Kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia hadir dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk melalui permainan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Cublak-cublak suweng merupakan satu dari sekian banyak permainan tradisional Jawa Tengah (Jateng) yang seru dan menyenangkan. Bagaimana cara mainnya?
Dikutip dari laman Binus University, permainan tradisional umumnya dimainkan secara berkelompok, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga membangun interaksi, rasa kebersamaan, serta kepedulian antarindividu sejak usia dini.
Kekayaan permainan tradisional tersebut juga terlihat jelas di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, yang memiliki beragam dolanan anak yang masih dikenal hingga sekarang. Mulai dari gobak sodor, dakon, hingga bekel, permainan ini menjadi bagian dari keseharian anak-anak pada masanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, beberapa dolanan tidak hanya mengandalkan gerak, tetapi juga diiringi lagu atau lirik, seperti cublak-cublak suweng. Dolanan ini termasuk dalam tradisi lisan masyarakat Jawa yang sarat makna, meski pesan yang terkandung di dalamnya kerap luput dari perhatian banyak orang.
Lantas, seperti apa asal-usul permainan cublak-cublak suweng, bagaimana cara memainkannya, serta seperti apa lirik lagunya? Simak penjelasannya berikut ini.
Mengenal Cublak-Cublak Suweng dan Sejarahnya
Cublak-cublak suweng merupakan salah satu permainan tradisional yang berasal dari Jawa Tengah dan telah dikenal sejak lama oleh masyarakat setempat. Selain sebagai hiburan anak-anak, permainan ini juga menjadi bagian dari tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Dikutip dari publikasi ilmiah berjudul Kearifan Lokal Permainan Tradisional Cublak-cublak Suweng sebagai Media untuk Mengembangkan Kemampuan Sosial dan Moral Anak Usia Dini karya Irfan Haris dalam Jurnal AUDI Volume 1 Nomor 1, sejarah cublak-cublak suweng tidak dapat dilepaskan dari peran Wali Songo, tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa.
Lagu yang mengiringi permainan ini diyakini diciptakan sebagai bagian dari media dakwah yang mudah diterima masyarakat. Meski demikian, sosok penciptanya hingga kini masih menjadi perdebatan.
Sejumlah sumber menyebutkan tembang cublak-cublak suweng merupakan karya Maulana Ainul Yakin atau biasa dikenal dengan Sunan Giri sekitar tahun 1442 M, sementara sumber lain mengaitkannya dengan Sunan Kalijaga. Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa dolanan tersebut telah hidup sejak masa awal penyebaran Islam di tanah Jawa.
Lebih jauh, penggunaan permainan dan lagu sebagai sarana dakwah mencerminkan kecerdikan para wali dalam menyampaikan ajaran agama melalui pendekatan budaya. Selain berperan sebagai wali, Sunan Giri juga dikenal sebagai budayawan yang memanfaatkan seni dan permainan rakyat sebagai media pendidikan moral. Karena latar belakang itulah, cublak-cublak suweng hingga kini dipandang sebagai warisan budaya yang mengandung nilai filosofi mendalam.
Cara Main Cublak-Cublak Suweng
Permainan cublak-cublak suweng dapat dimainkan oleh sekitar tiga hingga lima anak dengan satu benda kecil seperti kerikil atau biji-bijian sebagai properti utama.
Mengacu pada publikasi ilmiah berjudul Permainan Tradisional Cublak-cublak Suweng dari Provinsi Yogyakarta dan Pembentukan Karakter Tanggung Jawab pada Peserta Didik MI/SD di Indonesia karya Ervanda dan Fuadah dalam Jurnal El-Ibtidaiyah: Journal of Primary Education Volume 3 Nomor 2, berikut tahapan permainan cublak-cublak suweng:
1. Menentukan Pak Empong
Seluruh pemain melakukan hompimpa atau gambreng. Anak yang kalah akan menjadi Pak Empong dan berbaring telungkup di tengah arena permainan.
2. Posisi pemain
Pemain lain duduk melingkari Pak Empong. Seluruh pemain membuka telapak tangan menghadap ke atas dan meletakkannya di punggung Pak Empong.
3. Perpindahan kerikil
Salah satu pemain memegang kerikil atau biji-bijian, lalu memindahkannya dari satu telapak tangan ke telapak tangan lain sambil menyanyikan lagu cublak-cublak suweng.
4. Menyembunyikan kerikil
Saat lagu sampai pada bagian 'sopo mau sing delekke', kerikil diserahkan kepada salah satu pemain untuk disembunyikan di dalam genggaman tangan.
5. Pura-pura menyimpan
Setelah lagu selesai, seluruh pemain menggenggam kedua tangan dan berpura-pura menyimpan kerikil sambil menggerak-gerakkan tangan agar tidak mudah ditebak.
6. Menebak kerikil
Pak Empong kemudian bangun dan menebak di tangan siapa kerikil disembunyikan. Jika tebakan benar, pemain yang menyimpan kerikil bergantian menjadi Pak Empo. Jika salah, Pak Empong tetap melanjutkan perannya dan permainan diulang.
Lirik Lagu Cublak-Cublak Suweng
Permainan cublak-cublak suweng tidak bisa dilepaskan dari lagu yang mengiringinya. Dikutip dari laman Binus University, lagu dolanan memiliki porsi yang tepat untuk anak-anak karena temanya sederhana namun sarat pesan pendidikan. Hal ini juga tercermin dalam dolanan cublak-cublak suweng, yang menggabungkan permainan, gerak, dan nyanyian dalam satu kesatuan.
Adapun lirik lagu cublak-cublak suweng beserta makna dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
Cublak-cublak suweng
(tempat anting)
Suwenge ting gelenter
(antingnya berserakan)
Mambu ketundhung gudel
(berbau anak kerbau yang terlepas)
Pak empong lera-lere
(bapak ompong yang menggeleng-gelengkan kepala)
Sapa ngguyu ndhelikkake
(siapa yang tertawa, dialah yang menyembunyikan)
Sir sir pong dhele kopong
(kedelai kosong, tidak ada isinya)
Filosofi Dibalik Lagu Cublak-Cublak Suweng
Di balik liriknya yang sederhana, lagu dolanan cublak-cublak suweng menyimpan pesan filosofis yang cukup dalam. Mengacu pada publikasi ilmiah berjudul Kearifan Lokal Permainan Tradisional Cublak-cublak Suweng sebagai Media untuk Mengembangkan Kemampuan Sosial dan Moral Anak Usia Dini karya Irfan Haris dalam Jurnal AUDI Volume 1 Nomor 1, setiap bait dalam lagu ini menggambarkan pencarian manusia terhadap makna kebahagiaan sejati.
Bait cublak-cublak suweng merujuk pada tempat menyimpan suweng atau anting, yang dalam budaya Jawa dimaknai sebagai simbol harta berharga. Namun, suweng tidak hanya dimaknai sebagai perhiasan fisik, melainkan juga sebagai lambang 'suwung' atau kekosongan yang sejati, yakni kebahagiaan batin. Pada bagian suwenge ting gelenter, dijelaskan harta sejati tersebut sesungguhnya sudah tersebar di sekitar manusia, hanya saja sering kali tidak disadari keberadaannya.
Makna pencarian yang keliru tergambar dalam bait mambu ketundhung gudel. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa gudel atau anak kerbau melambangkan kebodohan dan nafsu yang tidak terkendali. Banyak orang mengejar kebahagiaan dengan cara serakah, menghalalkan berbagai cara, dan terjebak pada ambisi duniawi. Kondisi ini diperkuat melalui bait pak empong lera-lere, yang menggambarkan sosok kebingungan. Meski memiliki harta berlimpah, mereka tetap merasa kosong karena yang dikejar bukanlah kebahagiaan sejati.
Sementara itu, bait sopo ngguyu ndhelikake menyiratkan bahwa orang yang bijaklah yang mampu menemukan harta sejati tersebut. Sosok ini digambarkan sebagai pribadi yang mampu tersenyum, bersikap sumeleh, dan tetap tenang meski berada di tengah kehidupan yang dipenuhi keserakahan. Adapun bait penutup sir-sir pong dele kopong menekankan pentingnya hati nurani yang bersih. Untuk mencapai kebahagiaan sejati, manusia perlu mengosongkan diri dari kecintaan berlebihan pada harta dunia, bersikap rendah hati, serta senantiasa mengasah kepekaan rasa dan nurani.
Secara keseluruhan, lagu cublak-cublak suweng mengajarkan bahwa pencarian harta dan kebahagiaan tidak seharusnya dikendalikan oleh hawa nafsu. Sebaliknya, kebahagiaan sejati justru lahir dari hati nurani yang jernih dan sikap hidup yang bijaksana.
Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(par/afn)
