Sejarah dan Asal-Usul Ruwatan, Tradisi Jawa untuk Menangkal Nasib Buruk

Sejarah dan Asal-Usul Ruwatan, Tradisi Jawa untuk Menangkal Nasib Buruk

Angely Rahma - detikJateng
Jumat, 06 Feb 2026 16:05 WIB
Sejarah dan Asal-Usul Ruwatan, Tradisi Jawa untuk Menangkal Nasib Buruk
Ilustrasi ruwatan. Foto: dok. detikJateng
Solo -

Tradisi ruwatan merupakan salah satu ritual adat Jawa yang hingga kini masih dipercaya dan dijalankan oleh sebagian masyarakat. Upacara ini dikaitkan dengan upaya menolak bala, membebaskan diri dari kesialan, serta memohon keselamatan hidup.

Selain itu, Ruwatan sering dikaitkan dengan tokoh Batara Kala dan kelompok manusia yang disebut sukerta, yakni mereka yang dianggap memiliki kondisi tertentu sehingga perlu diruwat.

Bagi detikers yang penasaran dengan apa itu ruwatan, siapa saja yang perlu diruwat, bagaimana sejarahnya, hingga seperti apa tata cara dan prosesi ruwatan lengkap dengan sesajen yang digunakan, artikel ini akan membahasnya secara runtut. Simak yuk!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenal Apa Itu Ruwatan

Ruwatan merupakan salah satu tradisi penting dalam budaya Jawa yang hingga kini masih dijalankan oleh sebagian masyarakat.

ADVERTISEMENT

Mengutip publikasi ilmiah Interaksi Sosial Makna Simbolik Tradisi Ruwatan Masyarakat Jawa karya Kumaidi dan Fahrudi dalam jurnal Kajian Islam Al Kamal, istilah ruwat berasal dari kata luwar yang berarti terbebas atau terlepas.

Dari makna tersebut, ruwatan dipahami sebagai upaya untuk membebaskan seseorang dari ancaman bencana, kesialan, atau mara bahaya yang diyakini dapat menimpa hidupnya.

Pemahaman serupa juga dijelaskan dalam buku Sastra Lisan Nusantara: Tradisi yang Tak Lekang Waktu karya Azlin Resiana dkk. Dalam buku tersebut, ruwatan digambarkan sebagai sebuah upacara yang ditujukan bagi orang-orang yang termasuk dalam kelompok sukerta, yakni individu yang dipercaya berada dalam kondisi rawan tertimpa malapetaka.

Dalam kepercayaan Jawa, kelompok sukerta diyakini bisa menjadi sasaran Batara Kala apabila tidak diruwat. Karena itulah, upacara ruwatan terus dilakukan secara turun-temurun dan bahkan kerap dilaksanakan secara rutin setiap tahun.

Melalui prosesi ruwatan, masyarakat berharap orang yang diruwat dapat terlepas dari penyakit, kesialan, serta berbagai bentuk nasib buruk yang diyakini mengiringi kehidupannya.

Bagi sebagian orang, ruwatan bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari tata cara hidup yang harus dipenuhi agar batin merasa tenang dan terbebas dari beban kewajiban adat.

Sejarah dan Asal-Usul Ruwatan

Mengutip laman resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal, asal-usul tradisi ruwatan berangkat dari kepercayaan tentang sosok mitologis Batara Kala.

Dalam cerita rakyat Jawa, Batara Kala digambarkan sebagai raksasa yang kerap membawa bencana dan gemar memangsa manusia di bumi, khususnya mereka yang termasuk golongan sukerta.

Untuk menghentikan ancaman tersebut, diceritakan seorang dalang sepuh menantang Batara Kala agar berhenti memakan manusia sukerta. Tantangan itu disertai syarat bahwa sang dalang harus mampu menjelaskan asal-usul atau jati diri Batara Kala dengan membaca rajah atau tulisan yang terdapat di beberapa bagian tubuhnya.

Setelah Batara Kala setuju, dalang tersebut kemudian melakukan ruwatan terhadap Batara Kala agar ia sembuh dan tidak lagi membawa bencana bagi manusia.

Sejarah ruwatan juga dijelaskan dalam buku Sastra Lisan Nusantara: Tradisi yang Tak Lekang Waktu karya Azlin Resiana dkk. Disebutkan bahwa ruwatan dengan lakon Murwakala mulai dipertunjukkan pada awal abad ke-17, tepatnya pada masa Sunan Nyakrawati Seda Krapyak.

Upacara ini dipentaskan oleh dalang Anjeng Mas yang berasal dari wilayah Kedu. Pada masa tersebut, Sunan melakukan pembaruan dengan mengubah media ruwatan yang sebelumnya menggunakan wayang beber atau wayang topeng menjadi pertunjukan wayang kulit, dengan cerita Batara Kala atau Dumadine Kala.

Sejak saat itu, pola ruwatan dengan pertunjukan wayang kulit purwa berlakon Murwakala terus digunakan sebagai pedoman utama dalam pelaksanaan ruwatan. Tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga menyebar luas dan dilaksanakan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Bahkan, upacara ruwatan Murwakala tercatat telah berlangsung sejak awal abad ke-17 hingga masih dijalankan pada abad ke-21 sebagai bagian dari warisan budaya Jawa yang terus hidup.

Orang-Orang yang Perlu Diruwat

Dalam publikasi ilmiah Interaksi Sosial Makna Simbolik Tradisi Ruwatan Masyarakat Jawa karya Kumaidi dan Fahrudi dalam jurnal Kajian Islam Al Kamal, dijelaskan bahwa ruwatan umumnya diperuntukkan bagi orang-orang yang dianggap masuk dalam kategori sukerta.

Beberapa golongan yang secara tradisional dipercaya perlu menjalani ruwatan antara lain:

  • Ontang-anting, yaitu anak tunggal laki-laki.
  • Unting-unting, anak tunggal perempuan.
  • Kedana-kedini, dua saudara kandung yang terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan.
  • Uger-uger lawang, dua bersaudara laki-laki.
  • Kembang sepasang, dua bersaudara perempuan.
  • Dampit, anak kembar laki-laki dan perempuan.
  • Pendawa, lima bersaudara yang seluruhnya laki-laki.
  • Pendawi, lima bersaudara yang seluruhnya perempuan.
  • Gondang kasih, dua anak dengan perbedaan warna kulit yang sangat mencolok, hitam dan putih.
  • Lumunting, anak yang lahir di antara dua saudara yang telah meninggal dunia.
  • Julung wangi, anak yang lahir bertepatan dengan terbitnya matahari.
  • Julung pujud, anak yang lahir tepat saat matahari terbenam atau waktu senja.
  • Margana, anak yang lahir saat ibunya sedang dalam perjalanan.

Selain berdasarkan kondisi kelahiran dan susunan keluarga, seseorang juga dipercaya perlu diruwat jika pernah melakukan tindakan-tindakan tertentu yang dianggap melanggar tatanan simbolik, seperti menjatuhkan dandang, mematahkan batu gilasan, menaruh beras ke dalam lesung, membakar rambut atau tulang, serta membuat pagar sebelum rumah selesai dibangun.

Jenis-jenis Ruwatan

Masih merujuk buku Sastra Lisan Nusantara: Tradisi yang Tak Lekang Waktu karya Azlin Resiana dkk., ruwatan dalam tradisi Jawa secara umum dibagi ke dalam tiga jenis ritual utama berdasarkan tujuan dan maknanya.

1. Ruwatan Murwakala

Ruwatan murwakala, yaitu rangkaian upacara yang bertujuan membebaskan manusia terutama mereka yang tergolong sukerta dari ancaman Batara Kala.

Ruwatan ini merupakan bentuk ruwatan yang paling dikenal dan dianggap paling lengkap. Pelaksanaannya umumnya disertai pertunjukan wayang kulit purwa dengan lakon Murwakala, yang menggambarkan proses pelepasan manusia dari ancaman malapetaka.

2. Ruwatan Makukuhan

Ruwatan makukuhan atau yang juga dikenal sebagai ruwat bumi. Jenis ruwatan ini berfokus pada pembersihan tempat atau wilayah tertentu, seperti pekarangan rumah, lahan pertanian, tempat usaha, hingga kawasan permukiman.

Ruwatan Makukuhan dilakukan dengan tujuan menolak bala, menghilangkan energi negatif, serta memohon keselamatan dan kelancaran rezeki bagi orang-orang yang menempati atau memanfaatkan tempat tersebut.

3. Ruwatan Sudamala

Ruwatan sudamala, yaitu ruwatan yang menitikberatkan pada pembersihan batin dan kondisi psikologis seseorang. Ruwatan ini berfungsi sebagai sarana untuk melepaskan diri dari perasaan negatif, rasa bersalah, atau kegelisahan batin, sekaligus menumbuhkan sikap ikhlas dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari berbagai mara bahaya.

Dalam pelaksanaannya, ketiga jenis ruwatan tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara atau bentuk prosesi. Secara umum, ruwatan dikenal melalui tiga cara utama.

  • Pertama, ruwatan Rasulan, yakni ruwatan yang dilakukan secara sederhana melalui selamatan tanpa pertunjukan wayang. Bentuk ini biasanya dipilih oleh masyarakat dengan keterbatasan tertentu, namun tetap mengandung makna spiritual sebagai permohonan keselamatan.
  • Kedua, ruwatan dengan pertunjukan wayang beber, yang membawakan lakon Jangkung Kuning. Lakon ini juga dikenal dalam tradisi wayang gedog dan digunakan sebagai sarana simbolik untuk membersihkan diri dari kesialan.
  • Ketiga, ruwatan dengan pertunjukan wayang kulit, khususnya dengan lakon Murwakala, yang menjadi bentuk ruwatan paling lengkap dan paling umum dikenal dalam masyarakat Jawa.

Tata Cara dan Prosesi Ruwatan

Ruwatan yang disertai pertunjukan wayang kulit memiliki rangkaian prosesi yang terstruktur dan berurutan. Berikut penjelasannya dirangkum dari buku Sastra Lisan Nusantara: Tradisi yang Tak Lekang Waktu karya Azlin Resiana dkk.

1. Persiapan Perlengkapan Ruwatan

Prosesi diawali dengan menyiapkan perlengkapan utama, antara lain satu perangkat gamelan, satu kotak wayang kulit, kelir sebagai layar pertunjukan, serta blencong sebagai sumber pencahayaan. Selain itu, disiapkan pula sesajen yang akan digunakan dalam rangkaian ritual.

2. Penunjukan Dalang Ruwatan

Dalang memiliki peran sentral dalam ruwatan. Dalang yang membawakan lakon Murwakala tidak boleh sembarangan, melainkan dalang sejati yang berasal dari keturunan keluarga dalang dan secara silsilah diyakini memiliki garis keturunan dari dalang Kyai Panjangmas.

Umumnya, dalang ruwatan adalah mereka yang telah matang secara spiritual dan keilmuan, atau setidaknya telah menikahkan anaknya (telah mantu).

3. Pelaksanaan Pertunjukan Wayang Kulit

Prosesi utama ruwatan ditandai dengan pertunjukan wayang kulit yang membawakan lakon Murwakala. Dalam pertunjukan ini, dalang menjalankan alur cerita pewayangan dengan menghadirkan tokoh-tokoh khusus, terutama tokoh Murwakala sebagai simbol bahaya dan kesialan yang harus dilepaskan.

4. Pembacaan Doa dan Mantra Jawa

Selama pertunjukan berlangsung, dalang membacakan doa-doa atau mantra Jawa yang diiringi gamelan dan gending tertentu. Iringan ini dipercaya memiliki fungsi spiritual untuk menolak bala atau bahaya yang dilambangkan dengan Batara Kala.

5. Ritual Siraman dan Penyucian Diri

Setelah pertunjukan wayang selesai, prosesi dilanjutkan dengan ritual siraman. Peserta ruwatan dibasuh kepalanya menggunakan air kembang yang telah didoakan, biasanya terdiri dari bunga mawar, kenanga, dan melati. Siraman ini dimaknai sebagai proses penyucian diri secara lahiriah.

6. Pemotongan Rambut

Tahap selanjutnya adalah pemotongan sebagian rambut peserta ruwatan. Ritual ini melambangkan pembuangan segala hal buruk, kesialan, dan unsur negatif yang melekat pada diri seseorang.

7. Penyerahan Sarana dan Tirakatan

Prosesi ruwatan ditutup dengan penyerahan sarana ruwatan serta pelaksanaan tirakatan. Tahap ini mencerminkan ungkapan rasa syukur dan doa kepada Allah SWT atas perlindungan dan keselamatan yang diharapkan, sekaligus sebagai simbol penyerahan diri secara ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setiap tahapan dalam prosesi ruwatan mengandung makna filosofis. Wayang dipandang sebagai cerminan kehidupan manusia, sementara rangkaian ritualnya menggambarkan harapan manusia untuk terbebas dari marabahaya, memperoleh keselamatan, serta menjalani kehidupan yang lebih baik dan harmonis.

Sesajen yang Digunakan dalam Ritual Ruwatan

Berdasarkan publikasi ilmiah Interaksi Sosial Makna Simbolik Tradisi Ruwatan Masyarakat Jawa karya Kumaidi dan Fahrudi dalam Jurnal Kajian Islam Al Kamal, ritual ruwatan dilengkapi dengan berbagai sesajen yang masing-masing memiliki makna simbolik. Sesajen tersebut antara lain:

  • Nasi golong, dimaknai sebagai harapan agar rezeki yang diperoleh senantiasa lancar.
  • Pisang raja, melambangkan doa agar segala keinginan dan cita-cita dapat tercapai.
  • Tuwuhan, berasal dari kata tuwuh (tumbuh), yang bermakna harapan akan kehidupan yang makmur dan tenteram.
  • Daun alang-alang, melambangkan keteguhan dalam menghadapi rintangan dan hambatan hidup.
  • Daun kluwih, dimaknai sebagai simbol kecukupan dan kelebihan rezeki.
  • Suruh, digunakan sebagai sarana tolak balak agar terhindar dari malapetaka.
  • Gambir, melambangkan kesejahteraan dalam kehidupan.
  • Air tujuh sumber, memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan tujuh lubang pada tubuh manusia, yaitu: hidung (mengeluarkan ingus), mata (air mata), bibir (air ludah), telinga (kotoran telinga), kemaluan (air mani), anus (kotoran), dan seluruh tubuh (keringat). Air tujuh sumber ini dimaknai sebagai simbol penyucian diri secara menyeluruh.
  • Dupa, digunakan sebagai simbol harapan akan kehidupan yang tentram dan sejahtera.
  • Kendi, berfungsi sebagai tempat air yang dimaknai sebagai air suci, asli, dan bersih.
  • Nasi kuning, melambangkan harapan akan rezeki yang berlimpah.
  • Tumpeng, dimaknai sebagai wujud rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan.
  • Jajanan pasar, melambangkan kelancaran dalam pemenuhan kebutuhan pangan.
  • Padi, menjadi simbol kemakmuran dan harapan akan kecukupan dalam kehidupan.

Selain sesajen-sesajen tersebut, masih terdapat berbagai perlengkapan lain yang dapat digunakan dalam ritual ruwatan sesuai dengan tradisi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Demikian ulasan mengenai sejarah dan asal-usul ruwatan sebagai salah satu tradisi Jawa yang sarat makna dan nilai budaya.

Semoga artikel ini dapat menambah wawasan detikers tentang kekayaan tradisi Nusantara serta membantu memahami tradisi ruwatan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa.

Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(par/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads