8 Nama Tahun Kalender Jawa: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir

8 Nama Tahun Kalender Jawa: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir

Sri Wahyuni Oktafia - detikJateng
Rabu, 28 Jan 2026 12:35 WIB
Kalender Jawa Jumadilawal 2025 Lengkap dengan Weton dan Tanggalan Islam
Ilustrasi kalender Jawa. (Foto: Gemini AI)
Solo -

Masyarakat Jawa memiliki ciri khas tersendiri dalam menentukan penanggalan atau kalender dalam satu tahun. Penanggalan digunakan untuk berbagai hal, seperti penentuan hari baik, hari naas, waktu pelaksanaan adat ataupun tradisi, dan lain sebagainya. Dalam sistem penanggalan kalender Jawa, satu tahun terdiri atas 354 3/8 hari.

Kalender Jawa merupakan sebuah kalender perpaduan pengaruh Hindu-Buddha, Jawa, dan Islam. Sistem penanggalan ini tergolong unik karena merupakan salah satu prestasi dari Sultan Agung. Dalam kalender Jawa, terdapat 8 tahun yang digunakan secara berurutan dan akan berulang jika sudah mencapai tahun ke-8.

Lantas apa saja nama-nama tahun kalender Jawa tersebut? Berikut ini informasi mengenai kalender Jawa mulai dari sejarah awalnya hingga rincian nama-nama tahunnya. Penjelasan ini dihimpun dari tesis yang berjudul 'Kalender Jawa Islam Sultan Agungan di Kesultanan Yogyakarta' (2022) oleh Siti Marhamah dan artikel jurnal berjudul 'Islamic Effect on Calendar of Javanese Community' (2017) oleh Masruhan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penanggalan Jawa Pra-Islam

Perkembangan kalender Jawa dipengaruhi oleh agama dan budaya yang datang ke pulau Jawa. Sebelum datangnya Islam, sudah ada dua jenis kalender yang digunakan oleh masyarakat Jawa. Pertama, kalender yang dipakai untuk menandai musim yang disebut dengan kalender Pranatamangsa dan kedua, kalender Saka yang dilandaskan pada sistem kalender agama Hindu.

ADVERTISEMENT

1. Kalender Pranatamangsa

Kalender ini digunakan oleh para petani dengan tujuan untuk pedoman bercocok tanam dan bekerja. Sistem kalender ini merupakan sistem kalender asli yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Sistem kalender ini disusun berdasarkan hasil pengamatan terhadap peristiwa alam yang terjadi di bumi dan di langit. Hingga saat ini, sistem pranatamangsa masih digunakan oleh sebagian kecil masyarakat Jawa.

2. Kalender Saka

Di pulau Jawa pernah berlaku sistem penanggalan soko, suatu sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaran matahari mengelilingi bumi. Tahun Saka berjumlah 365/366 hari yang terdiri dari 12 bulan. Rincian bulan dalam kalender Saka adalah Srawanamasa, Bhadeawadamasa, Asujimasa, Kartikamasa, Margasimarasa, Posyamasa, Maghasama, Phalgunamasa, Cetramasa, Wesakhamasa, Jyesthamasa, dan Asadhamasa.

Kalender Jawa Islam Sultan Agungan

Pada abad ke-14 M, ketika masyarakat Jawa telah mengenal agama Islam dan menganutnya, muncul kerajaan bercorak Islam yaitu Mataram Islam. Akan tetapi sistem kalender yang digunakan masih bercorak Hindu-Buddha. Kemudian barulah pada abad ke-17, Sultan Agung mengkonversi kalender Saka menjadi kalender Jawa-Islam. Kalender ini berpatokan pada peredaran bulan mengelilingi bumi.

Sistem penanggalan Jawa ini merupakan perpaduan dari sistem kalender Saka dengan sistem kalender Hijriyah. Kalender Jawa mulai diterapkan pada tanggal 1 Muharram tahun 1043 H atau bertepatan pada hari Jumat Legi tanggal 8 Juli 1633 M. Sultan Agung tetap melanjutkan bilangan tahun Saka sebagai permulaan bilangan tahun Jawa-Islam, yakni 1555 tahun Jawa.

Kalender Jawa Islam Sultan Agungan tergolong sistem kalender aritmatik yang disusun berdasarkan perhitungan matematika dengan ketentuan rumus-rumus yang telah ditetapkan. Satu tahun kalender Jawa berumur 354 3/8 hari. Satu daur atau siklus berlangsung selama 8 tahun, disebut Windu. Dalam satu windu setiap tahunnya memiliki nama yang berbeda. Nama-nama tahun tersebut antara lain:

  1. Tahun Alip (berjumlah 354 hari)
  2. Tahun Ehe (berjumlah 355 hari)
  3. Tahun Jimawal (berjumlah 354 hari)
  4. Tahun Je (berjumlah 354 hari)
  5. Tahun Dal (berjumlah 355 hari)
  6. Tahun Be (berjumlah 354 hari)
  7. Tahun Wawu (berjumlah 354 hari)
  8. Tahun Jimakir (berjumlah 355 hari)

Dalam kalender Jawa, terdapat 3 tahun yang terdiri dari 355 hari yang disebut dengan Wuntu (tahun panjang) dan 5 tahun yang terdiri dari 354 hari yang disebut dengan Wastu (tahun pendek). Adanya perbedaan jumlah hari dalam tahun kalender Jawa sangat terpengaruh oleh adat budaya Jawa yang menginginkan hal-hal sederhana dalam urusan sehari-hari, termasuk dalam sistem penanggalan mereka.

Selain untuk memudahkan masyarakat Jawa pada saat itu, tujuan Sultan Agung mengubah kalender Saka menjadi kalender Jawa-Islam adalah untuk menyebarkan agama Islam. Oleh sebab itu, keputusan Sultan Agung kemudian diikuti oleh Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir (1596-1651) yang berkuasa di Banten.

Nah itulah nama-nama tahun dalam kalender Jawa detikers. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuanmu ya!

Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(sto/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads