Wayang bengkong merupakan kesenian asal Lasem yang telah ada sejak tahun 1700-an. Pertunjukan wayang itu tak meriah seperti pertunjukan pada umumnya.
Aroma dupa perlahan memenuhi Aula Museum Nyah Lasem, Rembang, Rabu (27/8/2025) malam. Sesaji berupa ketupat, jajanan pasar, hingga seekor ayam hidup tertata di depan panggung kecil.
Di tengah hening, Dalang Ki Wasis menundukkan kepala, memanjatkan doa sebelum menyalakan pertunjukan wayang bengkong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ada panggung megah, tak ada denting gamelan yang riuh. Hanya suara beberapa orang pengiring Ki Wasis yang menirukan bunyi gamelan dengan mulutnya. Suaranya mengalun, menciptakan atmosfer magis.
Di tangannya, tiga wayang kayu berukuran sederhana bergerak pelan. Tokoh-tokoh itu adalah Mbah Semar Donoroso, Raden Panji Kartolo, dan Dewi Sri.
"Sejak leluhur saya, bentuknya begini. Tidak pernah berubah. Wayangnya kayu, tangannya dari kulit. Musiknya sederhana, hanya suara mulut. Tapi inilah warisan leluhur kami," kata Ki Wasis, dalang generasi kelima yang mewarisi tradisi sejak tahun 1700-an yang lalu, saat ditemui detikJateng.
![]() |
Cerita yang Dekat dengan Warga
Wayang bengkong tidak bercerita tentang Mahabharata atau Ramayana. Lakonnya mengikuti hajat penanggap. Saat hajatan pernikahan, cerita berisi pesan rumah tangga.
Saat khitanan, kisahnya menyinggung soal wejangan hidup. Semua dibawakan dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami warga.
"Kalau bukan keluarga yang mementaskan, biasanya ada balanya. Kepercayaannya seperti itu. Karena itu wayang ini disebut Wayang Bengkong Mbah Donoroso. Sakral sifatnya," ujar Ki Wasis.
Keunikan ini membuat wayang bengkong pernah mendapat sorotan di Festival Wayang Langka Jawa Tengah, Universitas Negeri Semarang, 2013 silam.
![]() |
"Saat itu tahun 2013 itu di Unnes di Gedung B6 FBS Unnes itu ada acara festival wayang langka Jawa Tengah tahun 2013. Dari Dewan Kesenian Jawa Tengah itu mereka menggugah kembali wayang-wayang yang langka dan unik dan tidak bisa dibandingkan dengan wayang-wayang yang lain. Karena memang memiliki keunikan," jelas Gilang Surya Saputra, pegiat kebudayaan di Lasem.
"Itu ada beberapa wayang, dan salah satunya itu adalah wayang bengkong. Dan wayang bengkong itu sendiri menjadi penyaji favorit di tahun 2013, berdasarkan dari Dewan Kesenian Jawa Tengah pada saat itu. Selain wayang bengkong dulu ada wayang gemblung dari Kebumen dan juga ada Wayang Krucil yang sama-sama dari kayu," sambung Gilang yang juga Ketua Yayasan Lasem Heritage.
"Wayang bengkong jadi penyaji favorit. Karena memang berbeda dengan wayang keraton. Wayang rakyat seperti ini ceritanya lebih interaktif, dekat dengan keseharian masyarakat," imbuh Gilang.
Di tengah gempuran hiburan modern, wayang bengkong tetap hidup, meski terbatas di tangan keluarga pewarisnya. Bagi warga Lasem, pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan doa, wejangan, sekaligus pengingat bahwa warisan leluhur tidak boleh putus begitu saja.
(afn/apu)