terpelihara dan dijalankan secara turun-temurun sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Demikian rangkuman 10 tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut Ramadan yang masih lestari hingga kini lengkap dengan informasi mengenai tradisi lain di berbagai daerah di Pulau Jawa. Semoga tradisi-tradisi ini dapat menambah wawasan sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya menjaga nilai kebersamaan, spiritualitas, dan kearifan lokal.

Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(sto/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads